June 18, 2026
Opini Pariwisata

Antara Sampah dan Wisatawan: Mengapa Pantai Bali Selalu Dibersihkan, tetapi Tak Pernah Benar-Benar Bersih?

Badung-kabarbalihits

 

Oleh: Darmayasa Barak

Praktisi Industri Pariwisata

 

Kuta, 7 Februari 2026

Instruksi Presiden untuk melakukan aksi bersih-bersih pantai di Bali mencerminkan komitmen negara terhadap persoalan lingkungan yang semakin mendesak. Pada hari pertama pelaksanaan, seluruh pemangku kepentingan bergerak serempak. Pemerintah daerah, TNI, Polri, pelaku industri pariwisata, asosiasi, hingga masyarakat turun langsung ke lapangan.

 

Pantai-pantai di kawasan wisata Bali Selatan tampak bersih. Media mencatatnya sebagai keberhasilan cepat, sementara publik menyambut dengan optimisme. Bendera berkibar, ribuan orang bergerak beriringan membawa atribut institusi. Kamera merekam. Instruksi negara telah turun, dan semua patuh. Sampah diangkut—kayu, plastik, botol, hingga sisa-sisa aktivitas manusia disingkirkan dari pasir. Wisatawan bertepuk tangan, lalu kembali ke kursi pantai. Foto-foto pun menyebar dengan satu narasi besar: “Pantai Bali Bersih.”

Namun, laut tidak membaca berita.

Angin tidak mengikuti apel.

Dan plastik tidak mengenal instruksi negara.

Beberapa hari kemudian, ombak mengembalikan apa yang sebelumnya diangkut. Pantai kembali dipenuhi sampah, kali ini tanpa kamera, tanpa komando, tanpa sorak sorai.

Seorang wisatawan pernah bertanya lirih, “Why is the beach always cleaned, but never clean?”

Pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan kritik mendalam. Ia menyingkap kenyataan bahwa upaya yang selama ini dilakukan kerap baru sebatas menghapus gejala, belum menyentuh akar persoalan.

Di sinilah instruksi Presiden seharusnya dimaknai lebih jauh—bukan sekadar perintah aksi simbolik, melainkan pesan strategis bahwa tata kelola sampah di Bali harus ditempatkan sebagai agenda super prioritas. Pengelolaan sampah tidak cukup diselesaikan melalui kegiatan insidental, melainkan membutuhkan sistem yang kuat, berkelanjutan, dan memiliki arah yang jelas demi menjaga Bali tetap BALI: Bersih, Aman, Lestari, dan Indah.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Pantau Pelaksanaan Vaksinasi di Pecatu, Sandiaga Uno Apresiasi Penerapan Prokes CHSE di Kawasan Uluwatu

Pesan strategis inilah yang semestinya bekerja. Bukan hanya membersihkan pantai hari ini, tetapi memastikan pantai tidak kembali kotor esok hari.

Berdasarkan kondisi tersebut, model I-BESTIE hadir sebagai kontribusi pemikiran, bukan sekadar program penuh jargon. I-BESTIE menawarkan cara pandang baru dalam melihat hubungan manusia, lingkungan, dan ruang hidup melalui integrasi Budaya, Edukasi Lingkungan, Sirkular Ekonomi, Teknologi, Institusionalisasi, dan Eliminasi limbah dari hulu.

Budaya perlu dihidupkan kembali. Pantai tidak boleh lagi diperlakukan sebagai halaman belakang ekonomi, melainkan sebagai ruang hidup yang dijaga dengan rasa tanggung jawab—bahkan rasa malu jika mengotorinya.

Edukasi lingkungan hadir secara halus namun konsisten. Dari meja warung pantai, menu hotel, hingga cerita yang disampaikan para staf kepada wisatawan. Pesannya sederhana: menikmati alam berarti ikut bertanggung jawab menjaganya.

Sirkular ekonomi memastikan sampah tidak memiliki alasan untuk bertahan lama. Botol plastik, kaleng, hingga limbah kayu dapat diolah menjadi produk baru bernilai ekonomi dan guna. Sampah bukan lagi beban, melainkan sumber daya.

Teknologi berperan secara senyap, memberikan peringatan dini sebelum sampah menumpuk, bukan setelah pantai menjadi sorotan media.

Institusionalisasi memastikan setiap kawasan pantai memiliki pengelola yang jelas. Pengelolaan tidak hanya berjalan saat ada perintah, tetapi berlangsung setiap hari sebagai tanggung jawab yang melekat.

Pada akhirnya, eliminasi harus dimulai dari hulu. Karena pantai tidak pernah salah—ia hanya menerima apa yang manusia kirimkan.

Momentum ini seharusnya menjadi titik tolak bersama. Bukan untuk menunggu instruksi berikutnya, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga pantai bukan tugas satu pihak, satu hari, atau satu seremoni. Upaya ini membutuhkan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan dalam konsep pentahelix pariwisata—pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, serta wisatawan—yang berjalan dalam satu sistem yang saling menguatkan.

Baca Juga :  Sebagai Destinasi Pariwisata Dunia, Pemerintah Pusat Minta Prokes di Bali Diterapkan Secara Ketat

Dengan bahu membahu, pantai Bali dapat dijaga oleh kesadaran, ditopang oleh sistem, dan diwariskan sebagai ruang hidup yang Bersih, Aman, Lestari, dan Indah.

Karena pada akhirnya, pantai yang benar-benar indah bukanlah pantai yang sering dibersihkan, melainkan pantai yang tidak pernah dikotori, karena kita memilih menjaganya bersama.

Related Posts