November 6, 2026
Daerah Seni Budaya

Sanggar Seni Cakup Kaler Tampilkan Harmoni Alam Semesta Lewat Semara Pegulingan di PKB ke-47

Denpasar-kabarbalihits

Sanggar Seni Cakup Kaler, Banjar Semanik, Desa Pelaga, Kecamatan Petang tampil memukau mewakili Kabupaten Badung dalam Rekasadana (Pagelaran) Semara Pegulingan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025.

Penampilan mereka yang berlangsung di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Senin (7/7), disambut antusias oleh para penonton yang memenuhi arena pertunjukan.

Ketua Sanggar Seni Cakup Kaler, I Gede Adi Mahendra menyampaikan kebanggaannya atas kesempatan tampil di panggung PKB. Ia menjelaskan bahwa sanggar ini menjadi wadah kreatif bagi para seniman muda di wilayah Petang. “Seniman-seniman yang tampil malam ini semuanya adalah anak-anak muda dari Petang. Ini adalah wujud semangat berkesenian dan pelestarian budaya dari akar rumput,” ungkapnya.

Untuk mempersiapkan penampilan tersebut, para seniman telah menjalani proses latihan intensif selama kurang lebih empat bulan. Adi Mahendra berharap kerja keras tersebut mampu menghasilkan penampilan yang membanggakan bagi Kabupaten Badung. “Kami ingin memberikan yang terbaik, tidak hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai persembahan seni yang bermakna,” ujarnya.

Dalam pagelaran kali ini, Sanggar Cakup Kaler membawakan tiga karya utama: Tabuh Klasik Sekar Emas, Legong Kreasi Bhima Sakti, dan Tabuh Kreasi Mangu Puja. Ketiganya menjadi simbol refleksi atas tema besar PKB ke-47, “Jagat Kerthi: Lokahita Samasta Raya”.

Tabuh Sekar Emas, garapan klasik dari maestro tabuh Bali I Wayan Lotring yang lahir sekitar tahun 1930–1940-an, menjadi pembuka pagelaran. Tabuh ini terinspirasi dari keindahan bunga yang mekar berkilau seperti emas, mencerminkan kelembutan dan keagungan dalam balutan alunan Semara Pegulingan yang halus dan merdu.

Sementara itu, Tari Legong Bhima Sakti menghadirkan narasi mendalam tentang sejarah dan spiritualitas. Kisahnya menggambarkan runtuhnya Kerajaan Mengwi oleh Kerajaan Badung, serta perjalanan spiritual I Gusti Agung Putu menuju Puncak Mangu. Dari pengasingan lahir pencerahan, dari luka tumbuh kekuatan. Bhima Sakti sebagai simbol ksatria unggul yang menjadi pelita dharma bagi rakyatnya, menghadirkan pesan bahwa keseimbangan alam lahir bukan dari kekuasaan, tapi dari kasih dan pengorbanan.

“Melalui Bhima Sakti, kami ingin menghidupkan makna Jagat Kerthi Lokahita Samudaya, bahwa harmoni semesta terwujud melalui kesadaran akan keterhubungan hidup,” jelas Adi Mahendra.

Penampilan ditutup dengan Tabuh Kreasi Mangu Puja, karya kontemporer yang menjadi implementasi langsung dari tema PKB tahun ini. Adi Mahendra menjelaskan bahwa kata Mangu dalam konteks Austronesia merujuk pada ruang kontemplasi, tempat kembali pada diri untuk membersihkan hati. Puja berarti pujian atau pemuliaan. Tabuh ini menjadi refleksi akan pentingnya hening di tengah hiruk pikuk, sebagai upaya menyatu dengan semesta secara selaras dan seimbang.

Penampilan Sanggar Seni Cakup Kaler tak hanya menjadi pertunjukan seni, tapi juga persembahan nilai-nilai luhur kehidupan, spiritualitas, dan budaya lokal yang tetap relevan di tengah arus zaman. Dengan semangat muda, mereka membuktikan bahwa kesenian tradisi bukanlah masa lalu, tetapi masa kini yang terus hidup dan memberi makna bagi jagat raya. (kbh1)

Related Posts