January 26, 2026
Seni Budaya

Transformasi Asta Kosala Kosali di Era Kekinian, Jawaban atas Tantangan Lahan Sempit di Bali

Denpasar-kabarbalihits

Di tengah pesatnya perkembangan kota dan semakin terbatasnya lahan hunian, Yayasan Taman Bukit Pengajaran
Pasraman Ghanta Yoga menggelar sebuah seminar reflektif dan solutif bertajuk “Transformasi Asta Kosala Kosali di Masa Kekinian”. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (23/1/2026) di Gedung Graha Sewaka Dharma (GSD), Denpasar, dan mendapat perhatian luas dari kalangan akademisi, praktisi arsitektur, budayawan, hingga pemangku kebijakan.

Seminar dimoderatori oleh Dr. I Gede Sedana Suci, SE, M.Ag., dengan menghadirkan pembicara, yakni akademisi Universitas Udayana Dr. Ir. I Nyoman Susanta, ST, M.Erg., IPU, serta dihadiri Anggota DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Kegiatan ini menjadi ruang dialog penting dalam membahas keberlanjutan penerapan Asta Kosala Kosali, konsep arsitektur tradisional Bali di tengah tantangan modernisasi.

Ketua Panitia Seminar, Dwi Mahendra Putra, SS., S.Pd., M.Hum., M.Pd., menyampaikan bahwa seminar ini berangkat dari asas kepedulian terhadap fenomena sosial yang kini dihadapi masyarakat Bali, khususnya di wilayah perkotaan seperti Denpasar. Menurutnya, keterbatasan lahan menjadi tantangan besar dalam menerapkan Asta Kosala Kosali secara utuh sebagaimana tertuang dalam sumber-sumber sastra klasik.

“Lahan yang semakin sempit membuat penerapan Asta Kosala Kosali menjadi sulit jika dipahami secara kaku. Karena itu, kami mendorong transformasi dengan mengambil hakikat dan esensinya, sehingga para undagi, arsitek, maupun pengembang tetap bisa menerapkannya, khususnya pada lahan-lahan terbatas,” ujarnya.

Ia menegaskan, keharmonisan hidup masyarakat Bali dapat terwujud melalui bangunan yang selaras dengan nilai-nilai kosmologis, yakni hubungan hirarkis antara buana alit dan buana agung. Dengan transformasi yang tepat, bangunan modern tetap bisa mencerminkan nilai sastra dan kaidah tradisi yang berlaku.

Sementara itu, narasumber I Nyoman Susanta mengungkapkan bahwa Asta Kosala Kosali di era kekinian menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan lahan, anggaran, material, hingga masuknya fungsi-fungsi baru dalam arsitektur modern. Kondisi ini menuntut adanya proses adaptasi dan transformasi tanpa menghilangkan nilai filosofis dasarnya.

Baca Juga :  Sanggar Laras Manis Tampil Memikat Di Rekasadana Rekonstruksi Gamelan Tua Pkb Ke-47

“Transformasi itu dimulai dari pemahaman filosofinya, tata caranya, etikanya, hingga bagaimana konsep tersebut dilogikakan dan diterapkan dalam berbagai kasus. Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga merambah pedesaan akibat masuknya fungsi-fungsi baru,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemahaman yang tepat menjadi kunci utama. Bahkan dengan lahan terbatas dan anggaran minim, Asta Kosala Kosali tetap dapat diterapkan secara selektif. “Misalnya pekarangan seluas 60 meter persegi, tetap bisa mengadopsi prinsip Asta Kosala Kosali pada bagian-bagian tertentu. Yang penting adalah pemahaman dan ketepatan penerapannya,” imbuhnya.

Pembina Yayasan Taman Bukit Pengajaran Pasraman Ghanta Yoga, Ida Pedanda Putu Dwija Ghanta Mandara, turut menegaskan pentingnya seminar ini sebagai sarana masyarakat mencari gambaran dan pemahaman di tengah realitas keterbatasan lahan hunian. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat diyakini tetap mampu hidup harmonis meski membangun rumah di lahan sempit.

Dari sisi kebijakan dan kebudayaan, Anggota DPD RI Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menilai seminar ini sangat strategis. Ia menyebut Asta Kosala Kosali sebagai bagian integral dari semangat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, yang bertujuan menjaga “jiwa” dan napas kebudayaan Nusantara sebagai modal dan aset budaya bangsa.

Ia mengingatkan adanya “jebakan modernisasi” yang berpotensi mendistorsi nilai-nilai budaya jika tidak diimbangi kesiapan sosial, budaya, dan institusional. “Jika identitas ini hilang, kita akan kehilangan diferensiasi dan daya saing. Karena itu, diskursus seperti ini penting untuk membangun opini publik dan mengembalikan identitas budaya sebagai kekuatan,” pungkasnya.

Melalui seminar ini, diharapkan lahir pemahaman baru dan pendekatan adaptif agar Asta Kosala Kosali tetap hidup, relevan, dan menjadi fondasi harmoni masyarakat Bali di tengah arus modernisasi. (kbh2)

Related Posts