Hampir 600 Karya Ogoh-Ogoh Siap Dinilai, Badung Perkuat Aspek Estetika dan Inovasi
Badung-kabarbalihits
Penilaian ogoh-ogoh tingkat zona di Kabupaten Badung terhadap karya 597 Sekaa Teruna dan Yowana kini memasuki tahap pematangan. Ajang tahunan yang selalu dinanti menjelang perayaan Nyepi ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 18 hingga 22 Februari mendatang, dengan sistem pembagian ke dalam tujuh zona penilaian.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gde Eka Sudarwitha, memastikan seluruh tahapan teknis telah dibahas secara detail bersama tim juri. Pembahasan tersebut terutama menitikberatkan pada pencermatan kembali aspek dan kriteria penilaian, seiring meningkatnya partisipasi generasi muda dalam lomba ogoh-ogoh setiap tahunnya.
“Secara penilaian, sama dari tahun ke tahun. Cuma kami lebih mencermati aspek-aspek atau kriteria penilaian. Dan ada aspirasi agar nilai tiap peserta disampaikan secara terbuka. Saya pikir itu tidak untuk dirahasiakan karena bukan satu yang rahasia menurut Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Makanya kami berdiskusi dengan alot agar kita cermat memberikan penilaian,” ujar Sudarwitha, Minggu (15/2).
Menurutnya, meningkatnya minat Sekaa Teruna dan Yowana untuk berpartisipasi juga memunculkan harapan agar proses penilaian dilakukan semakin transparan. Aspirasi tersebut menjadi perhatian serius panitia, sehingga diskusi bersama dewan juri dilakukan secara mendalam guna memastikan objektivitas dan akuntabilitas penilaian.
Dalam pelaksanaannya, setiap zona akan dinilai oleh tiga orang juri. Dengan tujuh zona yang ditetapkan, total terdapat 21 juri yang akan turun langsung ke lapangan. Selama empat hari penilaian, masing-masing tim juri dijadwalkan menilai sekitar 18 hingga 20 ogoh-ogoh per hari di tiap zona. Dengan jumlah peserta yang hampir menyentuh angka 600, proses penilaian dipastikan berlangsung padat sejak pagi hingga malam hari.
Melihat jadwal yang cukup ketat, Sudarwitha mengimbau seluruh Sekaa Teruna dan Yowana agar berada di lokasi saat penilaian berlangsung. Kehadiran para pembuat ogoh-ogoh dinilai penting untuk memberikan penjelasan langsung terkait konsep, pesan, maupun teknik yang digunakan dalam karya mereka.
“Karena jadwal penilaian cukup padat, kami mengimbau sekaa teruna dan yowana agar berada di lokasi saat penilaian berlangsung, dan menunggu di tempat. Agar bisa menjelaskan hasil karya ogoh-ogoh yang dibuat,” terang mantan Camat Petang tersebut.
Dalam aspek penilaian, panitia tetap berpedoman pada tiga kriteria utama dalam filosofi Hindu Bali, yakni Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Khusus untuk aspek Sundaram atau unsur estetika, bobot nilai yang diberikan cukup besar, yakni antara 5 hingga 50 poin. Pada aspek ini, juri akan menilai tingkat kreativitas, inovasi, serta teknik konstruksi yang diterapkan dalam pembuatan ogoh-ogoh.
Meski demikian, Sudarwitha menegaskan bahwa panitia tidak mendikotomikan antara detail anatomi ogoh-ogoh dengan pemanfaatan unsur motorik atau teknologi gerak. Keduanya tidak dipertentangkan, melainkan dinilai sebagai kekuatan yang bisa saling melengkapi.
“Kami tidak mendikotomikan unsur inovasi dan teknik konstruksi, bukan berseberangan. Antara detail anatomi ogoh-ogoh dan pemanfaatan motorik itu bukan untuk dibanding-bandingkan, bukan apple to apple. Kalau bisa keduanya atau menonjol salah satunya pun, nanti juri akan memberi apresiasi,” tegasnya.
Selain aspek estetika dan filosofi, penggunaan bahan ramah lingkungan juga menjadi salah satu perhatian dalam penilaian tahun ini. Panitia mendorong peserta untuk memanfaatkan bahan alami maupun barang bekas, termasuk limbah botol plastik sekali pakai, selama dikemas secara artistik dan inovatif. Bahkan, karya berbahan daur ulang pernah masuk nominasi karena mampu menghadirkan nilai estetika tinggi.
“Untuk bahan-bahan memanfaatkan bahan alami atau memanfaatkan barang sekali pakai. Kalau bisa barang-barang bekas dimanfaatkan akan mendapatkan poin lebih,” katanya.
Dengan persiapan yang semakin matang dan partisipasi yang terus meningkat, penilaian ogoh-ogoh tingkat zona di Kabupaten Badung tahun ini diharapkan tidak hanya melahirkan karya-karya terbaik, tetapi juga memperkuat semangat kreativitas, transparansi, serta kepedulian lingkungan di kalangan generasi muda Bali.(r)


