August 13, 2022
Daerah

Terjadi Persaingan Antar Sulinggih, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharyananda : Banyak Yang Melakukan Proses Komodifikasi di Wilayah Sulinggih

Denpasar-kabarbalihits 

Kehadiran Sulinggih saat ini diharapkan bisa menempatkan diri di posisi proton yang bersifat netral, sebab pada bagian Upacara dalam Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu (Tatwa, Susila, Upacara) dinilai adanya proses materialisasi ide-ide Ketuhanan, sehingga bisa menjadi barang dagangan dan terjadi perang tarif antar Sulinggih.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharyananda usai prosesi Dwijati Kasulinggihan Ida Bhagawan Gana Dwijananda, dan Ida Bhagawan Patni Gana Dwijananda di Griya Gana Mandala Jalan Buana Kubu, Gang Asam XIV, Desa Tegal Harum, Denpasar Barat. 

Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharyananda menyampaikan, kehadiran Sulinggih tidak hanya hadir untuk menyelesaikan ritual semata, tapi bisa memberikan pendidikan kepada umat. 

“Ini yang penting, makanya ketika Dwijati setelah menjadi Sulinggih tidak otomatis dia berhenti dengan jabatannya tapi dia harus belajar terus. Salah satu fungsi seorang Sulinggih adalah Angajia, artinya belajar. Sehingga belajar dia menjadi guru, ardi guru loka,” Jelas Ida Nabe (19/11). 

Dikatakan jika terjadi kerapuhan, konsep pelayanan umat yang disebut loka pala sraya tidak akan terpenuhi. 

“Loka artinya dunia, pala itu menjaga, sraya itu sandaran, bagaimana umat bisa menjaga dunia, menjadi sandaran bagi umat,” Kata Ida Nabe. 

Diistilahkan saat ini para Sulinggih berlomba-lomba ingin berada di posisi teratas, sehingga banyak yang melakukan proses komodifikasi di wilayah Sulinggih, untuk menjadikan diri sebagai barang dagangan. 

“Maka tidak heran diruang sosial dan sebagainya, bahkan perang tarif satu Sulinggih dengan yang lain. Ini akan merusak hubungan sesama pemilik modal yang sama,” Ujar Ida Nabe. 

Baca Juga :  Menuju Top 45 KIPP 2021, Bupati Buleleng Ingin Desa Lain Ikuti Inovasi Desa Tembok

Dengan tegas Ida Nabe tidak menampik adanya persaingan antar Sulinggih, sebab terkait masalah Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu, pada poin Upacara dinilai ada proses materialisasi ide-ide Ketuhanan. Dimana saripati dari proses mediksa dapat berdampak positif maupun negatif.

“Atom bermuatan tiga, proton, elektron, netron, bisa berdampak positif dia bisa berdampak negatif. Sekarang Sulinggih bagaimana dia bisa berada di proton yang bersifat netral, tapi bagi yang tidak memahami hakekat saripati dari padiksan dia akan menjadikan dirinya selalu mengejar profit oriented,” Beber Ida Nabe. 

Ditambahkan, dari proses tersebut muncul konsep ritualisasi dan materialisasi dari ide dan idiologi filosofi Ketuhanan. 

“Maka dengan demikian dia tidak luput dari aspek konsumen produsen dan sebagainya,” Imbuh Ida. (kbh1)

Related Posts