
Jelang Tayang 3 September, Baby Udon Tutup Roadshow Nasional dengan Haru di Bali
Denpasar – kabarbalihits
Rangkaian panjang promosi film layar lebar Baby Udon akhirnya mencapai titik puncaknya di Pulau Dewata. Setelah berkeliling ke berbagai kota di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra hingga Sulawesi, roadshow nasional film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan cinta Fanny Kondoh dan mendiang Hajime Kondoh atau Papa Udon itu ditutup dengan suasana penuh haru di Bali, Minggu (30/8/2026).
Penutupan Roadshow & Meet and Greet digelar di Level 21 XXI dan Living World XXI Denpasar. Tiga sosok penting di balik film tersebut hadir langsung, yakni aktor sekaligus produser Denny Sumargo, aktris pemeran utama Caitlin Halderman, serta Fanny Kondoh yang kisah hidupnya menjadi inspirasi film Baby Udon.

Suasana di Level 21 XXI Bali pun mendadak hening ketika perjalanan panjang film tersebut dibicarakan. Setelah berminggu-minggu menyapa masyarakat di berbagai daerah, pertahanan emosi Denny Sumargo akhirnya runtuh.
Aktor yang memerankan Hajime Kondoh itu tak mampu membendung air mata di hadapan para penggemar dan penonton yang hadir.
Bagi Denny, keterlibatannya dalam film Baby Udon bukan sekadar membawa sebuah kisah viral ke layar lebar. Ada alasan yang jauh lebih dalam hingga akhirnya ia memutuskan mengambil risiko menjadi produser sekaligus kembali bermain film.
Awalnya, kisah Fanny dan Hajime Kondoh dikenal luas publik melalui podcast. Denny mengungkapkan, sejumlah rumah produksi sebelumnya juga tertarik mengangkat cerita tersebut. Namun, menurutnya, ia perlu menemukan alasan kuat mengapa kisah itu harus diwujudkan dalam bentuk film.
“Kalau cuma mengangkat sosok mereka, saya pikir di media sosial juga sudah viral. Tapi kalau dilihat dari sisi cerita, apa manfaatnya buat orang lain? Ternyata banyak dari kisah mereka yang relate dengan kehidupan kita dan sangat dekat,” ujar Denny.
Menurut Denny, kekuatan utama kisah Fanny dan Hajime terletak pada ketulusan serta kemampuan keduanya bertahan menghadapi situasi kehidupan yang tidak mudah.
“Dalam kehidupan, kita mencari kebahagiaan. Tapi kadang-kadang kita tidak bisa menerima kondisi yang tidak enak dalam hidup kita. Mereka bisa menjalani itu dan sama-sama saling berpegangan,” katanya.
Ia menilai sikap saling bertahan dan berpegangan dalam sebuah hubungan menjadi sesuatu yang semakin langka.
Karena itu, Denny berharap Baby Udon tidak hanya menjadi film drama romantis yang menguras air mata, tetapi juga menghadirkan pesan bagi banyak kalangan, baik mereka yang masih sendiri, telah menikah, hingga anak-anak yang menyaksikan perjuangan orang tuanya.
Film Baby Udon mengisahkan perjalanan cinta Fanny dan Hajime Kondoh. Keduanya membangun rumah tangga dan memiliki harapan besar untuk memiliki buah hati.
Namun perjalanan mereka tidak berjalan mudah. Saat berjuang menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF), Hajime justru harus menghadapi cobaan berat setelah didiagnosis menderita kanker stadium akhir.
Di tengah perjuangan tersebut, Fanny harus tetap mendampingi sang suami sekaligus mempertahankan harapan keduanya untuk memiliki anak.
Kisah itu kemudian membawa penonton pada perjalanan emosional tentang kehilangan, kesetiaan dan harapan. Setelah Hajime berpulang, Fanny akhirnya melahirkan buah hati mereka yang kemudian dikenal publik sebagai “Baby Udon”.
Denny mengatakan, salah satu sisi Hajime yang paling membuatnya tertarik adalah ketulusan tokoh tersebut terhadap sang istri.
“Dia berusaha memberikan yang terbaik buat istrinya. Bahkan sebelum kepergiannya, dia mendoakan istrinya dan meminta kepada Tuhan, kalau memang nyawanya diambil tidak apa-apa, tapi paling tidak istrinya diberikan kebahagiaan,” ungkapnya.
Menurut Denny, ketulusan tersebut menjadi salah satu nilai yang ingin ia sampaikan melalui karakter Hajime.
“Ketulusan seorang pria sekarang ini mungkin sudah langka. Saya berharap ini bisa menjadi role model juga untuk para pria. Apa sebenarnya yang dicari dalam hidup? Apakah harta cukup, atau apakah ketulusan yang justru bisa membawa kebahagiaan dan menjadi kenangan yang luar biasa?” katanya.
Memerankan Hajime Kondoh menjadi tantangan tersendiri bagi Denny Sumargo. Selain harus mempelajari bahasa dan aksen Jepang, ia juga harus memahami karakter Hajime yang secara emosional berbeda dengan dirinya.
Denny mengaku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan peran tersebut.
“Dari segi bahasa, aksen, gestur, sampai akting tentu menjadi tantangan. Secara emosional Hajime juga cukup jauh karakternya dari saya,” ujarnya.
Untuk mendukung pendalaman karakter, Denny bahkan mendapat pendampingan khusus dalam belajar bahasa Jepang. Menariknya, beberapa sahabat Hajime di kehidupan nyata juga terlibat dalam film tersebut.
Salah satunya adalah Hero, yang dalam kehidupan nyata merupakan sahabat Hajime.
“Hero dan Suzuki memang benar-benar sahabatnya Hajime. Jadi kami beruntung mereka bisa hadir dalam film ini. Karena ini diangkat dari kisah nyata, kehadiran mereka membuat ceritanya terasa lebih nyata,” katanya.
Namun perjalanan menghadirkan film Baby Udon ke layar lebar juga tidak mudah. Denny mengungkapkan proses produksi film tersebut sempat terhenti selama sekitar enam bulan dan hampir batal.
Kesulitan menemukan pemain menjadi salah satu kendala utama. Denny bahkan mengaku awalnya tidak berniat memerankan Hajime.
“Sebenarnya bukan saya yang harusnya main. Saya menawarkan ke beberapa teman aktor, tapi tidak available secara waktu. Jujur, saya juga sudah lama tidak main film dan memang sudah lama tidak ingin main film,” ungkapnya.
Sebagai produser, Denny menganggap keputusan untuk kembali bermain sekaligus menjadi salah satu risiko terbesar yang harus diambil.
Namun ia memilih melanjutkan proyek tersebut karena tidak ingin perjuangan para kru yang telah mempersiapkan produksi selama berbulan-bulan menjadi sia-sia.
“Kalau memang film ini harus dibuat, saya coba ambil risiko itu. Saya tidak ingin mengorbankan kru yang sudah enam bulan persiapan. Mereka juga harus menghidupi keluarga,” katanya.
Menjelang penayangan perdana film Baby Udon pada 3 September 2026, Denny mengaku memiliki kekhawatiran seperti produser film pada umumnya.
Ia menyadari bahwa popularitas sebuah kisah viral tidak selalu menjamin kesuksesan film di bioskop.
“Ketakutan gagal pasti ada. Cerita viral belum tentu menarik penonton. Penonton banyak juga belum tentu filmnya bagus. Jadi banyak sekali kondisi dalam industri film yang bisa membuat hal yang kita inginkan atau tidak kita inginkan terjadi,” ujarnya.
Meski demikian, Denny berharap Baby Udon dapat menemukan penontonnya.
Ia bahkan menyebut target 100 ribu penonton sebagai harapan awal untuk film debutnya sebagai produser.
“Targetnya 100 ribu aja. Semoga dibantu. Kami sebagai tim sudah berusaha memberikan yang terbaik,” katanya.
Bagi Denny, film tersebut juga menjadi bentuk kontribusinya terhadap industri perfilman Indonesia.
“Sebagai aktor saya sudah cukup lama. Sekarang sebagai produser dan PH perdana, saya mencoba berkontribusi untuk film Indonesia. Semoga kontribusi ini punya arti dan bisa ikut membangun industri kita menjadi lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, Caitlin Halderman yang memerankan Fanny mengaku justru ikut larut secara emosional ketika menyaksikan hasil akhir film tersebut.
Padahal, ia merupakan salah satu pemeran utama yang menjalani proses produksi sejak awal.
Caitlin mengaku pertama kali menyaksikan film tersebut saat pemutaran perdana dan tidak mampu menahan air mata sepanjang film.
“Dari mulai film diputar sampai selesai, saya tidak berhenti menangis. Benar-benar air mata terus,” ungkap Caitlin.
Menurutnya, ketika menyaksikan film tersebut, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang aktris yang sedang memainkan peran.
Ia justru merasa seperti sedang menyaksikan perjalanan hidup orang lain.
“Padahal saya yang main, tapi saya tidak melihat diri saya sendiri di situ. Rasanya seperti melihat orang lain dan menonton cerita mereka. Memang ini kisah mereka,” katanya.
Caitlin mengaku bangga karena pesan dan emosi yang ingin disampaikan melalui film tersebut dapat dirasakan oleh penonton.
“Senang karena mereka bisa merasakan apa yang kami coba sampaikan dari film ini. Bangga banget,” ujarnya.
Di tengah suasana haru tersebut, Fanny Kondoh juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Denny Sumargo dan seluruh tim yang terlibat dalam film Baby Udon.
Fanny mengungkapkan, ia merasa kisah hidupnya tidak sekadar diperlakukan sebagai cerita viral yang bisa diangkat menjadi produk hiburan.
Ia menilai Denny dan tim Sumargo Films memberikan ruang baginya untuk terlibat dalam proses kreatif hingga promosi film.
“Dari semua PH, saya merasa yang memberikan saya kenyamanan seperti ini adalah mereka. Cerita saya tidak diperlakukan sekadar sebagai cerita viral, tapi cerita yang dibuat pakai hati,” ujar Fanny.
Menurut Fanny, keterlibatannya dalam berbagai proses membuatnya merasa dihargai, termasuk dalam menjaga cerita tentang dirinya, mendiang Hajime dan putra mereka.
“Dia melibatkan saya dari prosesnya, pengambilan gambar sampai promosi. Saya merasa dihormati, termasuk saya dan baby saya,” katanya.
Penutupan roadshow di Bali pun menjadi momen emosional bagi seluruh tim menjelang penayangan Baby Udon di bioskop.
Denny mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan Bali dipilih sebagai kota penutup perjalanan promosi tersebut. Namun, ia percaya Pulau Dewata memiliki energi tersendiri menjelang pertaruhan terbesar film tersebut pada hari pertama penayangan.
“Saya juga bingung kenapa Bali, tapi saya yakin Tuhan punya rencana. Bali adalah pulau yang punya energi luar biasa. Saya berharap energi itu bisa membawa film ini menuju 3 September dengan kuat,” ujar Denny.
Ia pun meminta masyarakat untuk datang dan menyaksikan langsung film tersebut di bioskop.
“Kami tidak berharap film ini dipuji-puji. Datang saja dan nonton, biarkan film ini berbicara sendiri kepada kalian,” pungkasnya.
Film Baby Udon merupakan drama romantis Indonesia yang diproduksi melalui kolaborasi LYTO Pictures dan Sumargo Films. Film yang diangkat dari kisah nyata Fanny Kondoh dan mendiang Hajime Kondoh ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 3 September 2026. (kbh1)


