November 2, 2026
Kuliner Pendidikan

APCA Buka Kampus di Bali, Cetak Talenta Kuliner Lokal Berstandar Internasional

Badung – kabarbalihits

Bali tak hanya dikenal sebagai destinasi pariwisata dunia, tetapi juga dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan talenta kuliner bertaraf internasional.

Peluang tersebut yang kemudian mendorong Academy of Pastry & Culinary Arts (APCA) Indonesia membuka kampus di Bali. Melalui program bertajuk “From Bali to the World”, APCA Bali dijadwalkan membuka kelas perdananya yang berlokasi di Jalan Raya Kuta No. 98, pada Oktober 2026 mendatang.

Kehadiran kampus APCA Bali diperkenalkan dalam acara Media Gathering di Gourmet Garage, Jalan Batas Kangin No.18, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung.

Director and Executive Pastry Chef APCA Indonesia, Louis Tanuhadi, mengatakan keputusan membuka kampus di Bali sebenarnya telah direncanakan sejak lama. Namun, pihaknya membutuhkan waktu untuk menemukan lokasi dan mempersiapkan berbagai kebutuhan pendidikan kuliner di Pulau Dewata.

“Rencananya sudah panjang sekali ingin buka di Bali. Bahkan sebelum Jakarta, Bali sebenarnya menjadi tujuan utama setelahnya. Tetapi di Bali perlu banyak hal yang kami pelajari,” ujar Louis Tanuhadi didampingi Ismi Ayunda, Marketing Executive APCA Indonesia.

Menurutnya, Bali memiliki ekosistem yang sangat mendukung pengembangan pendidikan kuliner. Selain industri pariwisata dan perhotelan yang telah berkembang, Bali juga memiliki kekayaan bahan pangan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi produk kuliner berkelas dunia.

“Potensi Bali sangat baik, terutama untuk bisnis ini. Hotel dan pariwisatanya sudah pasti nomor satu. Kemudian dari industri makanan juga banyak potensi yang bisa kita gali,” katanya.

Louis mencontohkan garam Kusamba serta gula aren dari berbagai daerah di Bali. Menurut dia, bahan-bahan lokal tersebut tidak hanya dapat digunakan dalam proses pembelajaran, tetapi juga memiliki peluang untuk diperkenalkan lebih luas ke pasar internasional.

Baca Juga :  Geliatkan Kembali Olahraga di Bali, Universitas Udayana Segera Selenggarakan Rektor Cup

“Garam Kusamba itu luar biasa. Gula aren juga. Itu yang sebenarnya bisa kita gali dan dipopulerkan ke dunia. Jadi tugas kami di APCA bukan hanya menjadi sekolah, tetapi juga menjadi mercusuar atau corong untuk memperkenalkan Bali,” tegasnya.

APCA Bali menawarkan pendekatan pendidikan yang berbeda dari pola pendidikan kuliner konvensional. Dari keseluruhan proses pembelajaran selama sembilan bulan, sekitar 90 persen diarahkan pada praktik langsung di dapur, sementara teori mendapatkan porsi sekitar 10 persen.

Louis menjelaskan, teori tetap menjadi bagian penting, terutama pada tahap awal pembelajaran. Materi seperti keamanan kerja, HACCP, pengetahuan produk, pemasaran hingga bisnis diberikan sebelum peserta masuk ke tahapan praktik yang lebih intensif.

“Teorinya ada, sekitar 10 persen. Sebelum masuk, minggu pertama adalah kelas teori, bagaimana mengenai HACCP, keselamatan kerja dan teori lainnya. Setelah itu lebih banyak praktik,” jelasnya.

Konsep tersebut dirancang agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi terbiasa dengan situasi kerja profesional di dapur.

APCA Bali akan membuka sejumlah kelas dengan kapasitas maksimal 12 siswa per kelas. Untuk tahap awal pada Oktober 2026, baru satu kelas yang dibuka dan antusiasme calon peserta disebut telah mencapai sekitar setengah kapasitas.

Peserta yang dapat mengikuti program ini berada pada rentang usia 16 hingga 35 tahun dengan kemampuan bahasa Inggris.

Salah satu daya tarik APCA adalah jalur pendidikan yang diarahkan menuju industri kuliner internasional. Peserta akan mendapatkan pendidikan dengan kurikulum berstandar global serta sertifikasi City & Guilds dari London.

Program ini juga membuka peluang bagi peserta untuk mendapatkan pengalaman internasional, termasuk kesempatan magang di negara seperti Prancis dan Belgia.

Menurut Louis, pendidikan tersebut diharapkan menjadi pintu bagi generasi muda Bali dan Indonesia untuk memiliki kompetensi yang dapat digunakan dalam membangun karier di berbagai negara.

Baca Juga :  Fakultas Hukum Universitas Udayana Selenggarakan Yudisium Periode Agustus 2023

“Karena kami ingin membawa putra-putri Indonesia agar mampu bersaing dan meningkatkan derajat mereka di panggung internasional,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah alumni APCA telah bekerja di industri dengan kemampuan profesional dan mendapatkan penghasilan di atas Rp7 juta per bulan. Namun, Louis menekankan bahwa sekolah tidak dapat menjamin keberhasilan seseorang hanya dengan mengikuti program pendidikan.

“Tugas saya sebagai guru adalah mengajarkan dari A sampai Z. Tinggal anak itu mau belajar secara serius atau tidak,” bebernya.

Louis juga melihat Bali memiliki keunggulan lain bagi peserta didik. Selain lingkungan industri hospitality yang luas, suasana Bali dinilai dapat memberikan pengalaman berbeda bagi siswa yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.

Saat ini, calon peserta APCA Bali tidak hanya berasal dari Bali. Pendaftar disebut datang dari sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan Surabaya. Kedepan, APCA juga membuka kemungkinan menerima peserta internasional.

“Kalau di Bali ini ada, kami juga membuka kesempatan untuk internasional. Bali sangat menjanjikan. Sabtu-Minggu mereka bisa ke pantai, ke gunung. Kalau di Jakarta, mau keluar saja sudah macet,” ucap Louis.

Louis juga menyoroti potensi peserta didik asal Bali. Ia mengatakan pengalaman selama membina siswa menunjukkan adanya kemauan belajar dan daya juang yang kuat.

Ia mencontohkan salah seorang peserta didiknya asal Bali yang pernah berlatih hingga malam hari untuk menghadapi kompetisi internasional. Kerja keras tersebut kemudian membuahkan hasil dengan raihan medali emas dan posisi kedua dalam kompetisi yang diikuti peserta dari sejumlah negara Asia.

“Buat saya itu menjadi bukti bahwa selain kemauan dan skill, kita sebenarnya punya semuanya. Yang kita perlukan adalah leader yang memimpin dan mengarahkan mereka,” katanya.

Baca Juga :  Fakultas Teknik Universitas Udayana Bekerjasama dengan Perumda Tirta Mangutama Terkait Program MBKM

Menurut Louis, APCA juga tidak melihat sekolah kuliner lain sebagai kompetitor. Sebaliknya, seluruh lembaga pendidikan kuliner dinilai memiliki peran bersama dalam menyiapkan generasi penerus industri.

“Saya tidak pernah melihat mereka sebagai kompetitor. Mereka adalah satu tim yang mengajar dan mendidik generasi penerus kita. Sistemnya saja yang berbeda,” pungkasnya.

APCA sendiri pertama kali didirikan pada 2010 oleh Executive Pastry Chef Niklesh Sharma bersama Master Chef asal Prancis Jean-François Arnaud, pemegang gelar Meilleur Ouvrier de France (MOF) Patisserie 2000.

APCA kemudian hadir di Indonesia pada 2019 melalui kemitraan dengan Louis Tanuhadi, yang dikenal sebagai chocolatier Indonesia dengan pengalaman lebih dari tiga dekade. Saat ini APCA telah memiliki pusat pelatihan di sejumlah negara Asia.

Dengan pembukaan kampus di Bali, APCA ingin memperluas akses pendidikan kuliner sekaligus membangun jalur baru bagi talenta Indonesia menuju industri global.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan. Terutama dukungan dari pemerintah dan sekolah-sekolah lain. Kami ingin bersama-sama mengangkat skill putra-putri Indonesia,” ujarnya.

Bagi APCA, ekspansi ke Bali bukan sekadar membuka sekolah baru. Lebih jauh, langkah tersebut menjadi upaya menghubungkan talenta lokal, kekayaan bahan pangan Bali, industri pariwisata, dan standar kuliner internasional dalam satu ekosistem pendidikan. (kbh1)

Related Posts