
Unwar Disambangi BKSAP DPR RI, Serap Aspirasi Pemuda dan Bahas Tantangan AI
Denpasar-kabarbalihits
Universitas Warmadewa (Unwar) menjadi salah satu kampus yang mendapat kehormatan menerima kunjungan kerja Delegasi Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Kamis (27/8). Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat dialog antara parlemen dan perguruan tinggi, khususnya dalam menyerap aspirasi generasi muda terkait pendidikan, lapangan pekerjaan, transformasi digital, kecerdasan artifisial (AI), hingga pembangunan berkelanjutan.
Delegasi BKSAP DPR RI dipimpin Ketua BKSAP DPR RI Dr. Syahrul Aidi Maazat, L.c., MA. Turut hadir para Wakil Ketua BKSAP, yakni Irine Yusiana Roba Putri, S.Sos., M.Comn&MediaSt, Muhammad Husein Fadlulloh, B.Bus., M.M., M.B.A., dan Bramantyo Suwondo, M.IR. Selain itu, hadir pula anggota BKSAP DPR RI Nila Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP., Dr. Hj. Adde Rosi Khoerunnisa, S.Sos., M.Si., Andina Thresia Narang, B.Comm., Habib Aboe Bakar Alhabsyi, S.E., Hj. Meitri Citra Wardani, S.H., dan Surya Utama, S.I.P.
Kunjungan kerja tersebut mengangkat isu strategis mengenai kepemudaan. Pemuda dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam menentukan arah pembangunan nasional sekaligus global. Dengan jumlah penduduk usia muda yang besar, Indonesia memiliki potensi demografis yang dapat menjadi modal penting dalam meningkatkan produktivitas, inovasi, transformasi digital dan daya saing nasional.
Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan kapasitas generasi muda, memperluas kesempatan dan memastikan keterlibatan mereka dalam proses pembangunan maupun pengambilan keputusan. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pemuda tidak lagi cukup ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan. Generasi muda harus menjadi subjek, mitra sekaligus agen perubahan. Pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, pembangunan berkelanjutan serta institusi yang inklusif menjadi sejumlah isu yang memiliki keterkaitan erat dengan pemberdayaan pemuda.
Perkembangan teknologi digital dan AI, perubahan struktur ekonomi serta munculnya pola kerja baru juga menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kompetensi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kewirausahaan serta kesadaran terhadap persoalan lingkungan dan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Warmadewa Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, M.P. menyoroti secara khusus perkembangan AI yang telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari cara bekerja, belajar, berkomunikasi, melakukan penelitian hingga mengambil keputusan.
Menurutnya, bagi generasi muda, perkembangan AI menghadirkan peluang yang sangat besar. Teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa meningkatkan produktivitas, mengeksplorasi ide, memahami konsep yang kompleks, melakukan analisis data, mengembangkan kreativitas hingga melahirkan inovasi dan kewirausahaan baru.
Namun, di sisi lain, perguruan tinggi harus memastikan pemanfaatan AI tidak justru menyebabkan menurunnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, integritas akademik dan kemandirian mahasiswa. “Apakah AI boleh digunakan atau tidak? Yang penting adalah bagaimana AI digunakan secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan manusia yang lebih kompeten,” tegasnya.
Rektor menjelaskan, Universitas Warmadewa mengacu pada Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Panduan tersebut menekankan bahwa GenAI dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga memiliki risiko seperti plagiarisme, ketergantungan terhadap AI dan menurunnya kemampuan berpikir kritis apabila digunakan secara tidak bijaksana.
Karena itu, menurutnya, literasi AI harus berjalan beriringan dengan etika, integritas akademik, perlindungan data dan privasi serta tanggung jawab pengguna. Mahasiswa perlu dipersiapkan menjadi generasi yang AI-literate, yakni mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, kritis dan bertanggung jawab. “Pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang apa yang kita wariskan kepada generasi berikutnya, tetapi juga tentang seberapa besar kita memberikan kesempatan kepada generasi muda hari ini untuk ikut menentukan masa depannya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Shri Kesari Warmadewa yang menaungi Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si., menyoroti persoalan masa depan para lulusan perguruan tinggi. Ia berpesan kepada para wakil rakyat agar turut memikirkan solusi terhadap tingginya jumlah lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan setiap tahun. Menurutnya, perguruan tinggi bahkan dapat meluluskan mahasiswa hingga dua kali dalam setahun, sehingga diperlukan kebijakan dan strategi konkret agar para lulusan memiliki masa depan yang jelas.
“Kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh mereka atau mau dibawa ke mana mereka? Memang jawaban simpelnya arahnya pasti ke job creator,” ungkapnya.
Menurut Wisnumurti, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang memungkinkan lulusan menjadi pencipta lapangan kerja. Karena itu, sinergi antara pemerintah, parlemen dan perguruan tinggi menjadi penting untuk melahirkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda. Di sisi parlemen, Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat mengatakan, berbagai aspirasi yang disampaikan mahasiswa dalam pertemuan tersebut akan dihimpun, dikaji dan selanjutnya disuarakan dalam forum-forum parlemen, baik di tingkat regional maupun internasional.
“Aspirasi daripada mahasiswa yang juga pemuda ini akan kita himpun dan kemudian akan kita kaji dan kita akan suarakan itu di forum-forum parlemen baik itu di regional ataupun di forum internasional,” katanya.
Menurut Syahrul, sejumlah persoalan yang menjadi perhatian generasi muda antara lain kepastian dan peluang pekerjaan, kesempatan memperoleh pendidikan serta kesejahteraan. Besarnya jumlah pemuda Indonesia juga menjadi kekuatan tersendiri dalam diplomasi parlemen.
Ia menyebut, sekitar 40 persen populasi ASEAN berasal dari Indonesia dan sekitar 60 persen penduduk Indonesia merupakan generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi Indonesia dalam memperjuangkan isu kepemudaan di berbagai forum internasional. “Di forum IPU misalnya ada Youth Parliament di IPU yang memang menunjukkan bahwa internasional sangat konsen dengan masalah pemuda,” ujarnya.
Anggota BKSAP DPR RI Andina Thresia Narang juga menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan mahasiswa Unwar. Menurutnya, BKSAP memiliki peran sebagai jalur diplomasi parlemen yang dapat membawa aspirasi masyarakat Indonesia ke berbagai organisasi dan forum internasional. “Kami dari BKSAP menyambut baik masukan-masukan dari semua mahasiswa yang hadir pada hari ini,” kata Andina.
Ia menilai, salah satu masukan penting yang muncul adalah perlunya penguatan literasi AI dan literasi digital. Menurutnya, perkembangan AI harus diikuti dengan upaya melindungi masyarakat dari dampak negatif teknologi, tanpa menghambat ruang kreativitas dan inovasi.
“Kita juga ingin melindungi semua masyarakat Indonesia untuk tidak terdampak terhadap AI ini, tetapi juga tidak menutup keleluasaan orang untuk berkreativitas menggunakan AI. Masyarakat harus diberikan literasi digital, jangan sampai masyarakat mendapatkan mudaratnya dari ruang digital ini,” jelasnya.
Dari kampus, suara pemuda pun diharapkan dapat menembus ruang-ruang pengambilan kebijakan, termasuk forum parlemen nasional, regional dan internasional.(kbh2)


