January 31, 2026
Seni Budaya

Komunitas Perupa Perempuan “Mahalakshmi” Hadirkan Pameran “The Myth” di Ubud : Merayakan Mitos, Identitas, dan Jejak Peradaban

Gianyar-kabarbalihits

Komunitas perupa perempuan Mahalakshmi kembali membuka ruang dialog seni melalui pameran bertajuk “The Myth”, yang resmi dibuka Sabtu, 27 Desember 2025, di Ubud Diary Gallery, Lodtunduh, Ubud, Gianyar. Pameran ini bukan hanya menghadirkan lukisan, tetapi juga instalasi seni dan fotografi, menjadikannya medan interaksi visual yang kaya lintas medium dan lintas budaya.

Sebanyak 43 seniman perempuan terlibat dalam pameran ini, datang dari ragam latar profesi seperti akademisi, tenaga medis, pengusaha, hingga figur public serta mewakili berbagai negara, mulai dari Indonesia, Jepang, Rusia, Kazakhstan, Azerbaijan, hingga Brasil. Para partisipan antara lain Ambarsari’S, Amin Janati, Anna Muraveva (RUS), Annie Sofyan, Ariani, Aricadia, Arita Savitri, Aryk Sriharyani, Assem Yskak (KAZ), Ayla Prasetyo, Biagtwanti Dewi P, Desire Suwamba, Dina Tania, Dra. Fitriyen Iskandar, Drg. Citra, RSD, MM, Dyah Katarina, I GAK Murniasih, I Gusti Ayu Mirah Djelantik, Ika Elise, Indira Bunjamin, Irdina Larasanti, Jules Kaelani, Lya Helia (AZE), Manami Hirose (JAP), Michele Zambon (BRA), Mikka Bjorn (RUS), Moendy Astoety, N. Dyaz, Ni Gusti Ketut Oka Armini, Ni Kadek Dwiyani S.S., M.Hum, Nini Sumini, Noni Pratiwi, Nunung Harso, Raphaela Vannya, Retno Arya Bayuaji, Retno Pramubinasih, Ririn Yaxley, Rosana, Skinner Ohrami, Sri Rahayu, Suryani, Vitri, Widijawati dan Yaya Maria.

Pameran ini digagas oleh Aricadia, pendiri Mahalakshmi, yang memposisikan mitos bukan sekadar jejak masa lalu, melainkan ruang tafsir yang hidup dan relevan dengan pengalaman manusia modern. Sementara penulis dari esensi tema “The Myth” Adalah Ayu Remdani. Dalam pameran kali ini, Aricadia bertindak sebagai penyeleksi karya, sementara setiap seniman diberikan kebebasan penuh melakukan kurasi mandiri terhadap karyanya. Metode ini dirancang untuk mendorong interaksi yang lebih intim antara karya, seniman, dan pengunjung.

Baca Juga :  Ini Dia Partisipasi Yayasan Nawa Dharma Raksa Dalam FGD Yang Digelar PSN Badung

“Melalui The Myth, Mahalakshmi menghadirkan perjalanan lintas batin dan budaya, tempat para seniman perempuan menelusuri kisah, mitos, dan keyakinan yang membentuk jati diri mereka,” ujar Aricadia.

Menurutnya, narasi-narasi tersebut ditenun ulang melalui warna dan bentuk, menjadi imajinasi baru yang lahir dari kenangan, mimpi, dan perenungan batin. “Pameran ini adalah perayaan atas intuisi dan keajaiban perempuan; atas keberanian mereka untuk bermimpi, bertanya, dan mencipta,” tambahnya.

Bobot historis pameran semakin kuat dengan hadirnya dua karya legenda seni rupa perempuan Indonesia, yakni almarhumah I GAK Murniasih dan Moendy Astoety. Kehadiran karya kedua tokoh tersebut menjadi penghormatan atas kontribusi penting perempuan dalam sejarah seni rupa Indonesia, khususnya dalam wacana tubuh, mitos, dan pengalaman personal.

Pameran dibuka secara resmi oleh Dra. Nazrina Zuryani, M.A, Ph.D, akademisi sosiologi gender dan feminisme Universitas Udayana. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa The Myth bukan hanya soal penggalian mitos, tetapi juga wacana peradaban. “Dengan keterlibatan 41 seniman perempuan, dua legenda seni, dan Aricadia sendiri, pameran ini merepresentasikan bahwa perempuan perupa bersama laki-laki bisa bergandengan tangan dan saling melengkapi untuk menghasilkan seni yang berkualitas,” ujarnya.

Sementara itu, kurator sekaligus budayawan antropologi, Dr. Jean Couteau yang turut hadir memberikan pandangan kritis atas karya-karya yang dipamerkan. Ia menilai sebagian besar gaya berkutat pada figuratif dan mitologi klasik, namun muncul keberanian dalam sejumlah karya yang menawarkan pendekatan non-realis dan konseptual. “Ada karya yang berbicara dengan cara yang kasar, bahkan seperti lahir dari rahim pengalaman sehari-hari. Karya seperti itu menyentuh,” ungkapnya, sembari mendorong kehadiran lebih banyak eksplorasi abstrak dan pernyataan konseptual di masa depan.

Acara pembukaan semakin hangat dengan penampilan Tari Pendet Penyambutan oleh Ari dan Mawar, mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, serta pembacaan puisi oleh Jules Kaelani, salah satu peserta pameran. Pameran “The Myth” menjadi momentum penting yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menegaskan posisi seniman perempuan dalam lanskap seni kontemporer, sebagai pembawa suara dan penafsir mitos yang terus bergerak.(kbh2)

Related Posts