May 7, 2026
Seni Budaya

Sanggar Laras Manis Tampil Memikat Di Rekasadana Rekonstruksi Gamelan Tua Pkb Ke-47

Denpasar – kabarbalihits

Meski langit mendung dan hujan mengguyur Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, semangat para seniman dari Sanggar Laras Manis, Banjar Umahanyar, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, tidak luntur sedikit pun. Sebagai duta Kabupaten Badung, sanggar ini tampil memukau dalam Rekasadana atau (Pagelaran) Rekonstruksi Gamelan Tua yang digelar dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 pada Minggu 6 juli 2025 malam.

Guyuran hujan yang bahkan menyebabkan air menggenang di tengah kalangan tidak menyurutkan jalannya pagelaran. Meski jumlah penonton tak membeludak, suasana tetap hangat dan meriah. Mereka yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi menyaksikan dua karya klasik yang dibawakan sanggar, yakni Tabuh Petegak Wayang dan Tabuh Pamungkah Wayang.

Turut hadir dalam pagelaran tersebut Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gde Eka Sudarwitha, didampingi oleh koordinator sanggar serta pembina tabuh. Kehadiran para tokoh ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian kesenian tradisional, khususnya gamelan tua yang semakin jarang ditampilkan dalam pentas besar.

Tabuh Petegak Wayang merupakan bentuk musik pembuka dalam pertunjukan wayang kulit Bali. Dalam struktur pertunjukan tradisional, gending ini berfungsi sebagai pengantar atau pembuka suasana, membentuk kesan awal bagi penonton tentang alur pertunjukan yang akan berlangsung.

Sementara itu, Tabuh Pamungkah Wayang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam struktur pertunjukan wayang kulit. Kata “Pamungkah” berasal dari kata “bungkah” atau “buka”, yang secara harfiah berarti membuka atau memulai sesuatu. Dalam konteks pertunjukan, tabuh ini dimainkan saat dalang membuka keropak atau gedog—tempat wayang disimpan—yang ditandai dengan bunyi khas dari memukul tutup keropak.

bagian-bagian dari Gending Pamungkah yang dibawakan malam itu Dimulai dari Kreasi Bapang Jojor untuk mengiringi tarian igel kayonan, dilanjutkan dengan Gending Tulang Lindung sebagai musik pengiring ketika wayang mulai disusun atau (nyejer), Gending Pekaad yang mengiringi momen ketika dalang mencabut kayonan, hingga Gending Alas Harum pertanda keluarnya tokoh wayang yang akan memainkan peran dalam cerita.

Sebagai penutup dari keseluruhan struktur pertunjukan, Sanggar Laras Manis mempersembahkan Tabuh Gilak dengan komposisi Gilak Bugari, yang menjadi penanda bahwa seluruh pertunjukan telah selesai. Nada-nada dinamis dan ritmis dari gilak ini mengakhiri pertunjukan dengan penuh semangat.

Pagelaran ini tidak hanya menampilkan seni pertunjukan semata, tetapi juga merupakan upaya serius dalam merekonstruksi dan melestarikan warisan gamelan tua yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Bali. Melalui pendekatan rekonstruksi, nilai-nilai musikal tradisi yang mulai tergerus zaman dikemas kembali secara autentik namun komunikatif.

Penampilan Sanggar Laras Manis dalam panggung Rekasadana ini menjadi bukti bahwa generasi muda dan komunitas seni masih memiliki semangat tinggi dalam menjaga pusaka budaya. Tidak hanya piawai secara teknis, mereka juga memiliki pemahaman filosofis dan historis terhadap setiap gending yang dibawakan.

Baca Juga :  Sekda Badung Hadiri Gladi Resik Gong Kebyar Legendaris

Pagelaran ini menambah warna dalam perhelatan PKB ke-47 yang mengangkat tema besar pelestarian akar budaya. Di tengah arus modernisasi, sajian seperti ini menjadi pengingat kuat bahwa seni tradisi tetap hidup dan relevan, selama ada ruang untuk tampil dan generasi untuk melestarikannya. Kabarbalihits mengabarkan. (kbh5)

Related Posts