May 23, 2022
Daerah Kesehatan

Bandel Jual Satwa Liar Kera Bali, Pak Agus Hanya Tanda Tangani Surat Pernyataan 

Denpasar-kabarbalihits 

Dalam mencegah penyebaran penyakit rabies di Denpasar, Tim Terpadu Pengendalian Penyakit Rabies Kota Denpasar melakukan Penertiban Penjualan satwa liar sebagai Hewan Pembawa Rabies (HPR) di Pasar Satria, Jalan Veteran, Denpasar pada Selasa (11/1/2022). Hal ini juga dilakukan karena maraknya penjualan satwa liar di Bali khususnya Kera yang mendapat sorotan publik dan pemerhati kesehatan hewan di Luar Negeri. 

Hasil temuan pada sidak tersebut, terbukti 7 Kera Bali ekor panjang ditemukan di lapak Nomer 82 milik Agus Ali. Agus yang kerap menjual Kera Bali secara bebas tersebut hanya menandatangani surat pernyataan dibubuhi materai 10.000. 

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Denpasar, I Made Ngurah Sugiri, temuan satwa liar jenis Kera ekor panjang ini merupakan HPR, dimana Bali saat ini endemis penyakit rabies. Salah satu pengendaliannya adalah mengatur, mengawasi peredaran ataupun lalu lintas HPR, yang sesuai dengan Perda No. 5  Tahun 2019, tentang penanggulangan penyakit rabies. 

“Yang baru kita temukan kepada pak Agus yang memperjual belikan kera ekor panjang sebanyak 7 ekor kita berikan surat pernyataan diatas materai, bersangkutan berjanji tidak akan lagi memperjual belikan kera ekor panjang dan sejenisnya,” Ucapnya. 

Apabila Agus Ali membandel dengan menjual kembali satwa liar tersebut, dari ketentuan pidana akan dikenakan denda maksimal Rp 50 Juta atau kurungan selama 6 bulan. 

“Kita memang ada tahapan-tahapannya, pertama sudah kita berikan pembinaan secara lisan, yang tadi pernyataan peringatan secara tertulis, langkah yang ketiga sampai ada temuan baru kita proses,” Jelasnya. 

Ditegaskan jenis satwa HPR yang tidak boleh dijual belikan adalah hewan yang datang dari luar Kota Denpasar seperti, Anjing, Kucing, Kera.

“Kebetulan disini ada Kera yang juga merupakan satwa liar yang sebetulnya lepas di habitatnya, dan ini keterkaitan kesejahteraan hewan sehingga ini mendapat perhatian oleh masyarakat di luar negeri yang pemerhati kesehatan hewan ini, itu jadi salah satu kita bergerak sekarang ini,” Pungkasnya. 

Disebutkan hewan musang juga termasuk HPR, yang nantinya akan diproses secara bertahap. 

“Sementara Kera yang kita fokuskan dulu,” Katanya.

Ditambahkan, sampai saat ini belum ada temuan penyakit rabies disebabkan oleh hewan Kera, hanya ditemukan dari hewan Anjing. 

“Tapi tidak menutup kemungkinan bisa berkembang Kera maupun Kucing,” Imbuhnya. 

Penjual Kera Bali, Agus Ali sebelumnya telah tersandung kasus memperjual belikan satwa liar yang dilindungi dan telah diproses secara hukum oleh BKSDA dengan pidana kurungan 6 Bulan Penjara. 

“Jadi termasuk bandel ini,” Ujarnya.

Baca Juga :  Ramai Kunjungan, Pantai Kuta Masih Tujuan Favorit Liburan Idul Fitri

Sementara Agus Ali mengaku, beberapa hewan kera yang ada dilapaknya didapatkan dari pasar hewan Beringkit, Badung. Kera tersebut dijual kembali dengan harga Rp 350 ribu hingga Rp 400 per ekor. 

“Ini baru laku 1. Ada 8 laku 1. Ini jenis monyet Bali,” Katanya. 

Agus Ali mengelak ketika ditanya berapa lama berjualan Kera Bali.

“Baru, ya kurang taulah saya. Baru-baru aja,” Tambahnya sembari menghindari kamera video. (kbh1)

Related Posts