Debut Perdana di Asia, Paradisus by Meliá Bali Bidik Tren Wisata Premium di Bali
Badung-kabarbalihits
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) resmi meluncurkan Paradisus by Meliá Bali di kawasan The Nusa Dua, Bali, sebagai langkah memperkuat pasar luxury travel dan hospitality premium di Indonesia. Grand opening resort mewah berkonsep all-inclusive itu digelar pada 15–17 Mei 2026.

Sebelumnya properti ini dikenal sebagai Meliá Bali Hotel yang kini bertransformasi menjadi Paradisus Bali, bagian dari brand global Paradisus di bawah jaringan Meliá Hotels International. Kehadirannya sekaligus menandai debut konsep luxury all-inclusive pertama di Asia yang kini hadir di Bali.
Paradisus Bali mengusung konsep “all in one experience”, yakni pengalaman menginap terintegrasi di mana berbagai kebutuhan tamu dapat dinikmati langsung di dalam kawasan resort. Resort ini memiliki 492 luxury rooms termasuk tujuh private garden villas, empat kolam renang, akses langsung ke pantai, hingga area khusus dewasa.
Dari sisi kuliner, Paradisus Bali menghadirkan delapan restoran dengan pilihan menu Jepang, Asian Fusion, Timur Tengah, Spanyol hingga Mediterranean, serta lima bar yang dapat dinikmati para tamu.
Tak hanya menawarkan fasilitas premium, resort ini juga mengusung konsep liburan berbasis pengalaman. Berbagai aktivitas seperti snorkeling, kano, paddle board, yoga, bersepeda hingga aktivitas budaya Bali telah termasuk dalam paket all-inclusive yang ditawarkan kepada tamu.
Selain itu, tersedia pula fasilitas family-friendly seperti teenager club, water park, kids pool hingga layanan Family Concierge yang dirancang khusus untuk kebutuhan keluarga. Sementara bagi tamu dewasa, tersedia area eksklusif “The Reserve” yang mengedepankan privasi dan layanan premium.

Presiden Direktur SSIA, Johannes Suriadjaja, mengaku optimistis terhadap prospek wisata premium di Bali pada 2026, meski industri pariwisata global masih dibayangi situasi geopolitik dunia.
“kita memang khawatir terhadap situasi perang di Middle East. Tapi kita harus agile dan berani mendapatkan market baru, terutama di Asia dan Australia,” ujarnya saat konferensi pers, Sabtu (17/6/2026).
Menurut Johannes, pasar Australia dinilai lebih mudah menerima konsep all-inclusive luxury resort karena sudah cukup familiar. Sementara pasar Asia seperti Korea, China, Jepang hingga kawasan ASEAN masih membutuhkan edukasi lebih lanjut.
“yang challenging nanti Asia. Kita harus edukasi terus market dengan konsep ini. Mungkin perlu waktu dua sampai tiga tahun sampai benar-benar matang,” katanya.
Ia menilai konsep luxury all-inclusive seperti Paradisus memiliki prospek besar di Bali. Bahkan, pihak Meliá Hotels International meyakini konsep serupa akan mulai banyak diadopsi operator hotel lain ke depan.
“tahun pertama ini event akan membuat properti ini mencapai standar yang diharapkan ke depannya. Kami lihat tahun ini pun harusnya sudah terlihat positif,” tambahnya.
Dalam pengembangan resort tersebut, SSIA menggelontorkan investasi besar mencapai Rp1,2 triliun hanya untuk proses renovasi dan transformasi hotel lama menjadi Paradisus by Meliá Bali.
“Investasinya tidak main-main. Itu hanya renovasi, bukan membangun baru,” tegas Johannes.
Saat ini tingkat okupansi hotel disebut masih berada di kisaran 50–60 persen karena baru mulai beroperasi. Namun SSIA menargetkan peningkatan signifikan dalam dua tahun ke depan.
“kami harapkan tahun depan okupansi bisa di angka 70 persen, dan 2028 bisa mencapai 78–80 persen seperti masa kejayaan Meliá Bali dulu yang menjadi salah satu hotel dengan performa terbaik di Bali,” jelasnya.
Dengan proyeksi tersebut, perusahaan memperkirakan investasi dapat kembali dalam waktu sekitar enam hingga tujuh tahun.
Selain menyasar wisatawan premium, transformasi hotel juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal. Johannes menyebut jumlah karyawan meningkat sekitar 20 persen dibanding sebelumnya, seiring bertambahnya fasilitas seperti restoran dan layanan baru di resort.
“saya rasa dengan adanya banyak restoran dan fasilitas tambahan, ada peningkatan sekitar 20 persen dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga mengaku tersentuh melihat banyak generasi kedua keluarga karyawan yang kini bekerja di resort tersebut.
“selama jalan-jalan di resort, saya lihat banyak generasi kedua dari karyawan kita yang bekerja di sini. Kalau orang tuanya sudah retired, mereka bisa menunjuk anak-anaknya untuk bekerja. Itu sangat menyentuh hati,” katanya.
Sementara itu, General Manager Paradisus Bali, Eduardo Castro Perera, mengatakan transformasi resort tersebut menjadi hasil pembaruan besar setelah lebih dari 40 tahun beroperasi sebagai Meliá Bali Hotel.
“dengan semangat pelayanan yang baru, Paradisus Bali siap memberikan pengalaman menginap terbaik dan tak terlupakan bagi para tamu di Bali,” ujarnya.
Kehadiran Paradisus by Meliá Bali diharapkan menjadi ikon baru pariwisata premium di Pulau Dewata sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar luxury hospitality global. (kbh1)


