November 4, 2026
Lifestyle

Hiburan dan Inovasi Lighting dalam Satu Festival, Enlightened Bali 2026 Hadir Agustus Mendatang

Gianyar-kabarbalihits

Festival pencahayaan berskala internasional, Enlightened Bali 2026, kembali hadir tahun ini dengan konsep yang lebih luas dan imersif. Mengusung tema “Pasar Malam”, festival empat hari ini akan menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan dunia seni, sains, budaya, hingga perkembangan masa depan industri pencahayaan (lighting).

Rencana pelaksanaan festival tersebut dibahas dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Ketewel, Gianyar, Kamis (21/5/2026). Hadir sebagai narasumber diantaranya Direktur Dua Lighting sekaligus Co-Founder Enlightened Bali, Robby Permana Mannas, Founder dan Direktur Lumina Group serta Light Talk ID sekaligus Founder Enlightened Bali, Abdi Ahsan, dan Founder & Direktur Studio Sensar sekaligus Ketua Panitia Pasar Malam, Diva Anadria.

Festival ini terinspirasi dari budaya pasar malam di Indonesia yang selama ini dikenal sebagai ruang berkumpul, berekspresi dan berinteraksi. Melalui konsep tersebut, Enlightened Bali 2026 akan menghadirkan perpaduan edukasi, hiburan, budaya, dan eksplorasi cahaya dalam suasana malam yang interaktif.

Ketua Panitia Pasar Malam, Diva Anandria mengatakan Enlightened Bali tahun ini akan berlangsung pada 13–16 Agustus 2026 di Big Garden Corner, Sanur.

“ini merupakan penyelenggaraan Enlightened Bali yang kedua. Kegiatan ini sangat relevan untuk arsitek, interior designer, pelaku perhotelan, developer hingga siapa pun yang ingin memahami pembangunan dan desain pencahayaan,” ujar Diva.

Menurutnya, festival tersebut akan menghadirkan sejumlah pembicara internasional dari berbagai negara seperti Inggris, Jepang, Australia dan Singapura.

“kami mendatangkan profesor dan profesional internasional. Sangat penting bagi pelaku industri pembangunan untuk hadir karena di sini akan banyak pengetahuan baru yang dibagikan,” katanya.

Tak hanya menyasar pelaku industri, acara ini juga dibuka untuk masyarakat umum. Sekitar 20 exhibitor akan berpartisipasi dalam festival tersebut dengan pilihan tiket seminar, tiket area pasar malam, hingga tiket khusus pelajar.

Baca Juga :  “Run For Rivers 2026” Resmi Diluncurkan di Kedonganan, Gerakan Lari 1.200 Km Lawan Sampah Plastik hingga Jakarta

Diva menilai pencahayaan bukan sekadar elemen estetika, namun memiliki dampak besar terhadap kehidupan manusia sehari-hari.

“Lighting memiliki hubungan yang erat dengan psikologi dan fisiologi manusia. Cara kita mengatur pencahayaan di rumah, misalnya, dapat memengaruhi kualitas hidup,” jelasnya.

Ia menjelaskan pencahayaan yang tidak tepat dapat mengganggu ritme biologis tubuh, termasuk memengaruhi produksi hormon.

“ketika ruangan terlalu terang pada malam hari, tubuh bisa menganggap situasi masih siang sehingga hormon tidur atau melatonin tidak diproduksi secara optimal. Sebaliknya tubuh memproduksi hormon kortisol yang membuat seseorang sulit beristirahat,” ujarnya.

Diva juga mencontohkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan perubahan desain pencahayaan pada ruang belajar anak mampu meningkatkan kemampuan motorik dan daya ingat.

Selain menghadirkan seminar dan diskusi, konsep “Pasar Malam” juga akan dipenuhi unsur hiburan. Pengunjung dapat menikmati area UMKM, kuliner, pertunjukan seni hingga Creature Walk of Fame yang menampilkan karakter budaya seperti Barong sebagai bagian dari atraksi interaktif.

Robby Permana Mannas, Direktur Dua Lighting sekaligus Co-Founder of Enlightened Bali menekankan, pencahayaan memiliki kekuatan untuk mengangkat atau justru menghancurkan sebuah proyek pengembangan. Disebut pencahayaan berperan langsung terhadap kualitas pengalaman manusia di dalam sebuah bangunan, baik bagi pengguna ruang maupun pekerja di dalamnya.

“Solusinya adalah membangun pemahaman kolektif bahwa lighting adalah investasi fundamental yang nyata, bukan pelengkap di akhir proyek.”ucapnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga mulai masuk ke industri pencahayaan. Founder Enlightened Bali, Abdi Ahsan menjelaskan AI telah dimanfaatkan untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam proyek lighting, meski belum mampu sepenuhnya menggantikan peran desainer.

“AI sudah mulai masuk ke dunia lighting, baik untuk pengembangan pengetahuan maupun membantu pengambilan keputusan dalam proyek. Tetapi untuk desain, AI masih belum bisa menggantikan manusia karena aspek pengetahuannya masih terbatas,” ujarnya.

Baca Juga :  Hadir di Kawasan Berawa, Konsep Unik The Luc Lifestyle Berikan Warna Pariwisata Bali

Tak hanya teknologi, isu lingkungan juga menjadi perhatian dalam festival ini. Salah satu topik yang akan diangkat yakni terkait polusi cahaya (light pollution) yang berpotensi menghilangkan kemampuan menikmati langit malam.

“kita ingin menjaga agar langit tetap gelap dan bintang masih bisa terlihat. Di beberapa kota besar hal itu mulai hilang karena polusi cahaya. Bali masih punya kesempatan untuk menjaganya,” kata Abdi.

Melalui seminar dan lokakarya bertema Human Intent Plus Revenue, pihaknya berharap desain pencahayaan tidak hanya berorientasi pada estetika dan kebutuhan manusia, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi.

Festival ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai pusat kreativitas yang menghubungkan seni, teknologi dan inovasi masa depan. (kbh1)

Related Posts