
Bawaslu Bali Merawat Partisipasi, Menjaga Demokrasi
Gianyar – kabarbalihits
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di Masjid Al Ikhlas Sukawati tidak hanya diisi lantunan doa dan percakapan ringan warga. Kamis petang itu, ruang ibadah sekaligus ruang sosial tersebut menjadi arena pendidikan politik yang cair. Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, hadir dalam kegiatan bertajuk “Ngabuburit Pengawasan”, sebuah forum dialog yang memadukan refleksi Ramadan dengan penguatan kesadaran demokrasi.
Bagi Suguna, pengawasan pemilu tidak boleh berhenti sebagai kerja teknokratis yang kering dari partisipasi publik. Ia menekankan, kualitas demokrasi bukan semata soal prosedur yang terpenuhi, melainkan tentang sejauh mana warga merasa memiliki proses tersebut.
“Pengawasan tidak mungkin hanya bertumpu pada lembaga. Ia harus hidup di tengah masyarakat,” demikian ia menegaskan dalam forum tersebut.
Ngabuburit, dalam konteks ini, menjadi strategi kultural. Momentum menunggu azan magrib dimanfaatkan untuk membangun percakapan kritis, tentang pentingnya menjaga integritas proses pemilu, mengenali potensi pelanggaran, hingga keberanian warga melaporkan dugaan pelanggaran. Formatnya sengaja dibuat dialogis, tidak seremonial. Peserta duduk, bertanya, menyanggah, sekaligus berbagi pengalaman.
Pilihan lokasi di masjid bukan tanpa makna. Selain sebagai pusat ibadah, masjid kerap menjadi simpul interaksi sosial yang egaliter. Di ruang itulah, pendidikan politik menemukan relevansinya, dekat dengan keseharian warga, tidak berjarak dengan realitas.
Suguna juga mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat bertumpu pada literasi politik yang memadai. Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi digital, masyarakat perlu dibekali kemampuan memilah informasi, memahami hak dan kewajiban politiknya, serta berpartisipasi secara bertanggung jawab. “Partisipasi bukan hanya datang ke TPS, tetapi juga memastikan prosesnya berjalan jujur dan adil,” ujarnya pada Kamis (26/2/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari pendekatan preventif Bawaslu Bali dalam memperkuat pengawasan partisipatif. Alih-alih menunggu pelanggaran terjadi, lembaga Bawaslu Bali memilih turun langsung membangun kesadaran kolektif.
Pendidikan politik ditempatkan sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap dalam ekosistem demokrasi.
Menjelang berbuka, diskusi ditutup dengan kesimpulan sederhana namun substansial, demokrasi membutuhkan warga yang peduli.
Kegiatan ditutup menjelang waktu berbuka puasa dengan komitmen bersama untuk memperkuat pengawasan partisipatif di tingkat masyarakat. Bawaslu Bali menyatakan akan terus menggelar forum serupa di berbagai wilayah sepanjang bulan puasa sebagai bagian dari strategi pencegahan pelanggaran pemilu dan penguatan literasi politik masyarakat. (r)


