March 5, 2021
Daerah Ekonomi

Kusir Dokar Kuta Keluhkan Situasi Sepi, Biaya Pakan Kuda Mahal

Badung – kabarbalihits

Sebelum pandemi, seringkali melihat Dokar lalu lalang menyusuri ruas jalan membawa wisatawan, di wilayah Kuta maupun Denpasar. Dengan suara lari kuda dan aksesoris kerincing serta lonceng yang khas pada Dokar, membuat para wisatawan sangat senang mengitari ruas jalan.

Namun kini, senyum para Kusir Dokar tidak selebar sebelum pandemi Covid-19 mewabah. Seperti terlihat di sudut sisi parkiran jalur Pantai Kuta, mereka tetap nangkring meski susah untuk mendapatkan satu penumpang dalam sehari.

Seperti yang dikatakan Kamarudin (55), yang telah puluhan tahun menggeluti profesi sebagai Kusir Dokar dibawah naungan Perdoden (Persatuan Dokar Denpasar). Saat ini ia mengaku ke pangkalan Dokar hanya untuk berolahraga, kalau untuk mendapat penghasilan sudah tidak mungkin.

“Ade 40 anggota. Mangkin ten ade luas. Niki tiyang sambil Olahraga. Garus ten wenten, kelaparan nike” Keluh Kamarudin di Pangkalan Dokar Kuta, (20/2).

Kusir renta yang akrab disapa Udin ini juga mengaku saat ini tidak ada penumpang sama sekali, baik dari wisatawan mancanegara maupun domestik. Ketika hari sudah sore ia harus kembali pulang. “Ten wenten napi, ape men buat tiyang. Be sing maan enjep mulih be tiyang sanje, jam 4, jam 5 mulih pun” Ucapnya.

Udin tidak mempunyai pekerjaan sampingan yang menghasilkan, hanya bertumpu dengan tenaga kudanya. Ia juga mengeluhkan dengan biaya pakan dan perawatan dua ekor kuda yang dimiliki.

“Kegiatan lain ten wenten, cuma ngerawat jaran gen nike. Perawatan lamun hitung-hitung mael, bise Rp. 50 ribu perhari” Katanya.

Udin mengakali pakan Kuda, dengan cara mencari rumput sendiri, hanya dedak dan sisa makanan yang dibeli seharga Rp.30 ribu. Jika tidak bisa membeli pakan tersebut, Udin meminjam uang untuk perawatan kudanya. “Ten wenten napi niki, sampe ngutang bin tiyang ngetang jaran. Tiyang kalih mudue Jaran” Tuturnya.

Tidak hanya di jalur Pantai Kuta, biasanya Udin bersama temannya nangkring di depan Centro, dan BeachWalk. “Lamun normal, kadang-kadang di Centro dije nyak, Jalan legian, deriki sebagian, paek beachwalk, kadang di mukak MCd, pencar-pencar, deriki dados dokar 6 gen” Katanya.

Kerap kali Udin bersama kusir lainnya harus kucing-kucingan dengan aparat, karena tidak diijinkan mangkal di wilayah tersebut, berbeda halnya dengan di wilayah Denpasar.

“Jak petugas kadang-kadang sing baange buin muter, bin meriki, kukuh-kukuhan. Yen di Denpasar kan kelolane becik pemerintah nike ngajih. Maan uang tips sabtu-minggu. Derika nambang len ngelah persatuan, deriki ten. Memang deriki ade ne ngelola, tapi kadang-kadang ade di pinggir jalan ulahe je masi nike, ken polisi, pecalang, macem-macem nike musuhne” Bebernya.

Kembali Udin mengeluhkan, saat ini tidak dapat mencari pekerjaan lainnya, hanya bisa sebagai Kusir Dokar. “Ape men alih gae, ngemaling tiyang ngalih gae kan sing cocok nike nggih” Imbuhnya.

Baca Juga :  Tradisi Banyupinaruh Dibatasi, Warga Keberatan

Sementara kusir bernama Alit Darma Putra menuturkan, jika situasi sepi ia beralih profesi menjadi tukang bangunan. Sedangkan untuk mendapatkan penumpang harus menggunakan sistem antrean di Pangkalan. Terkait tarif penumpang ia kenakan Rp. 50 ribu untuk 4 orang mengelilingi ruas jalan popies 2 Kuta. “50 ribu 4 orang, keliling popies 2. Dapat antrean nomer 3. Ini pakai nomer urutan, biar enak” Ucapnya.

Sebelumnya, meski penghasilan yang didapatkan tidak selalu sama tiap harinya, namun Alit Darma mengaku pernah mendapatkan uang Rp. 100 ribu per hari. “Dulu pernah dapat Rp. 100 ribu. Sehari ngga tentu, kadang dapat kadang enggak, rejeki kan sudah ada yang ngatur” Ujarnya.

Senada dengan Udin, Alit Darma juga mengeluhkan biaya pakan untuk Kuda peliharaannya. Ia berharap situasi kembali normal, dan mendapat penghasilan melebihi biaya perawatan Kudanya. (kbh1)

Related Posts