November 5, 2026
Daerah Peristiwa

Sampah Kiriman “Menggunung” di Pantai Kedonganan

Badung-kabarbalihits

Fenomena kiriman sampah kembali menghantam pesisir Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung. Sejak akhir Desember 2025 dan mencapai puncaknya pada Maret 2026, tumpukan sampah yang didominasi plastik terus menepi dan mencemari garis pantai.

Akumulasi sampah yang tak kunjung surut bahkan telah dikumpulkan di area sudut Dermaga Ikan Kedonganan, dengan ketinggian mencapai sekitar tiga meter.

Kepala Pasar Desa Adat Kedonganan, Wayan Suerta, mengungkapkan bahwa berbagai upaya penanganan telah dilakukan secara rutin. Mulai dari gotong royong masyarakat desa, keterlibatan siswa, hingga dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung.

“Pembersihan rutin terus dilakukan oleh desa, DLHK Badung, juga para siswa. Total sampah yang sudah diangkut mencapai sekitar 150 truk, dengan tinggi tumpukan sekitar tiga meter,” ujarnya saat ditemui di Dermaga Ikan Kedonganan, Sabtu (28/3/2026).

Menurutnya, sampah yang datang merupakan kiriman dari wilayah lain yang terbawa arus laut saat musim angin barat, sehingga sulit diprediksi waktu kedatangannya. Meski demikian, pihak desa tetap siaga dengan menggelar kerja bakti secara berkala.

“ini murni sampah kiriman, jadi tidak bisa diantisipasi. Biasanya sekitar Mei atau Juni akan berkurang karena kembali terseret ombak,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Bendesa Desa Adat Kedonganan, I Wayan Sutarja. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah kiriman merupakan siklus tahunan yang terus berulang. Bahkan, diperkirakan gelombang sampah berikutnya akan kembali terjadi pada September hingga Oktober mendatang.

“Ini menjadi polemik bagi kami di Desa Adat Kedonganan. Namun kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Badung melalui DLHK untuk penanganannya,” ungkapnya.

Selama kurang lebih empat bulan terakhir, pihak desa bersama DLHK Badung secara intensif melakukan aksi bersih-bersih di sepanjang pantai.

Di tengah kondisi ini, diharapkan berbagai pihak, termasuk komunitas lingkungan seperti Sungai Watch, dapat turut menyuarakan kondisi riil pesisir Kedonganan. Melalui gerakan Run For Rivers, Sungai Watch mendorong peningkatan kesadaran publik terhadap persoalan sampah khususnya plastik, yang mengalir dari daratan ke sungai hingga berakhir di laut.

Gerakan kolaboratif ini juga menjadi wadah sinergi antara pemerintah, komunitas, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat luas dalam mencari solusi berkelanjutan guna menjaga kelestarian ekosistem perairan. (kbh1)

Related Posts