
Kelangkaan LPG 3 Kg Terjadi di Denpasar, Pemdes Tegal Harum Lakukan Operasi Pasar
Denpasar-kabarbalihits
Kelangkaan dan mahalnya harga gas LPG 3 kilogram yang dijual secara eceran di warung kelontong wilayah Denpasar terus dikeluhkan masyarakat. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Desa Tegal Harum, Kecamatan Denpasar Barat, untuk menggelar operasi pasar atau pasar murah LPG guna membantu warga memenuhi kebutuhan gas rumah tangga.
Kasi Kesejahteraan (Kesra) Desa Tegal Harum, Ni Putu Cintya Lestari, menjelaskan bahwa operasi pasar LPG ini dilaksanakan sebagai respons atas keluhan warga terkait sulitnya memperoleh gas LPG 3 kilogram dengan harga terjangkau.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Desa Tegal Harum bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar. Sasaran utama kegiatan ini adalah warga atau keluarga, bukan pelaku UMKM.
“Yang kita sasar itu warga, memfokuskan keluarga, bukan UMKM. Sistemnya satu orang satu KTP, dengan harga menyesuaikan Harga Eceran Tertinggi, yaitu Rp18 ribu per tabung,” ungkap Cintya, disela-sela kegiatan operasi pasar di Banjar Buana Kubu, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan, operasi pasar LPG tersebut telah dilaksanakan di tiga lokasi berbeda. Pada hari pertama, kegiatan digelar di Banjar Buana Merta, dilanjutkan di Banjar Sari Buana, dan pada hari berikutnya di Banjar Buana Kubu.
“Setiap pelaksanaan kita alokasikan 100 tabung LPG. Jadi sampai saat ini sudah terlaksana di tiga lokasi,” tambahnya.
Menurut Cintya, tujuan utama dari kegiatan pasar murah ini adalah untuk memudahkan masyarakat memperoleh gas LPG 3 kilogram di tengah kondisi kelangkaan yang sudah terjadi cukup lama di wilayah Denpasar.
“Kelangkaan ini sudah dirasakan sampai minggu terakhir. Harapannya dengan pasar murah ini bisa membantu masyarakat dan terjadi pemerataan, makanya kita batasi satu orang satu KTP,” tegasnya.
Salah satu warga Buana Kubu, I Nengah Kertanegara, mengapresiasi langkah pemerintah desa, namun berharap pendistribusian gas dalam operasi pasar benar-benar diprioritaskan bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau menurut pandangan saya pribadi, gas ini kan kebutuhan pokok masyarakat. Kalau ada pasar murah, semestinya yang diutamakan dulu itu masyarakat untuk masak, bukan warung-warung yang nanti dijual lagi dengan harga lebih mahal,” ujar Kertanegara.
Ia juga meminta aparat desa dan petugas pelaksana operasi pasar agar lebih selektif dalam pendistribusian LPG, sehingga tidak terjadi penumpukan pembelian oleh satu orang.
“Kami mohon kepada aparat desa yang diberi amanah pasar murah ini, perhatikan dulu masyarakat. Jangan sampai satu orang bisa dapat sampai tiga tabung dengan membawa beberapa KTP. Usahakan satu untuk satu dulu, khusus untuk masyarakat yang benar-benar perlu,” tegasnya.
Kertanegara mengungkapkan, kelangkaan LPG 3 kilogram sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, ia sempat kesulitan mendapatkan gas setelah pulang dari kampung.
“Kemarin saya pulang dari kampung, gas di rumah habis. Saya cari ke mana-mana tidak dapat, sampai akhirnya pinjam ke tetangga. Untung tetangga masih punya,” ungkapnya.
Di luar operasi pasar, harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer disebut sangat bervariasi dan cenderung mahal. “Ada yang jual Rp22 ribu, Rp25 ribu, bahkan sampai Rp30 ribu. Kadang sudah mahal, barangnya juga tidak ada,” tambahnya.
Warga berharap pemerintah daerah bersama aparat desa dapat terus melakukan pengawasan distribusi LPG subsidi agar tepat sasaran dan tidak memberatkan masyarakat kecil. (kbh1)


