April 15, 2021
Ekonomi

Wujudkan Bali Mandiri Energi, Bali Potensial Manfaatkan Listrik Tenaga Surya 

Denpasar  – kabarbalihits

Bali memiliki potensi besar dalam sumber energi terbarukan. Salah satunya dari tenaga surya (Pembangkit Listrik  Tenaga Surya/PLTS). PLTS ini potensial dikembangkan dan dimanfaatkan menuju Bali mandiri energi. Sekaligus sebagai daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata lewat eco green tourism.

Hal  tersebut terungkap dalam briefing wartawan yang dilaksanakan Center of Excellence Community Base Renewable Energy (CORE) Univerisitas Udayana bersama Riset Institute for Essential Service Reforma ( IESR), di Renon, Denpasar Jumat (5/3).

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengatakan berdasarkan simulasi IESR menunjukkan adanya potensi rooftop solar atau PLTS Atap hingga 25,9 MWp hanya untuk hotel bintang 5 di kawasan Nusa Dua dan Kuta. Potensi PLTS atap untuk bangunan publik dan fasilitas umum di Bali berdasarkan simulasi IESR juga terbilang tinggi, mencapai 15,6 MWp.

Meski demikian, kata Fabby Tumiwa  terdapat sejumlah tantangan untuk adopsi PLTS atap secara masif. Diantaranya pengetahuan dan pemahaman teknologi PLTS masih minimal. Juga tingkat literasi dan kesadaran masyarakat. “ Sosialisasi dan dorongan kepada pemerintah kabupaten/kota terkait regulasi juga harus terus dilakukan,” ujarnya. 

Menurut  Fabby Tumiwa ini merupakan langkah progresif jika merujuk Pergub Bali tentang Energi Bersih dan Kendaraan Listrik (Pergub 45/2019) yang merupakan salah satu strategi untuk mewujudkan  visi dan misi “Nangun Sat Kerthi  Loka Bali”. “Ini merupakan langkah progresif untuk menjawab kebutuhan energi Bali dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan setempat,” terangnya. 

Fabby Tumiwa memperkirakan sebelum pandemi pasokan listrik Bali mencapai 900 MW dan ketika pandemi beban puncaknya turun sampai 35 persen. Beban energinya turun karena aktivitas ekonomi tak banyak berjalan khususnya di sektor pariwisata seperti hotel, restoran dan pertokoan.

Kalau dilihat kebutuhan listrik ke depan setelah pandemi, Tumiwa memperkirakan bisa naik 1.000 MW, dimana diusulkan terpenuhi melalui interkoneksi Jawa-Bali, juga dengan target pengembangan energi surya sebesar 50 MW pada tahun 2025 sesuai Rancangan Umum Energi Daerah Bali.

Namun, kalau Bali memiliki lebih banyak pembangkit listrik terdistribusi, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik Atap (PLTS Atap) maka ini merupakan sesuatu yang mix untuk mengamankan ketersediaan pasokan listrik di Bali. PLTS atap dapat berkontribusi secara signifikan.

‘’Energi yang berbasis Bali seperti PLTS atap perlu dikembangkan. Kalau ada gangguan pasokan dari Jawa, Bali tak terganggu. Bali tak perlu membangun pembangkit yang besar seperti PLTU. “Kalau melihat potensi energi terbarukan yang besar di Bali, sebenarnya mungkin Bali mandiri energi yang bersumber dari energi bersih terbarukan akan memperkuat posisi Bali sebagai tujuan pariwisata yang ramah lingkungan,’’ ucapnya.

Tumiwa juga memaparkan, jika dibandingkan dengan pembangkit tenaga uap, PLTS memang lebih mahal. Namun dibandingkan tenaga gas, PLTS cukup bersaing. PLTS dalam usia pakai sekitar 30 tahun. Setelah 10 tahun pemakaian investasi akan kembali, dan 20 tahun kemudian listrik yang dihasilkan gratis.

‘’Dengan kata lain, dalam kurun waktu 25 -30 tahun harga listrik PLTS jauh lebih murah dari pembangkit listrik manapun. Karena tak ada biaya operasional. Kalau pembangkit tenaga fosil atau batubara bergantung pada operating expense sangat tinggi, harga batubara berfluktuasi, tenaga kerja, inflasi, sedangkan PLTS tak ada perawatan,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Perkuat "Serangan Udara", MPO Tumbuhkan Citra Positif Partai Golkar di Masyarakat

Sementara Kepala CORE Udayana Prof Ida Ayu Giriantari, menegaskan energi terbarukan seperti  energi surya (PLTS) jelas merupakan sesuatu yang urgen. “Karena itu merupakan energi yang  pasti ramah lingkungan. Tidak ada emisi,” ujarnya. Energi terbarukan tersebut, lanjutnya sejalan dengan visi dan misi Pemprov Bali yakni ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’. Juga  Pergub tentang Energi bersih. “ Arahnya jelas ke sana ( energi terbarukan).” 

Sesungguhnya lanjut Prof Ida Ayu Giriantari,ada atau tidak regulasi  yang mengatur, sudah seharusnya Bali  beralih ke energi terbarukan. Karena energi fosil selain kotor, energi fosil merupakan penyumbang terbesar serta cadangannya yang terbatas.

Dan dalam konteks pariwisata Bali, energi terbarukan jelas mendukung pariwisata Bali yang berkelanjutan. “ Kan trend global sekarang ke sana eco green tourism,” tandas Ida Ayu Giriantari. (kbh6)

Related Posts