November 7, 2026
Pendidikan

Unwar Dampingi Peternak Babi Antiga Kelod Hadapi ASF Lewat Biosekuriti dan Literasi Keuangan

Karangasem-kabarbalihits

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Warmadewa (Unwar) menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PkM) bertajuk “Integrasi Pencegahan African Swine Fever (ASF) dan Peningkatan Literasi Keuangan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Peternak Babi” di Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Karangasem, pada Selasa, 1 September 2026. Kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan Pemerintah Desa Antiga Kelod ini dihadiri Perbekel Antiga Kelod, I Ketut Mertha, beserta sekitar 25 peternak babi setempat.

Peternakan babi merupakan sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga di Antiga Kelod sekaligus memiliki nilai sosial dan religius dalam upacara adat di Bali. Dalam beberapa waktu terakhir, peternak setempat dihadapkan pada kasus kematian babi mendadak yang diduga kuat akibat African Swine Fever (ASF). Penyakit virus ini memiliki tingkat kematian hingga 100 persen, belum ada vaksin maupun obatnya, dan telah ditetapkan sebagai Penyakit Hewan Menular Strategis oleh Kementerian Pertanian.

Sebagian besar peternak di desa ini masih beternak secara tradisional dengan 2 sampai 10 ekor babi per keluarga. Penerapan biosekuriti di kandang belum optimal, dan umumnya peternak belum mencatat keuangan usaha secara rutin. Akibatnya, ketika wabah datang, kerugian ekonomi keluarga sangat besar dan sulit untuk bangkit kembali.

Dalam sambutannya, Perbekel Antiga Kelod I Ketut Mertha menyambut hangat kehadiran tim Unwar. Menurutnya, kegiatan ini datang tepat pada saat warga sangat membutuhkannya.
“Atas nama Pemerintah Desa Antiga Kelod, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Warmadewa. Kematian babi mendadak ini sangat memukul warga kami. Banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari beternak babi, dan ketika babinya mati, tabungan keluarga ikut hilang,” ujarnya.

Ia berharap ilmu yang dibagikan dapat langsung dipraktikkan di kandang masing-masing. “Kami sangat mengapresiasi para dosen yang mau turun langsung ke desa. Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut agar peternak kami semakin kuat menghadapi wabah,” tambahnya. Aparat desa yang hadir juga menyatakan kesiapan untuk mendukung pendampingan lanjutan bagi para peternak.

Ketua tim PkM, Anak Agung Dewi Megawati, S.Si., M.Biomed., Ph.D., menjelaskan bahwa program ini menggunakan pendekatan One Health, yang memandang kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan sebagai satu kesatuan. “ASF tidak menular ke manusia, tetapi yang terancam adalah ternak dan pendapatan keluarga. Karena itu kami tidak hanya bicara soal virus dan kandang, tetapi juga soal bagaimana keluarga peternak bisa bertahan secara ekonomi ketika wabah datang,” jelasnya.

Materi pertama mengajak peternak mengenali ASF sejak dini, mulai dari gejala seperti demam tinggi, lesu, kulit kemerahan atau kebiruan di telinga dan perut, hingga kematian mendadak. Peternak juga diajak memahami jalur masuk virus ke kandang, yaitu kontak dengan babi sakit, sepatu dan peralatan yang tercemar, sisa makanan (swill) mentah, serta tikus, lalat, dan babi liar.
Ni Wayan Erly Sintya Dewi, S.Si., Pg.Dip., M.Si., kemudian memaparkan lima langkah biosekuriti yang dapat langsung diterapkan: membatasi akses ke kandang dengan sepatu khusus dan tempat cuci disinfeksi, memeriksa kesehatan babi sebelum membeli, menghentikan pemberian swill mentah, membersihkan kandang secara rutin, dan mengamati babi setiap hari. Peternak juga dibekali langkah cepat bila ada dugaan kasus, yaitu memisahkan babi sakit, melapor ke dokter hewan atau dinas peternakan, menghentikan lalu lintas babi, dan melakukan disinfeksi.

Sesi literasi keuangan dibawakan oleh Dr. Ni Made Intan Priliandani, S.E., M.Si., dengan tema “Uang Sehat, Usaha Kuat”. Peternak dilatih membuat buku kas sederhana, menghitung biaya produksi, keuntungan, dan titik impas (BEP) per ekor babi, serta menyisihkan dana darurat dari setiap panen.

Selain para dosen pelaksana, kegiatan ini didukung oleh staf FKIK Unwar serta dua alumni Program Studi Peternakan Unwar, Ni Luh Manik Sugiantini dan I Komang Gede Wirya Kusuma, serta seorang volunteer Anak Agung Ganitri Peringgaswari. Kehadiran alumni peternakan membantu menjembatani materi ilmiah dengan praktik beternak sehari-hari, sekaligus menunjukkan peran lulusan Unwar dalam membangun desa.

Suasana diskusi berlangsung hidup. Para peternak aktif bertanya dan berbagi pengalaman tentang kematian ternak yang mereka alami. Di akhir kegiatan, setiap peternak menerima bantuan berupa pakan ternak dan buku anggaran agar bisa langsung mulai mencatat keuangan usahanya, beserta leaflet panduan biosekuriti dan literasi keuangan sebagai pegangan di rumah.
Dr. Megawati menambahkan, kegiatan ini merupakan wujud komitmen Unwar terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Peternak yang sehat ternaknya dan rapi keuangannya akan lebih tahan menghadapi wabah. Ini sejalan dengan upaya mengakhiri kemiskinan dan kelaparan, menjaga kesehatan, dan membuka penghidupan yang layak di desa,” pungkasnya.

Kegiatan PkM ini mendukung empat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sekaligus. Pelatihan buku kas dan dana darurat membantu keluarga peternak agar tidak jatuh miskin ketika wabah datang (SDG 1 No Poverty), sementara pencegahan ASF dan bantuan pakan ternak menjaga produksi babi sebagai sumber pangan di tingkat desa (SDG 2 Zero Hunger). Penyuluhan yang terbuka bagi warga menjadi sarana belajar sepanjang hayat bagi peternak (SDG 4 Quality Education), dan penguatan pengelolaan usaha meningkatkan ketahanan ekonomi peternakan rakyat yang menjadi mata pencaharian utama warga Antiga Kelod (SDG 8 Decent Work and Economic Growth).(r)

Related Posts