November 4, 2026
Seni Budaya

Dibalik Suksesnya Pujawali Pura Dalem Kahyangan Wisesa Munggu, Alit Sugiarta Apresiasi Kerja Keras Krama Desa dan Pemkab Badung

Badung-kabarbalihits

Suasana religius dan kebersamaan terasa kuat di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, saat krama melaksanakan Pujawali di Pura Dalem Kahyangan Wisesa, Rabu (12/8/2026). Bertepatan dengan rahina suci Tilem Sasih Karo, puncak pujawali berlangsung khidmat, sekaligus menjadi momentum mempererat persatuan masyarakat dalam menjaga tradisi, adat, dan warisan spiritual Bali.

Pujawali di Pura Dalem Kahyangan Wisesa merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap setahun sekali. Namun, di balik rangkaian ritual yang berlangsung khusyuk tersebut, terdapat kerja panjang, kebersamaan, serta semangat gotong royong masyarakat yang menjadi kunci suksesnya pelaksanaan pujawali.

Sosok yang memiliki peran penting dalam mengkoordinasikan seluruh rangkaian tersebut adalah Ketua Panitia Pujawali, Ir. I Nyoman Alit Sugiarta, ST. Bersama seluruh panitia, prajuru, pemuda, dan krama Desa Adat Munggu, ia memastikan seluruh persiapan hingga pelaksanaan puncak pujawali berjalan lancar.

Dengan kebutuhan biaya mencapai sekitar Rp.700 juta, penyelenggaraan pujawali tentu bukan pekerjaan sederhana. Dana tersebut dihimpun melalui swadaya masyarakat serta dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Badung, Pemerintah Desa Munggu, anggota DPRD Badung, hingga krama Banjar Agung Gambang.

Nyoman Alit Sugiarta mengatakan, besarnya biaya yang dibutuhkan justru menjadi momentum untuk menunjukkan kekuatan kebersamaan masyarakat Munggu. “Yang paling utama adalah kebersamaan dan gotong royong. Dari awal persiapan sampai puncak pujawali, seluruh krama bersama-sama mengambil bagian. Ini yang membuat seluruh rangkaian bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pujawali bukan semata-mata hasil kerja panitia, melainkan buah dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Panitia bertugas mengkoordinasikan berbagai kebutuhan, sementara krama memberikan dukungan tenaga, pikiran, maupun materi. Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Badung, khususnya Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Wakil Bupati Badung, serta anggota DPRD Badung I Made Rai Wirata, S.H., M.I.Kom. dan I Wayan Edi Sanjaya, S.H. Pemerintah Desa Munggu dan krama Banjar Agung Gambang turut memberikan dukungan sehingga rangkaian upacara dapat dipersiapkan secara maksimal.

Baca Juga :  Puncak Karya Atma Wedana Paibon Delod Bingin, Disel Astawa Ucapkan Terima Kasih Kebersamaan Krama Penyungsung

“Bantuan dari pemerintah dan berbagai pihak tentu sangat berarti. Tetapi yang tidak kalah penting adalah swadaya dan semangat krama. Semua bersatu untuk satu tujuan, yakni memohon kerahayuan jagat,” katanya.

Rangkaian Pujawali Pura Dalem Kahyangan Wisesa tidak hanya berlangsung pada saat puncak upacara. Sebelumnya, masyarakat melaksanakan prosesi Ngider Desa, sebuah tradisi yang memiliki makna filosofis sekaligus menghadirkan nuansa khas dalam rangkaian pujawali.

Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kehidupan sosial di desa. Semangat kebersamaan semakin terlihat melalui keterlibatan 13 Sekaa Teruna-Teruni (STT) se-Desa Munggu. Para generasi muda mengambil peran aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memastikan nilai-nilai adat tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain rangkaian ritual, pujawali juga diramaikan dengan lomba penjor agung yang menambah semarak suasana. Kreativitas masyarakat dalam menghias penjor tidak hanya menjadi bagian estetika, tetapi juga mencerminkan rasa bhakti dan penghormatan kepada Ida Bhatara.

Puncak Pujawali Pura Dalem Kahyangan Wisesa turut dihadiri langsung Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa yang hadir sebagai upasaksi dalam pelaksanaan ritual. Kehadiran Bupati Badung sekaligus menjadi bentuk perhatian Pemerintah Kabupaten Badung terhadap keberlangsungan adat, agama, tradisi, dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Bupati mengapresiasi semangat kebersamaan dan gotong royong krama Desa Adat Munggu dalam menyukseskan pujawali. Menurutnya, kekompakan masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga kelestarian adat sekaligus mendukung pembangunan desa. Bupati juga berharap krama Munggu terus mempertahankan kekompakan serta menjaga kawasan Munggu sebagai salah satu sektor pariwisata yang memiliki potensi besar.

Baca Juga :  Dituding Berafiliasi Dengan Organisasi Teroris, KMHDI Akan Tempuh Jalur Hukum

Pesan tersebut menjadi penting mengingat perkembangan pariwisata hendaknya tetap berjalan beriringan dengan pelestarian adat dan budaya. Tradisi seperti pujawali menjadi kekuatan yang memberikan identitas sekaligus karakter bagi Desa Munggu. Nuansa sakral semakin terasa dengan hadirnya pementasan kesenian wali sebagai bagian dari rangkaian upacara. Berbagai tari sakral, seperti Tari Rejang dan Baris, dipersembahkan sebagai bagian dari ritual, diiringi tabuh gong pusaka yang menunjang jalannya upacara.

Setelah puncak pujawali, Ida Bhatara selanjutnya nyejer, atau bersemayam di Balai Pesamuan selama tiga hari berturut-turut. Setelah masa nyejer berakhir, rangkaian akan dilanjutkan dengan ritual penyineban sebagai penanda berakhirnya seluruh prosesi pujawali. Bagi masyarakat Desa Adat Munggu, Pujawali Pura Dalem Kahyangan Wisesa bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi ruang spiritual untuk memperkuat bhakti, sekaligus ruang sosial untuk mempererat persaudaraan.

Di balik kemegahan ritual dan semarak kegiatan pendukung, suksesnya pujawali tahun ini menjadi cermin nyata bagaimana kepemimpinan panitia, kerja keras pemuda, dukungan pemerintah, serta gotong royong krama dapat berpadu menjadi sebuah kekuatan.

Dan bagi I Nyoman Alit Sugiarta, keberhasilan tersebut bukanlah tentang siapa yang paling menonjol, melainkan tentang bagaimana seluruh masyarakat dapat berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, pujawali bukan hanya tentang sebuah upacara yang selesai dilaksanakan, tetapi tentang kebersamaan yang terus dijaga dan diwariskan untuk menciptakan kerahayuan jagat.(kbh2)

Related Posts