September 16, 2026
Sosial

Munas Ke-4 HIMKI Tetapkan Arah Baru Organisasi, Abdul Sobur Kembali Dipercaya secara Aklamasi

Badung – kabarbalihits

Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) di The Trans Resort Bali menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang akan menjadi landasan penguatan organisasi dan arah pengembangan industri mebel dan kerajinan nasional pada periode mendatang.

Munas yang berlangsung dalam suasana demokratis, tertib, dan penuh kebersamaan tersebut mengesahkan amandemen Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO), menyelesaikan proses suksesi kepemimpinan, serta meluncurkan Grand Strategy Plan (GSP) Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia sebagai peta jalan bersama menuju penguatan daya saing industri nasional.

GSP tersebut dibangun bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi Bali, serta kementerian, lembaga, asosiasi, dan pemangku kepentingan terkait. Dokumen strategis ini akan menjadi rujukan kolaboratif dalam memperkuat pasar domestik, meningkatkan ekspor, mengembangkan desain dan inovasi, membangun sumber daya manusia unggul, memperluas akses bahan baku berkelanjutan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri mebel dan kerajinan global.

Dalam agenda suksesi, peserta Munas terlebih dahulu memilih sembilan anggota formatur secara demokratis. Kesembilan formatur tersebut kemudian, melalui musyawarah secara bulat dan aklamasi, kembali memberikan amanah kepada Abdul Sobur untuk memimpin HIMKI.

Keputusan tersebut diambil dalam suasana sidang yang sangat kondusif dan disaksikan sekitar 120 peserta Munas yang mewakili unsur Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah, anggota, senior, serta pemangku kepentingan HIMKI dari berbagai wilayah Indonesia.

Abdul Sobur sebelumnya telah menyatakan tidak bersedia dicalonkan sebagai anggota formatur karena ingin membuka ruang seluas-luasnya bagi kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan. Namun, keputusan bulat sembilan formatur dan kuatnya aspirasi peserta Munas membuat amanah tersebut kembali dipercayakan kepadanya.

Baca Juga :  Pra HUT ke 20, DPC Baladika Bali Angunggah Shanti Kota Denpasar Baksos ke Sejumlah Tempat

“Sejak awal saya sungguh ingin memberikan ruang yang luas bagi kaderisasi. Namun, ketika sembilan formatur yang dipilih secara sah oleh Munas secara bulat kembali memberikan amanah ini, saya memandangnya bukan sebagai kemenangan pribadi, melainkan sebagai panggilan tanggung jawab yang tidak patut saya abaikan,” ujar Abdul Sobur, Selasa (15/9/2026).

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan HIMKI ke depan tidak boleh bertumpu pada satu figur, melainkan harus dijalankan secara kolektif-kolegial, profesional, transparan, dan berbasis kinerja.

“Amanah ini bukan milik Abdul Sobur, tetapi milik seluruh keluarga besar HIMKI. Para formatur, DPD, pengurus, badan eksekutif, anggota, serta generasi muda HIMKI harus menjadi bagian nyata dari kepemimpinan dan transformasi organisasi ke depan,” tegasnya.

Amandemen AD/ART yang disahkan Munas diarahkan untuk memperkuat tata kelola, pembagian kewenangan, sistem pertanggungjawaban, mekanisme kaderisasi, profesionalitas badan eksekutif, serta kesinambungan program organisasi dari tingkat pusat hingga daerah.

Sementara itu, GBHO HIMKI menetapkan sejumlah prioritas utama, meliputi konsolidasi organisasi dan penguatan DPD; peningkatan pelayanan kepada anggota; pengembangan pasar ekspor dan domestik; advokasi regulasi yang mendukung daya saing industri; penguatan desain, inovasi, teknologi, serta keberlanjutan; pengembangan sumber daya manusia; dan perluasan kerja sama nasional maupun internasional.

HIMKI juga menegaskan komitmennya untuk menjadikan industri mebel dan kerajinan sebagai salah satu kekuatan masa depan perekonomian Indonesia. Industri ini tidak hanya menghasilkan devisa dan lapangan kerja, tetapi juga membawa identitas budaya, keterampilan perajin, kekayaan material alam, serta nilai kreativitas Indonesia ke pasar dunia.

Melalui GSP yang diluncurkan dalam rangkaian Munas ke-4, HIMKI mendorong terciptanya orkestrasi kebijakan antara pemerintah, industri, pelaku usaha, desainer, perajin, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, penyelenggara pameran, dan mitra internasional. Langkah tersebut dibutuhkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan atau produk manufaktur, tetapi berkembang menjadi pusat desain, produksi, perdagangan mebel serta kerajinan bernilai tambah tinggi.

Baca Juga :  Gelar Baksos Pra HUT ke-21, Baladika Bali Kota Denpasar Solid Bersatu

“Target besar industri tidak mungkin dicapai oleh HIMKI sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan seluruh ekosistem industri. GSP harus menjadi dokumen hidup yang diterjemahkan ke dalam program, target, penanggung jawab, serta ukuran keberhasilan yang jelas,” kata Abdul Sobur.

Munas ke-4 HIMKI sekaligus meneguhkan semangat persatuan organisasi dan kesinambungan regenerasi. Proses suksesi yang berjalan terbuka, demokratis, dan berakhir melalui musyawarah mufakat menjadi modal penting bagi HIMKI dalam menghadapi tantangan ekonomi dan perdagangan global yang semakin kompleks.

Dengan keputusan-keputusan strategis tersebut, HIMKI memasuki periode kepengurusan baru dengan tekad memperkuat organisasi, meningkatkan keberpihakan kepada anggota, memperluas kontribusi industri terhadap perekonomian nasional, dan membawa karya Indonesia semakin dihormati dunia.(r).

Related Posts