
Wajah Baru Pedestrian Kuta Ditunggu, Warga Minta Kemacetan dan Abrasi Tak Dilupakan
Badung – kabarbalihits
Pembangunan ulang pedestrian di kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, menghadirkan harapan baru bagi warga dan wisatawan. Trotoar yang lebih luas diharapkan membuat aktivitas berjalan kaki semakin nyaman, sekaligus mempercantik wajah salah satu destinasi wisata paling ikonik di Pulau Dewata.

Namun, di balik harapan tersebut, ada persoalan yang masih dirasakan langsung oleh masyarakat. Kemacetan, parkir kendaraan yang tidak tertata, debu pembangunan, hingga ancaman abrasi menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan agar penataan kawasan tidak berhenti pada perubahan fisik semata.
Andi, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang sehari-hari beraktivitas di kawasan Kuta, merasakan langsung perubahan kondisi lalu lintas selama proyek pedestrian berlangsung. Menurutnya, penyempitan ruang jalan di tengah aktivitas pembangunan menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara.
“Semoga cepat teratasi. Trotoarnya juga bagus kalau diperlebar supaya banyak yang berjalan kaki,” ujarnya, Sabtu (24/10/2026).
Meski mendukung penataan tersebut, Andi berharap pemerintah turut menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan. Sebab, ketika ruang jalan semakin terbatas, kendaraan yang berhenti atau parkir tidak pada tempatnya berpotensi memperparah kemacetan.
Ia menilai penertiban di lapangan perlu dilakukan secara konsisten, termasuk melalui pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran parkir.
Harapan serupa disampaikan Samuel dan Yoga, warga Denpasar yang berkunjung ke Kuta. Keduanya menilai pelebaran pedestrian merupakan langkah positif bagi pejalan kaki, tetapi dampaknya terhadap kelancaran lalu lintas juga perlu diperhitungkan.
“Kalau untuk pejalan kaki bagus karena lebih luas, tetapi kalau untuk berkendara jadi lebih sempit,” ujar Samuel.
Yoga menambahkan, kondisi kawasan yang masih dalam tahap pembangunan membuat debu dan penataan parkir menjadi perhatian. Menurutnya, pedestrian yang lebih luas akan memberikan manfaat maksimal apabila setelah proyek selesai, kawasan tersebut juga terbebas dari kemacetan dan persoalan parkir yang semrawut.
Eka Wiguna, wisatawan domestik asal Surabaya, juga mendukung pembenahan pedestrian Kuta. Ia memahami bahwa pembangunan yang sedang berlangsung dapat menimbulkan ketidaknyamanan sementara, terutama akibat debu dan aktivitas pekerjaan di lapangan.
Namun, ia berharap hasil akhirnya memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan wisatawan.
“Saya mendukung kalau memang tujuannya untuk membangun kawasan. Apalagi kalau pembangunan ini juga bertujuan memitigasi bencana yang selama ini terjadi,” ungkapnya.
Eka menyoroti kondisi jalan yang relatif sempit di tengah tingginya volume kendaraan di kawasan wisata. Menurutnya, persoalan tersebut perlu diperhitungkan secara menyeluruh, terlebih ketika aktivitas pariwisata meningkat menjelang musim liburan.
Ia juga menilai parkir liar dan kendaraan yang berhenti sembarangan untuk menurunkan penumpang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas.
Karena itu, Eka berharap penyelesaian proyek dapat dipercepat tanpa mengabaikan kualitas pekerjaan. Pengaturan lalu lintas, penertiban parkir, dan penyediaan ruang yang memadai bagi kendaraan dinilai sama pentingnya dengan pelebaran pedestrian.
Dari sisi pelaku usaha pariwisata, penataan pedestrian dipandang sebagai investasi penting bagi masa depan Kuta.
General Manager Beachwalk Shopping Center, Gita Sunarwulan, menyatakan dukungannya terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Badung dalam menata kawasan Pantai Kuta. Menurutnya, pantai tersebut merupakan ruang publik yang memiliki arti penting bagi masyarakat, pelaku usaha lokal, dan wisatawan.
Melalui lima unit bisnis yang berada di kawasan Sahid Kuta Lifestyle Resort, pihaknya menyatakan siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Desa Adat Kuta, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga kebersihan, kenyamanan, serta kelestarian kawasan pesisir.
Gita menilai pedestrian yang lebih luas berpotensi membuat kawasan terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Namun, ia memahami bahwa penataan kawasan membutuhkan proses, termasuk penyelesaian persoalan parkir yang selama ini menjadi perhatian pengguna jalan.
Ia menyebut rencana penataan parkir dan pencarian kantong-kantong parkir sebagai langkah yang dinantikan agar kendaraan tidak lagi mengganggu aktivitas pejalan kaki maupun arus lalu lintas.
Menurutnya, peningkatan kualitas kawasan diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
“Kami juga siap berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Badung, Desa Adat Kuta dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya penataan ruang publik dan pelestarian kawasan pesisir, sesuai kewenangan masing-masing. Harapan kami Pantai Kuta terus menjadi ruang yang tertata nyaman dan lestari sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat setempat dan juga wisatawan,” pungkasnya.
Sementara itu, General Manager Grand Istana Rama Hotel Kuta, I Ketut Darmayasa, menilai pembangunan pedestrian sebagai langkah positif untuk memperbaiki tampilan kawasan sekaligus memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi wisatawan.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan penataan Kuta harus dilihat secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan ruang publik hingga kualitas lingkungan pantainya.
Menurut Darmayasa, pengawasan terhadap pedagang di pedestrian perlu dilakukan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengurangi kenyamanan pejalan kaki. Ia menegaskan bahwa penataan bukan berarti menutup ruang bagi pedagang, melainkan memastikan aktivitas berjualan berlangsung di tempat yang sesuai.
Ia juga mengingatkan agar pedestrian tidak disalahgunakan sebagai jalur alternatif kendaraan bermotor. Fungsi trotoar, menurutnya, harus tetap dipertahankan sebagai ruang aman bagi pejalan kaki.
Selain itu, keberadaan kabel udara yang dinilai mengganggu pemandangan dan berpotensi membahayakan pengguna kawasan perlu menjadi bagian dari pembenahan infrastruktur.

Lebih jauh, Darmayasa menyoroti persoalan abrasi dan berkurangnya ruang vegetasi di kawasan Pantai Kuta. Menurutnya, keindahan destinasi tidak cukup hanya ditampilkan melalui trotoar yang rapi, tetapi juga harus ditunjang kondisi pantai yang terawat dan nyaman untuk dinikmati.
Ia berharap penanganan abrasi yang telah lama menjadi perhatian dapat memperoleh kepastian realisasi. Penataan pantai, pemeliharaan vegetasi, serta penataan pembatas di kawasan pesisir juga perlu dikaji agar keindahan pantai dapat dinikmati tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
“Jangan sampai hanya seperti lipstick, bagus kelihatannya, tetapi setelah melihat Pantai Kutanya juga tidak menawan,” ujarnya.
Darmayasa berharap Kuta memiliki ciri khas penataan yang kuat sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk berjalan sebentar, mengambil foto, lalu meninggalkan kawasan. Kuta diharapkan kembali menjadi ruang publik yang mengundang orang untuk tinggal lebih lama, menikmati pantai, dan menggerakkan ekonomi lokal.
Pembangunan ulang pedestrian Pantai Kuta yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Badung mencakup titik awal atau kilometer nol di kawasan Hard Rock hingga Bali Anggrek, dengan panjang penanganan mencapai 1.038 meter.
Proyek tersebut didukung anggaran sebesar Rp24.492.659.525 untuk meningkatkan kualitas infrastruktur dan kenyamanan masyarakat serta pengguna jalan.
Besarnya anggaran dan strategisnya lokasi pembangunan membuat harapan masyarakat terhadap hasil proyek ini semakin tinggi. Sebab, Kuta bukan hanya destinasi yang dikenal wisatawan mancanegara, melainkan juga ruang hidup masyarakat lokal dan tempat bergantungnya banyak pelaku usaha.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan pedestrian tidak cukup diukur dari lebar trotoar, keindahan taman, atau tampilan kawasan yang semakin tertata. Manfaatnya perlu dirasakan ketika warga dapat berjalan dengan aman, pengendara tidak terjebak kemacetan akibat parkir liar, wisatawan menikmati kawasan tanpa terganggu debu, dan pelaku usaha tetap dapat menjalankan aktivitasnya.
Penataan parkir, pengaturan lalu lintas, pengawasan aktivitas di pedestrian, serta penanganan abrasi menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari pembenahan kawasan.
Wajah baru Kuta kini dinantikan bukan hanya sebagai tampilan yang lebih indah, melainkan sebagai ruang publik yang benar-benar nyaman, aman, dan berkelanjutan bagi semua orang. (kbh1)


