January 25, 2026
Kuliner

Umah Gadgad, Surga Kuliner Bernuansa Pedesaan di Penarungan yang Hadirkan Keotentikan Timbungan

Badung-kabarbalihits

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari, ada satu sudut tenang di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung, yang menawarkan pengalaman bersantap berbeda, yakni sejuk, estetik, dan penuh nuansa alam pedesaan. Tempat itu bernama Umah Gadgad, sebuah destinasi kuliner yang perlahan mencuri perhatian para penikmat suasana tradisional dan masakan Bali autentik.

Sejak pertama melangkah masuk, pengunjung disambut suasana damai, suara alam yang mengalun lembut, dan tampilan ruang makan yang dibuat hangat serta sederhana. Semua dirancang untuk membuat siapa pun merasa seperti pulang ke kampung sendiri.

Menu andalan Umah Gadgad adalah timbungan, masakan tradisional Bali yang kini mulai kembali digemari karena keunikannya. Timbungan dibuat dari daging atau ikan yang dimasukkan ke dalam bambu, lalu dipanggang perlahan di atas api kecil. Proses slow cooking alami ini membuat bumbu meresap sempurna, menghadirkan aroma asap bambu yang khas dan rasa yang tidak bisa ditiru oleh metode masak modern.

Namun lebih dari sekadar tempat makan, Umah Gadgad berdiri dengan cerita dan cita-cita. Pemiliknya, Ida Bagus Alit Artawan, menjelaskan bahwa “Gadgad” sebenarnya merupakan akronim dari Gerakan Anak Desa, sebuah komunitas yang dulu bergerak di bidang kepedulian lingkungan. “Dari awal cita-cita kami adalah ingin menggerakkan anak desa untuk berkarya. Konsep Umah Gadgad ini memang dibuat agar dimiliki dan diisi oleh anak-anak desa dengan karya mereka. Salah satunya lewat kuliner timbungan ini,” ungkapnya.

Di Umah Gadgad, pengunjung dapat menikmati timbungan ayam dan lele, sementara beberapa menu spesial seperti timbungan ikan julid atau empas (labi-labi) turut disajikan sesuai hasil panen petani lokal. Seluruh bahan diprioritaskan berasal dari lingkungan sekitar Desa Penarungan sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi desa. “Kami ingin menghidupkan masyarakat lewat apa yang mereka hasilkan. Kami beli langsung dari petani yang sudah berkarya di bidangnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Buka Acara Pencanangan Germas dan Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Dinas Kesehatan Badung dan MIKM Unud

Umah Gadgad buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 22.00 WITA sebagai tempat kuliner, namun akses terhadap kawasan alam di sekitarnya tetap terbuka untuk masyarakat. Karena lokasinya dekat sungai, anak-anak bisa bermain air, sementara orang tua dapat duduk santai menikmati suasana pedesaan tanpa batasan. “Alam ini milik kita semua,” tambahnya.

Tak hanya atmosfer yang memanggil, harga menu di Umah Gadgad juga sangat bersahabat. Dengan sekitar Rp. 50 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati makanan, minuman, hingga kopi sambil menikmati pemandangan desa sepuasnya. Kapasitas tempat ini mencapai 80–100 orang, cocok untuk keluarga, komunitas, maupun rombongan.

Karena proses memasak timbungan memakan waktu sekitar dua jam dari mentah hingga matang, pengunjung disarankan melakukan reservasi terlebih dahulu jika ingin menikmati menu tersebut. Meski begitu, datang langsung pun tetap diperbolehkan, tergantung ketersediaan makanan pada saat itu.

Dengan perpaduan suasana alam yang menenangkan, konsep yang penuh makna, dan cita rasa masakan Bali yang otentik, Umah Gadgad tak hanya menjadi tempat makan, tetapi ruang berkumpul, belajar, dan merayakan kekayaan tradisi desa. Sebuah alasan kuat bagi siapa pun yang ingin kabur sejenak dari kesibukan dan merayakan kehangatan pedesaan Bali.

Untuk pemesanan/ reservasi bisa hubungi (081236323171) dan lokasinya adalah https://share.google/ZLqj1FRZLwieDfTOP

Related Posts