April 11, 2026
Daerah Kesehatan

Hapus Stigma Epilepsi Bukan Kutukan, SMC RS Telogorejo Gelar Seminar “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja”

Badung – kabarbalihits

Masalah epilepsi pada anak dan remaja kerap menjadi perjalanan panjang yang penuh tantangan bagi orang tua, terlebih ketika masuk kategori drug-resistant epilepsy atau epilepsi kebal obat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup anak serta kondisi psikologis keluarga.

Menjawab kebutuhan akan edukasi dan solusi medis terkini, Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center menggelar seminar awam bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja” pada Sabtu (11/4/2026), di Four Points by Sheraton, Kuta, Badung.

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus menghadirkan harapan baru bagi keluarga pasien epilepsi, dengan pendekatan medis komprehensif berbasis teknologi terkini. Peserta yang terdiri dari orang tua, tenaga medis, hingga masyarakat umum mendapatkan pemaparan mengenai definisi epilepsi kebal obat, pilihan terapi, hingga indikasi tindakan bedah.

Tak hanya itu, acara ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman langsung dari epilepsy survivor, yang diharapkan dapat memberikan perspektif serta harapan bagi para penderita dan keluarga.

Hadir sebagai pembicara, Prof. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS, spesialis bedah saraf, serta Dr. dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A, Sp.Neuro (K), spesialis anak konsultan neurologi, yang membagikan wawasan dan pengalaman klinis mereka dalam menangani kasus epilepsi.

Direktur Marketing SMC RS Telogorejo, Diana Loretta, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya edukasi masif yang telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

“jadi memang untuk workshop ini tujuannya untuk edukasi kepada masyarakat, khususnya di daerah Bali. Sebelumnya kami juga sudah melakukan edukasi di berbagai daerah seperti Pangkalan Bun, Bandung, Purwokerto, dan lainnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Alokasikan Dana Memadai Program Strategis, Fraksi PDI Perjuangan Apresiasi Raperda Perubahan APBD 2023

Ia menyoroti masih kuatnya stigma di masyarakat yang kerap salah memahami epilepsi.

“kadang orang mengira itu kerasukan atau kutukan. Padahal sebenarnya itu adalah kondisi medis yang bisa diobati,” tambahnya.

Diana juga menyebutkan bahwa kehadiran SMC di Bali tidak hanya untuk edukasi, tetapi juga memperkenalkan layanan sebagai rumah sakit rujukan nasional dengan dukungan tenaga ahli berpengalaman.

“tujuan kami datang ke Bali selain edukasi juga agar masyarakat mengenal kami sebagai rumah sakit rujukan nasional, dengan tenaga profesional yang berpengalaman, termasuk yang menempuh pendidikan bedah saraf epilepsi di Jepang,” jelasnya.

Dijelaskan, Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo merupakan institusi layanan kesehatan terkemuka di Indonesia yang memiliki fokus pada layanan unggulan jantung, saraf (Neuro Center), dan penyakit kompleks lainnya.

SMC RS Telogorejo memiliki tiga Center of Excellence yaitu Telogorejo Heart Center (THC), Telogorejo Neuro Center (TNC), dan Telogorejo Fertility Center (TFC). Didukung oleh teknologi medis terkini dan tim dokter spesialis yang kompeten, RS Telogorejo berdedikasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berfokus pada keselamatan pasien.

Sementara itu, Corporate Business Marketing Communication Yayasan Kesehatan Telogorejo, Adhitia Budi, menegaskan bahwa epilepsi masih kerap diselimuti stigma yang harus diluruskan melalui edukasi.

“sebagian besar orang masih melihat epilepsi sebagai kutukan. Padahal epilepsi itu bisa dipelajari dan diobati,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa Bali dipilih sebagai lokasi edukasi karena perannya sebagai hub kawasan Indonesia timur.

“Bali ini hub ke Lombok, NTB, dan NTT. Jadi kami juga mengundang pasien dari daerah-daerah tersebut untuk ikut mendapatkan edukasi,” katanya.

Tak hanya menyasar orang tua, kegiatan ini juga melibatkan tenaga pendidik. Lebih jauh, Adhitia menekankan pentingnya menghapus stigma melalui edukasi berkelanjutan.

Baca Juga :  Dinas Pertanian Badung Panen Bawang Merah Hasil Demplot di Subak Sengempel

“Seminar ini salah satu upaya untuk menghapus stigma epilepsi di masyarakat,” tegasnya.

Dengan pendekatan edukatif dan berbasis medis, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat serta membuka akses penanganan yang lebih tepat bagi penderita epilepsi, khususnya di Bali dan kawasan Indonesia timur.

Dari sisi medis, Dr. dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A, Sp.Neuro(K), mengungkapkan bahwa faktor genetik bukan penyebab utama epilepsi.

“faktor genetik itu hanya sekitar 25 persen dan sulit dibuktikan. Epilepsi pada dasarnya adalah kondisi medis,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa angka kasus epilepsi cukup tinggi, termasuk di Bali. Disebut angka kejadian epilepsi sekitar 7–8 per 100 ribu penduduk, dan sekitar 30 persen menjadi epilepsi kebal obat.

Menurutnya, peningkatan kasus yang terlihat saat ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berobat.

“trennya meningkat karena kesadaran masyarakat untuk berobat semakin baik. Dulu banyak yang disembunyikan karena malu,” ujarnya.

Untuk kasus epilepsi kebal obat, tersedia berbagai pilihan terapi, mulai dari non-bedah hingga pembedahan.

“terapi bisa berupa diet ketogenik, terapi listrik, hingga operasi. Tapi tidak semua pasien bisa dioperasi, harus diseleksi berdasarkan fokus epileptogenik di otak,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa epilepsi bukan penyakit mistis, melainkan kondisi medis yang dapat ditangani.

“epilepsi itu penyakit medis biasa yang bisa diobati, bahkan bisa sembuh. Jadi mari kita luruskan mitos-mitos yang masih berkembang,” tegasnya.

Seminar ini juga menghadirkan testimoni dari Made Arimbawa, seorang dokter sekaligus orang tua pasien epilepsi, yang menceritakan perjalanan panjang putrinya hingga menjalani dua kali operasi.

“setelah operasi kedua tahun 2016, kejang putri kami menurun drastis. Dalam 10 tahun terakhir hanya terjadi lima kali, dari sebelumnya bisa 3–4 kali per minggu,” ungkapnya.

Baca Juga :  14.800 Penduduk Buleleng Telah Registrasi IKD

Ia menyebut kondisi anaknya kini jauh lebih baik dan mampu menjalani kehidupan normal.

“sekarang sudah beraktivitas normal, bahkan berprestasi secara akademik dan sudah lulus kuliah,” tambahnya.

Melalui kisah tersebut, ia berharap masyarakat tidak lagi memandang epilepsi dengan stigma negatif.

“mari kita saling merangkul dan mendukung penderita epilepsi, agar mereka tidak terpuruk secara mental,” pesannya. (kbh1)

Related Posts