November 6, 2026
Pendidikan

Karya Siswa Abiansemal Curi Perhatian Bupati di Badung Education Fair 2026

Badung-kabarbalihits

Kreativitas dan kepedulian lingkungan yang ditunjukkan insan pendidikan di Kecamatan Abiansemal berhasil mencuri perhatian dalam gelaran Badung Education Fair (BEF) 2026. Bahkan, di sela-sela pembukaan acara yang berlangsung di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Selasa (9/6/2026), Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa juga meninjau stand Kecamatan Abiansemal dan memberikan apresiasi atas berbagai inovasi yang ditampilkan.

Salah satu karya yang mendapat perhatian khusus adalah paving block berbahan dasar sampah plastik yang diproduksi oleh siswa SMP Negeri 1 Abiansemal. Inovasi tersebut dinilai menjadi contoh nyata bagaimana dunia pendidikan mampu menghadirkan solusi kreatif terhadap persoalan sampah yang tengah menjadi tantangan besar di Bali, khususnya Kabupaten Badung.

Badung Education Fair 2026 sendiri digelar selama tiga hari, 9–11 Juni 2026, dengan mengusung berbagai agenda strategis, mulai dari sosialisasi beasiswa Pemkab Badung, pameran kampus dan sekolah, hingga panggung prestasi dan lomba bagi pelajar. Pada hari pembukaan juga dirangkaikan dengan peluncuran Program Beasiswa Nak Badung bagi siswa SMA dan mahasiswa yang memiliki Kartu Keluarga (KK) Badung.

Di antara puluhan peserta pameran, stan Kecamatan Abiansemal menjadi salah satu yang paling menyita perhatian. Beragam karya yang dipamerkan merupakan hasil pemanfaatan sampah yang diolah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Ketua Panitia Stan Pameran Kecamatan Abiansemal, I Gede Ananda Saputra, menjelaskan bahwa stan tersebut mengusung nama SEMAL, singkatan dari Sampah Edukasi Menjadi Art Lestari. Stand ini merupakan hasil kolaborasi seluruh jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.

“Anak-anak dari tingkat TK sampai SMP berkolaborasi menciptakan karya sesuai tema pemanfaatan sampah. Kami ingin menunjukkan bahwa sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai,” ujarnya.

Dari jenjang taman kanak-kanak (TK), salah satu karya yang menarik perhatian adalah tempat dupa yang dibuat dari limbah canang. Ketua IGTKI Kecamatan Abiansemal, Ida Bagus Ketut Muliya, S.Pd.AUD, menjelaskan bahwa keterlibatan anak-anak TK dalam kegiatan pendidikan lingkungan kini semakin ditingkatkan.

“Kalau tahun sebelumnya anak-anak TK lebih banyak terlibat dalam kegiatan hiburan, sekarang semua lembaga dirangkul untuk ikut berkarya melalui lomba kolase, lomba mewarnai, dan kegiatan kreatif lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, TK Werdi Kumara menampilkan produk tempat dupa yang dibuat dari sisa-sisa canang purnama dan tilem. Limbah canang tersebut terlebih dahulu diolah menggunakan mesin hingga menjadi serbuk, kemudian dicampur semen dan dicetak menjadi tempat dupa yang memiliki nilai guna.

“Ini menjadi sarana edukasi yang sangat baik bagi anak-anak untuk belajar mengolah sampah sejak usia dini,” tambahnya.

Pada jenjang sekolah dasar, SD Negeri 4 Darmasaba menghadirkan berbagai karya seni berbahan daur ulang yang terinspirasi budaya Bali. Pendamping siswa, I Dewa Ketut Arta Saputra, menjelaskan bahwa karya yang dipamerkan merupakan hasil kegiatan kokurikuler siswa.

“Kami menampilkan miniatur Barong, Rangda, serta beberapa ogoh-ogoh mini yang dibuat oleh siswa. Semua karya ini merupakan bagian dari pengembangan kreativitas dan pelestarian budaya yang kami lakukan di sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, SMP Negeri 1 Abiansemal tampil dengan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block. Ketua Tim Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) SMP Negeri 1 Abiansemal, I Made Agus Kencana Yasa, mengatakan pihaknya membawa sejumlah produk hasil pengolahan sampah, termasuk eco-enzyme dan berbagai kerajinan berbahan plastik bekas.

“Kami membawa produk paving block berbahan dasar plastik bekas yang sudah diolah, eco-enzyme, serta berbagai hasil kreativitas siswa dari limbah plastik yang dihias dan dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Proses pembuatan paving block tersebut dijelaskan langsung oleh salah satu siswi, Kadek Candra Pradnya Dewi. Ia menerangkan bahwa sekolah telah memiliki alat pencetak paving block berbasis pemanasan yang mampu mengolah berbagai jenis sampah plastik sekali pakai, botol plastik, hingga kemasan plastik bekas.

Menurutnya, proses produksi diawali dengan memanaskan oli dalam alat khusus. Setelah suhu mencapai tingkat tertentu, sampah plastik dimasukkan secara bertahap hingga meleleh dan menyatu. Campuran tersebut kemudian dialirkan ke cetakan bersama pasir sebelum didinginkan selama satu hingga dua jam hingga menjadi paving block siap pakai.

“Inovasi ini kami lakukan untuk mengurangi sampah plastik sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat,” katanya.

Keberhasilan kolaborasi lintas jenjang pendidikan di Kecamatan Abiansemal menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang tumbuhnya kepedulian lingkungan dan kreativitas siswa. Melalui karya-karya tersebut, para pelajar membuktikan bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari lahirnya inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Apresiasi yang diberikan Bupati Badung terhadap karya-karya tersebut menjadi dorongan positif agar semangat pengelolaan sampah berbasis pendidikan terus berkembang. Dari tangan-tangan kreatif para pelajar Abiansemal, sampah yang selama ini dianggap masalah berhasil disulap menjadi solusi, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menjaga lingkungan dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.(kbh2)

Related Posts