September 17, 2026
Daerah Seni Budaya

Badung Tampil Mempesona di Wimbakara Gender Wayang Anak PKB XLVIII 2026

Denpasar-kabarbalihits

Duta Kabupaten Badung yang diwakili Sekehe Batel Giri Sunari, Banjar Busana, Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, tampil memukau dalam ajang Wimbakara (Lomba) Gender Wayang Anak-anak pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, yang berlangsung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (15/6).

Dalam kompetisi bergengsi tersebut, Duta Kabupaten Badung berhadapan dengan Duta Kabupaten Karangasem. Penampilan empat penabuh muda berbakat, yakni I Ngurah Arya Widana, Ni Made Dwisari Candra Dipta, Ni Made Nisa Sri Rahma Disa, dan I Putu Hyuga Agastya Wijayana, berhasil menyita perhatian penonton dan dewan juri melalui pembawaan tiga materi tabuh yang sarat nilai filosofi dan teknik musikal tinggi.

Tabuh pertama yang dibawakan adalah Cangak Merengang, sebuah sajian musikal Gender Wayang yang terinspirasi dari karakter burung berkaki panjang yang dikenal selalu waspada dan tangkas. Istilah merengang dalam bahasa Bali menggambarkan ekspresi yang sumbringah, tajam, dan penuh kewaspadaan. Melalui dinamika nada dan ritme yang kuat, tabuh ini menyampaikan pesan mendalam tentang Atma Kerthi, yakni upaya pembersihan diri demi menjaga kemurnian jiwa. Kewaspadaan yang tergambar dalam komposisi musik tersebut menjadi simbol perjuangan menuju Jiwa Sidha Parisudha, sebuah transformasi batin untuk mencapai kesadaran yang suci, tangguh, dan paripurna.

Selanjutnya, para penabuh membawakan Pamungkah, gending pembuka dalam pertunjukan wayang kulit Bali. Gending ini dimainkan ketika dalang membuka keropak atau gedog yang ditandai dengan prosesi nebah kropak, dilanjutkan dengan menarik kayonan sebagai penanda dimulainya pementasan. Dalam penyajiannya, Pamungkah mengedepankan unsur musikal yang kompleks dengan teknik pukulan Gender Wayang yang rumit, menyesuaikan ritme gerak dalang saat memilih dan mengeluarkan wayang dari dalam keropak.

Baca Juga :  Safari Ramadhan dan Buka Puasa Bersama di Musholla Al Furqon Kuta Selatan

Penampilan ditutup dengan Gending Mesem, sebuah narasi musikal yang menggambarkan ketabahan jiwa yang tetap mampu tersenyum di tengah kesedihan mendalam. Dalam tradisi pewayangan Bali, gending ini melambangkan kekuatan batin untuk menerima takdir dengan ikhlas, mengubah kepedihan menjadi keanggunan yang penuh wibawa. Alunan Mesem kemudian mengalir menuju gending angkat-angkatan, menandai kebangkitan dan keberanian tokoh untuk melanjutkan perjalanan hidup menuju takdir berikutnya.

Tim Pembina Tabuh, I Gede Kristya Dika Santana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa persiapan menuju ajang PKB telah dilakukan sejak Januari 2026. Selama beberapa bulan, para peserta berlatih intensif untuk menguasai tiga materi yang telah ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

“Kami dari Kabupaten Badung sudah mempersiapkan penampilan ini sejak bulan Januari. Tiga materi yang dibawakan merupakan materi yang telah disiapkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Melalui ajang PKB ini, kami berharap seluruh kabupaten dan kota di Bali dapat terus melestarikan sekaligus menggali ciri khas atau gaya Gender Wayang yang dimiliki masing-masing daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina Tabuh lainnya, I Made Gawi Antara, S.Sn, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Wimbakara Gender Wayang Anak-anak yang dinilai sangat penting dalam upaya regenerasi seniman muda.

“Melalui kegiatan ini, nilai-nilai seni tradisi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain itu, lomba ini juga menjadi sarana pelestarian Gender Wayang sebagai salah satu gamelan tua Bali yang memiliki fungsi penting, baik dalam seni pertunjukan maupun sebagai pelengkap berbagai upacara adat dan keagamaan,” ungkapnya.

Partisipasi Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara Gender Wayang Anak-anak PKB XLVIII 2026 menjadi bukti nyata komitmen daerah dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi Bali. Melalui talenta generasi muda yang terus dibina, warisan budaya adiluhung seperti Gender Wayang diharapkan tetap lestari dan berkembang di tengah dinamika zaman. (kbh2)

Related Posts