November 6, 2026
Pendidikan

Penguatan Ketahanan Pangan, Tim PKM Unwar Gelar Revitalisasi Usaha Budidaya Lele Berbasis Manajemen Keuangan, Pemasaran Digital, dan Inovasi Produk Olahan

Gianyar-kabarbalihits

Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha budidaya ikan lele terus dilakukan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. Salah satunya diwujudkan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Warmadewa (Unwar) melalui program “Penguatan Ketahanan Pangan melalui Revitalisasi Usaha Budidaya Lele Berbasis Manajemen Keuangan, Pemasaran Digital, dan Inovasi Produk Olahan.”

Program ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 yang mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program tersebut menyasar komunitas budidaya lele Mina Gaga Mekar, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.

Kegiatan ini diketuai Dr. Putu Yudha Asteria Putri, S.E., M.Si., dengan anggota Dr. Ida Ayu Cynthia Saisaria Mandasari, S.E., M.M. dari FEB Universitas Warmadewa serta Dr. drh. Nyoman Yudiarini, S.KH., M.Agb. dari Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Program pendampingan dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis budidaya, tetapi juga memperkuat aspek manajemen usaha yang selama ini menjadi tantangan bagi kelompok pembudidaya. Pendampingan dilakukan secara intensif melalui perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), laba, simulasi titik impas atau Break Even Point (BEP), penyusunan rencana usaha hingga pengelolaan arus kas.

Selain penguatan manajemen keuangan, tim PKM juga memberikan pelatihan diversifikasi produk olahan lele, termasuk aspek higienitas dan standar mutu. Langkah ini diharapkan mampu mengubah hasil budidaya yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk ikan segar menjadi produk bernilai tambah.

Ketua tim PKM, Dr. Putu Yudha Asteria Putri, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari sejumlah persoalan yang dihadapi mitra, mulai dari aspek produksi, pemasaran hingga pengolahan produk.

“Jadi yang pertama itu adalah pada aspek produksi, lalu ada pada aspek pemasaran, dan pada aspek olahan produk. Sebetulnya produk olahan lele ini sangat jarang kita temukan di pasaran. Nah, itu yang akan kita gali karena memiliki potensi untuk dikembangkan oleh mitra,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu fokus utama pendampingan adalah membangun kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya pencatatan keuangan yang tertib. Mitra tidak hanya diarahkan untuk mencatat pengeluaran, tetapi juga membiasakan pencatatan pendapatan dan transaksi harian secara rutin.

Dengan pencatatan tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat mengetahui secara lebih akurat berapa biaya yang dikeluarkan, pendapatan yang diperoleh, hingga keuntungan bersih yang sebenarnya.

“Harapan kami, mitra tidak hanya mencatat secara berkala pengeluaran yang mereka lakukan, tetapi pencatatan laporan harian juga dilakukan secara rutin. Sehingga nantinya mitra tahu berapa pengeluaran, berapa pendapatan, dan mendapatkan gambaran keuntungan yang sebenarnya,” jelasnya.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah pemasaran. Selama ini, pemasaran hasil budidaya masih banyak mengandalkan tengkulak sehingga ruang bagi mitra untuk memperoleh keuntungan lebih besar menjadi terbatas.

Karena itu, tim PKM mendorong mitra mulai memanfaatkan pemasaran digital agar jangkauan konsumen semakin luas. Dengan pemasaran secara online, produk tidak lagi hanya menyasar masyarakat di sekitar lokasi usaha atau bergantung pada tengkulak, tetapi dapat diperkenalkan kepada konsumen yang lebih luas.

Strategi tersebut kemudian diperkuat dengan diversifikasi produk berupa frozen food berbahan dasar lele. Inovasi ini diharapkan menjadi sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan nilai jual hasil budidaya.

“Untuk pemasaran masih dalam ranah penjualan kepada tengkulak, sehingga mitra tidak mendapatkan keuntungan secara maksimal. Kami melakukan sosialisasi pemasaran secara online agar bukan hanya orang sekitar atau tengkulak yang membeli, tetapi juga masyarakat luas,” katanya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, tim PKM juga memberikan sejumlah peralatan yang dapat menunjang aktivitas produksi dan pengembangan usaha mitra. Bantuan tersebut antara lain mesin vacuum untuk mengemas produk olahan lele, mesin pompa, mesin aerator, serta freezer untuk mendukung produksi dan penyimpanan produk frozen food.

Pemberian peralatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan semata, tetapi menjadi bagian dari ekosistem usaha baru yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas produk, memperpanjang daya simpan, sekaligus memperluas pemasaran.

Program yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat agar mampu mengembangkan usaha secara lebih profesional. Pada akhirnya, penguatan usaha budidaya lele diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan mitra, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan menciptakan usaha masyarakat yang mampu bertahan secara berkelanjutan.

Related Posts