
Merdeka Mesimbaran, Demam Platycerium Makin Bergairah
Badung – kabarbalihits
Dari sekadar tanaman hias pengisi waktu di rumah saat pandemi, Platycerium atau disebut simbar kini menjelma menjadi komoditas hobi sekaligus ajang adu gengsi para kolektor di Bali. Fenomena itu terlihat dalam Merdeka Mesimbaran yang digelar Karang Taruna Purnajati Yowana, Desa Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Badung, dengan menghadirkan sekitar 120 peserta dari berbagai wilayah di Bali.
Digelar pada 21–23 Agustus 2026 dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kontes ini tak sekadar menjadi ajang perebutan juara. Para penghobi dari berbagai daerah membawa koleksi Platycerium terbaik mereka untuk dipertandingkan dan dinilai oleh tiga juri yang berkompeten di bidangnya.
Ketua Panitia Merdeka Mesimbaran, I Kadek Dandi Adi Pratama, mengatakan perkembangan Platycerium di Bali dalam beberapa tahun terakhir berlangsung cukup pesat. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya penghobi yang serius merawat tanaman sekaligus meningkatkan kualitas koleksinya.
“perkembangannya saat ini sangat pesat. Kita bisa melihat dari jumlah peserta dan kualitas tanaman yang dibawa. Banyak tanaman yang sudah tampil bagus, rapi, dan semakin berkualitas,” ujar Dandi.

Dalam kontes tersebut, penilaian tidak hanya didasarkan pada ukuran atau keunikan tanaman. Tiga aspek utama yang menjadi perhatian juri adalah kesehatan, performa, dan penyajian.
“yang dinilai dalam kontes ini meliputi kesehatan tanaman, performa, dan penyajiannya,” jelasnya.
Merdeka Mesimbaran menjadi kontes perdana yang diselenggarakan Karang Taruna Purnajati Yowana. Meski baru pertama kali digelar, antusiasme peserta cukup tinggi.
Dandi mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ke depan, kontes Platycerium tersebut diharapkan dapat kembali digelar secara berkala.
“ini merupakan kegiatan pertama yang kami adakan. Ke depan kami berharap bisa menjadi agenda rutin, kemungkinan dua tahun sekali agar persiapannya lebih matang,” katanya.
Kontes Merdeka Mesimbaran memperlombakan enam kelas Platycerium, yakni Strong Beartail, White Beartail, Prospek, Welingki, Big Class, dan Dwarf.
Strong Beartail merupakan kelas untuk simbar dengan karakter daun yang kokoh dan bagian ujungnya menyerupai ekor beruang. Sementara White Beartail memiliki karakter daun yang cenderung keputihan atau memiliki lapisan seperti tepung putih.
Kelas Prospek diperuntukkan bagi tanaman muda atau remaja yang dinilai memiliki potensi perkembangan bentuk yang bagus di masa mendatang.
Sementara Welingki merupakan penyebutan lokal untuk Platycerium willinckii, yang banyak dikenal di kalangan penghobi sebagai salah satu jenis populer.
Adapun Big Class diperuntukkan bagi tanaman berukuran besar atau dewasa dengan tampilan gagah dan rimbun. Sedangkan Dwarf menjadi kelas bagi jenis atau tanaman berukuran mini yang tetap mempertahankan proporsi bentuknya.
Menurut Dandi, perkembangan Platycerium saat ini juga semakin beragam dengan munculnya berbagai hasil persilangan atau hybrid.
“banyak juga jenis yang berasal dari luar Indonesia maupun hasil hybrid. Di kalangan penghobi juga berkembang hybrid lokal dengan karakter masing-masing,” ujarnya.
Ia berharap kontes semacam ini dapat memberikan eksposur lebih luas terhadap Platycerium sekaligus memperkuat keberadaan komunitas penghobi di Bali.
“harapan kami, pertama memberikan eksposur terhadap tanaman tersebut. Kedua, agar kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung dan menjadi wadah bagi komunitas Platycerium untuk berkembang,” katanya.
Ketua Karang Taruna Purnajati Yowana, I Gusti Agung Indra Mahendra, mengatakan pemilihan Platycerium sebagai tema kegiatan bukan tanpa alasan.
Merdeka Mesimbaran dirancang sebagai bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sekaligus mencoba mengangkat potensi ekonomi kreatif yang berkembang di tengah masyarakat.
“kegiatan ini kami buat untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami memilih penghobi simbar karena melihat ekonomi kreatif sedang terus digencarkan, khususnya di Badung,” kata Indra.
Menurutnya, geliat komunitas Platycerium memiliki potensi untuk dikembangkan lebih besar. Ia bahkan berharap ke depan pemerintah maupun pihak terkait dapat membuat kegiatan serupa dalam skala yang lebih luas.
“kami berharap nantinya Badung bisa membuat kegiatan seperti ini dengan skala yang lebih besar,” ujarnya.
Menariknya, kegiatan tersebut justru berawal dari keterbatasan pengetahuan teknis panitia mengenai dunia kontes Platycerium. Namun, dukungan dari komunitas membuat kegiatan dapat terlaksana.
“kami dari kepanitiaan memang awalnya tidak terlalu memahami teknis kontes. Tetapi banyak komunitas yang membantu sehingga kegiatan ini bisa berjalan,” jelasnya.
Antusiasme komunitas terlihat dari jumlah peserta yang mencapai sekitar 120 orang. Peserta tidak hanya berasal dari Desa Mekar Bhuwana, tetapi datang dari berbagai wilayah di Bali.
“kami mengundang komunitas-komunitas dari seluruh Bali. Responsnya sangat positif,” katanya.
Bagi Indra, kegiatan tersebut juga sejalan dengan upaya Desa Mekar Bhuwana dalam mengembangkan potensi desa wisata.
Ia menilai kreativitas anak muda melalui komunitas dan kegiatan ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu penopang program desa.
“dari sisi kepemudaan, kegiatan kreatif seperti inilah yang bisa menopang program desa, termasuk dalam pengembangan desa wisata,” ujarnya.
Selain kontes, rangkaian Merdeka Mesimbaran juga diisi dengan talkshow yang masih berkaitan dengan dunia Platycerium, termasuk membahas aspek karantina serta peluang ekspor dan impor tanaman.
Bagi sebagian penghobi, popularitas Platycerium memang tidak muncul begitu saja. Masa pandemi menjadi salah satu periode ketika tanaman hias semakin banyak digemari masyarakat.
Salah seorang peserta Merdeka Mesimbaran, I Wayan Soni Setiawan, menjadi bagian dari generasi penghobi yang mulai serius menekuni Platycerium setelah periode tersebut.
Soni mengatakan, keikutsertaannya dalam kontes bukan hanya untuk mengejar juara. Ia ingin bertemu sesama penghobi, memperluas jaringan, sekaligus bertukar pengetahuan mengenai cara merawat tanaman.
“yang pertama tentu untuk mendapatkan relasi baru, bertemu teman-teman sesama penghobi, sekaligus belajar bagaimana merawat Platycerium dengan baik agar bisa diterapkan di rumah,” ujarnya.
Dalam kontes tersebut, Soni membawa Platycerium jenis veitchii untuk kelas Prospek.
Ia mulai serius merawat Platycerium sekitar akhir 2022. Sebelumnya, Soni lebih dulu menyukai tanaman hias dan menggeluti bonsai.
“Saya memang suka tanaman. Sebelumnya saya suka bonsai. Kemudian sekitar 2022 saya melihat Platycerium veitchii untuk pertama kalinya. Dari situ saya mulai tertarik dengan dunia Platycerium,” katanya.
Seiring waktu, hobinya berkembang. Saat ini Soni mengaku memiliki lebih dari 40 ID atau koleksi Platycerium. Sebagian tanaman dirawat sebagai koleksi pribadi, sementara sebagian lainnya diperjualbelikan.
“sekarang koleksi saya lebih dari 40 ID. Selain koleksi, sebagian juga untuk dijual,” ujarnya.
Perkembangan Platycerium sebagai tanaman hias juga tidak lepas dari sisi ekonomi. Namun, menurut Soni, harga tanaman tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan jenis atau ID.
Kualitas, bentuk, performa, dan perawatan menjadi faktor yang sangat menentukan nilai sebuah tanaman.
“dulu memang ada beberapa jenis yang harganya sangat tinggi, tetapi sekarang sebagian sudah mulai turun. Namun, kalau kita memang menyukai Platycerium, berapa pun harganya tetap akan kita rawat,” katanya.
Menurutnya, dua tanaman dengan ID yang sama pun belum tentu memiliki harga yang sama.
“kadang ada ID yang sama, tetapi kualitas dan perawatannya berbeda. Otomatis harganya juga bisa jauh berbeda,” jelasnya.
Untuk tanaman yang dibawanya dalam kontes, Soni memilih tidak menyebutkan harga. Namun, untuk anakan dari jenis serupa, ia menyebut kisaran harga di pasaran dapat mencapai Rp 2 juta hingga Rp 5 juta, tergantung kualitas dan kondisi tanaman.
Merdeka Mesimbaran menjadi salah satu gambaran bahwa demam simbar menjangan di Bali bukan sekadar tren sesaat. Dari halaman rumah para penghobi, Platycerium kini naik kelas menjadi bagian dari komunitas sekaligus potensi ekonomi kreatif yang terus tumbuh. (kbh1)


