November 7, 2026
Seni Budaya

Dari Kisah Cinta Legendaris ke Rumah Budaya, Jejak Ni Pollok Dihidupkan Kembali di Denpasar

Denpasar-kabarbalihits

Sebuah rumah megah kini berdiri anggun di Jalan Hayam Wuruk No. 28 A, Banjar Kelandis, Denpasar Timur. Namun bangunan ini bukan sekadar hunian biasa. Di balik arsitekturnya yang kokoh, tersimpan jejak sejarah panjang tentang seni, cinta, dan peran besar dalam perkembangan pariwisata Bali.

Rumah tersebut merupakan lokasi bersejarah yang diyakini sebagai tempat awal pertemuan dua seniman lintas budaya, yakni maestro tari legendaris Bali, Ni Pollok, dan pelukis ternama asal Belgia, Adrien-Jean Le Mayeur de Merprès. Kisah cinta mereka tak hanya menjadi cerita romantis, tetapi juga simbol kolaborasi seni yang kemudian melahirkan ikon budaya, Museum Le Mayeur di Sanur.

Kini, rumah bersejarah itu dibangun kembali dengan sentuhan megah, sekaligus dilengkapi monumen patung Ni Pollok dan Le Mayeur sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan mereka. Pembangunan ini menjadi langkah nyata dalam menjaga memori kolektif tentang perjalanan seni Bali yang mendunia.

Pada Kamis (16/4/2026), rumah tersebut secara resmi disucikan melalui rangkaian upacara adat Hindu yang dipuput oleh Ida Rsi Agung Yoga Sidhi Bang Pinatih dari Griya Agung Wang Bang Pinatih, Padang Sambian, Denpasar. Upacara berlangsung khidmat, menandai dimulainya fungsi baru rumah ini sebagai ruang budaya.

Pemilik rumah, Jro Mangku I Made Astika bersama istrinya, Jro Mangku Sandra Widari, memiliki visi besar menjadikan tempat ini sebagai pusat pelestarian seni Bali, khususnya tari Legong Kelandis. Dukungan kuat juga datang dari latar belakang keduanya, di mana Astika merupakan seorang pengusaha, sementara Sandra Widari dikenal sebagai penari sekaligus pernah menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Kesenian di Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung.

Usai upacara, Jro Mangku Astika yang juga Ketua Komunitas Ni Pollok mengungkapkan bahwa rumah ini memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sejarah keluarganya. Ni Pollok, yang merupakan leluhur mereka, dikenal sebagai sosok seniman luar biasa yang membesarkan nama Legong Kelandis hingga dikenal luas. “Banyak masyarakat baru mengetahui bahwa di sinilah tempat kelahiran beliau. Sebagai generasi penerus, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mengembangkan, dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan,” ujarnya.

Ia menuturkan, sejak usia enam tahun, Ni Pollok telah menunjukkan bakat luar biasa dalam seni tari tanpa pendidikan formal. Semangat dan dedikasinya membawanya menjadi sosok penari yang disegani. Pada usia 17 tahun, pertemuannya dengan Le Mayeur menjadi titik balik penting, di mana keduanya kemudian berkarya bersama dan memperkenalkan budaya Bali ke dunia internasional.

Tak hanya di dalam negeri, Ni Pollok turut mempromosikan seni dan tradisi Bali hingga ke tingkat ASEAN, Asia, bahkan Eropa. Setiap pameran lukisan Le Mayeur kerap diawali dengan pertunjukan tari, menjadikan seni Bali sebagai daya tarik utama di mata dunia. Atas dedikasinya, Ni Pollok dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk pengakuan sebagai tokoh budaya yang berperan dalam memajukan pariwisata Bali. Warisan itulah yang kini ingin terus dijaga oleh para pewarisnya.

Ke depan, rumah ini direncanakan menjadi “rumah budaya” yang akan difungsikan sebagai tempat dokumentasi perjalanan hidup Ni Pollok, sekaligus ruang latihan bagi generasi muda untuk mempelajari tari Legong Kelandis. “Kami ingin anak-anak bisa belajar di sini, mengenal sejarahnya, dan melanjutkan perjuangan beliau. Ini bukan sekadar rumah, tetapi tempat tumbuhnya seni,” tambah Jro Mangku Astika.

Rangkaian upacara yang digelar pun tidak sederhana. Diawali dengan upacara Bhuta Yadnya berupa caru panca sata sebagai bentuk harmonisasi dengan alam, dilanjutkan dengan upacara mlaspas sebagai penyucian bangunan baru. Di area merajan, juga dilaksanakan upacara mendem pedagingan dan pasupati sebagai simbol pemberian jiwa spiritual pada bangunan.

Sulinggih Pemuput Karya, Ida Rsi Agung Yoga Sidhi Bang Pinatih mengatakan, berbagai sarana upacara seperti banten pregembal, bebangkit, hingga meguru bendu turut digunakan sebagai simbol permohonan maaf dan penyucian secara sekala-niskala. Keseluruhan prosesi ini bertujuan memohon anugerah kerahayuan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, agar tempat ini membawa keberkahan bagi pemilik dan masyarakat.

Dengan berdirinya kembali rumah bersejarah ini, Denpasar tak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi masa depan seni Bali agar tetap hidup, berkembang, dan dikenal dunia.(kbh2)

Related Posts