
Karya Janger ‘Napak Tetamian’ Sanggar Seni Wredaya Muni, Hidupkan Suasana Kalangan Ayodya
Denpasar-kabarbalihits
Sanggar Seni Wredaya Muni dari Desa Adat Tanjung Benoa, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Duta Kabupaten Badung, menghidupkan suasana Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center dalam Utsawa (Parade) Janger Tradisi Remaja serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, pada Senin malam (14/7/2025).
Dengan membawakan pertunjukan bertajuk ‘Napak Tetamian’, Sanggar Wredaya Muni menghadirkan bukan sekadar hiburan, namun juga refleksi mendalam tentang warisan budaya, kebersamaan, dan nilai sosial yang telah lama hidup dan tumbuh di tengah masyarakat pesisir Tanjung Benoa.
Menurut Pembina Tabuh I Wayan Satriya, karya Janger ‘Napak Tetamian’ ini telah dipersiapkan sejak bulan Februari 2025, dengan melibatkan 24 penari dan 35 penabuh.
Karya yang disuguhkan merupakan kearifan lokal dari masyarakat di Desa Adat Tanjung Benoa dengan ciri khas tiga alkuturasi budaya yang secara turun menurun dilakoni dan dijaga erat hingga saat ini. Juga disebut, seni Janger ini merupakan hasil serapan dari Banjar Bengkel, Denpasar. Sehingga pihaknya ingin mengkolaborasikan seni Janger sesuai dengan alam yang ada di Tanjung Benoa.
“Janger pun sebenarnya sudah ada multikulturasisme sejak dulu cuman bentuknya yang berbeda. Janger di Banjar Tengah Tanjung Benoa adalah hasil pekilitan Janger dari Banjar Bengkel Denpasar. Jadi kami dari Sanggar ingin mengangkat kembali, mengkolaborasikan sesuai dengan keseimbangan alam yang ada di Tanjung Benoa,” jelas I Wayan Satriya didampingi pembina lainnya, I Kadek Arisoma Linggayona.
Pertunjukan ini dibuka dengan narasi penuh perasaan, membangkitkan bayangan kenangan masa lalu yang kemudian mengalir menjadi jalinan kisah “Napak Tetamian”. Judul yang berarti “jejak peninggalan” ini menjadi landasan konseptual dari karya janger yang dikemas dengan tetap mengacu pada pakem klasik namun dikembangkan melalui pendekatan tematik yang kuat.
Melalui lantunan lagu-lagu janger yang mengangkat nilai-nilai kerukunan dalam Pancasila, perjuangan, jiwa nasionalisme, dan semangat muda-mudi, Napak Tetamian menelusuri kehidupan masyarakat Tanjung Benoa yang hidup berdampingan dalam perbedaan. Di desa pesisir ini, tiga keyakinan hidup harmonis: Islam Bugis, China Khonghucu, dan Hindu Bali. Masyarakat Hindu Bali diajarkan cara melaut oleh komunitas Bugis, sementara etnis Tionghoa turut berbagi keterampilan berdagang, sinergi sosial yang mencerminkan semangat gotong royong dalam keberagaman.
Tak hanya sebatas cerita, pertunjukan ini juga menampilkan lakon dari masing-masing komunitas kepercayaan, memperkuat gambaran nyata tentang kerja sama antar umat beragama yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari. Penampilan para remaja pun terasa hidup dan ekspresif, membaur dalam iringan gamelan janger yang menggugah.
Penampilan ini tidak hanya menyuguhkan keindahan tari dan musik, namun juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya menjaga warisan, merawat toleransi, dan memperkuat identitas sosial budaya di tengah modernisasi. ‘Napak Tetamian’ menjadi bukti bahwa seni tradisional masih relevan untuk menyuarakan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi bangsa.
Pada kesempatan ini, I Wayan Satriya mengajak kaula muda untuk tetap melestarikan gending Janger yang ada di Bali. Baginya, gending Janger adalah tetamian yang hampir punah, sehingga dengan tampilnya Janger duta seni Kabupaten Badung ini diharapkan masyarakat luas terutama pada pelaku seni Janger khususnya, agar kembali bersemangat melestarikan gending Janger yang ada di wilayah Bali.
“terutama pelaku Janger jaman terdahulu kembali bersemangat untuk melestarikan gending-gending Janger yang ada di setiap wilayah,” harapnya. (kbh1)


