March 25, 2026
Pendidikan

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana Temukan Spesies Baru Serangga Endemik Sumba

Denpasar – kabarbalihits

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Mahasiswa semester 4 Program Studi Agroekoteknologi, Davis Marthin Damaledo, berhasil menemukan spesies baru serangga tongkat yang diberi nama Nesiophasma davisdamaledoi.

Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Zootaxa dan menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya biodiversitas serangga Indonesia. Spesimen utama (holotipe) juga telah didaftarkan dan disimpan di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Perjalanan Davis menuju penemuan ini tidak instan. Ia mengaku ketertarikannya pada serangga sudah muncul sejak kecil, saat sering mencari serangga di kebun sekitar rumahnya. “Dari dulu saya sudah suka serangga. Waktu kecil saya sering mencari serangga di kebun tetangga,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut berkembang hingga masa SMA. Beberapa bulan setelah publikasi pertamanya tentang Nesiophasma sobesonbaii dari Timor, titik awal penemuan baru ini muncul secara tak terduga.

Pamannya di Sumba mengirimkan foto serangga ranting yang tampak berbeda. Rasa penasaran membuat Davis yakin itu merupakan spesies baru. “Saya sangat yakin itu spesies baru. Jadi saat libur sekolah, saya terbang sendiri dari Kupang ke Sumba untuk mencarinya,” ujarnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Davis menemukan spesimen pertama di Sumba Tengah dan spesimen lainnya di Sumba Timur, tepatnya di kebun milik kenalan pamannya.

Ia mengamati bahwa serangga tersebut hidup di hutan sekunder dan kebun, serta memakan daun jambu biji di alam. Davis juga mengumpulkan telur untuk diteliti lebih lanjut, sebagian ditetaskan di Kupang dan sebagian dikirim kepada mentornya, Garda Bagus Damastra, yang kemudian bekerja sama dengan peneliti Frank Hennemann.

Awalnya, spesimen ini sempat diduga sebagai spesies yang sudah dikenal. Namun Davis tetap yakin ada perbedaan yang signifikan. “Awalnya sempat dibilang ini Nesiophasma sobesonbaii, tapi saya tetap yakin ini berbeda,” jelasnya.

Setelah melalui perbandingan ilmiah, akhirnya dipastikan bahwa serangga tersebut merupakan spesies baru. Proses deskripsi hingga publikasi memakan waktu sekitar dua tahun.

Dekan Fakultas Pertanian Unud, I Putu Sudiarta, SP., M.Si., Ph.D.

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang mendorong mahasiswa aktif dalam penelitian.

Dekan Fakultas Pertanian Unud, I Putu Sudiarta, SP., M.Si., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Nama Davis kini akan terukir dan diabadikan dalam dunia ilmiah. Ini menjadi kebanggaan bagi fakultas sekaligus motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya,” ujarnya.

Sementara itu, Garda menyebut penemuan ini sebagai pencapaian penting. “Ini adalah spesies ketiga dari genus yang diketahui dari Kepulauan Sunda Kecil dan serangga tongkat pertama yang tercatat dari Sumba,” katanya.

Garda juga merupakan pendiri Indonesian Mantis and Phasmid Forum (IMPF), komunitas pecinta serangga yang turut mendukung perkembangan penelitian di Indonesia.

Serangga Nesiophasma davisdamaledoi merupakan spesies endemik Pulau Sumba, yang berarti hanya dapat ditemukan di wilayah tersebut. Penemuan ini menambah daftar kekayaan biodiversitas Indonesia yang masih sangat luas dan belum sepenuhnya terungkap.

Genus Nesiophasma termasuk dalam kelompok serangga tongkat (Phasmatodea), yang dikenal memiliki kemampuan kamuflase tinggi dengan menyerupai ranting atau bagian tumbuhan untuk menghindari predator. Di kawasan Wallacea, kelompok ini masih tergolong kurang diteliti.

Baca Juga :  Mengupas Tuntas Seputar Vaksin Pada Kucing Dalam Kuliah Umum 2 Minpro P-LO FKH Unud Tahun 2022

Spesies yang ditemukan Davis memiliki ciri khas ukuran tubuh sekitar 13–18 cm, dengan jantan berwarna hijau kebiruan serta tidak memiliki garis merah pada bagian samping thorax. Serangga ini hidup di hutan sekunder dan kebun, serta diketahui memakan daun jambu biji.

Selain itu, spesies ini memiliki kemampuan berkembang biak secara seksual maupun partenogenesis, yaitu reproduksi tanpa pembuahan, yang menjadi salah satu keunikan serangga tongkat.

Bagi Davis, pencapaian ini terasa sangat personal. Ia mengaku tidak menyangka perjalanan dari hobi masa kecil dapat membawanya pada publikasi ilmiah internasional. “Saya jujur masih tidak menyangka, dari anak kecil yang suka menangkap serangga di kebun, sekarang bisa terlibat dalam dua publikasi spesies baru,” katanya.

Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang menyadari betapa kayanya biodiversitas Indonesia. “Masih sangat banyak potensi spesies baru di Indonesia yang belum dideskripsikan,” tambahnya.

Baca Juga :  Wisuda IX LPK Glory International Cruise Knowledge, Cetak SDM Pariwisata Kompeten

Dengan dukungan Fakultas Pertanian Unud serta semangat riset mahasiswa seperti Davis, peluang penemuan baru di bidang biodiversitas Indonesia diyakini masih sangat terbuka lebar.(kbh5)

Related Posts