
Ekayana Kembali Nahkodai Desa Adat Penatih, Dikukuhkan Sakral Jelang Nyepi Caka 1948
Denpasar-kabarbalihits
Setelah kembali dipercaya oleh krama desa, I Wayan Ekayana, S.Sos resmi dikukuhkan sebagai Bendesa Adat Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar untuk masa bakti 2026–2031. Prosesi pengukuhan berlangsung sakral dan khidmat, diawali dengan upacara mejaya-jaya yang dipuput oleh Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa, Rabu (18/3) di Pura Penataran Agung Penatih.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian upacara Tawur Kesanga dalam menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948, menambah nilai spiritual dalam momentum pengukuhan kepemimpinan adat tersebut.
Pengukuhan Bendesa Adat Penatih dilakukan langsung oleh I Ketut Wisna selaku Bandesa Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar. Dalam kepengurusan baru ini, I Wayan Ekayana didampingi oleh jajaran prajuru adat, yakni Patajuh I Made Candra, Panyarikan I Wayan Artana, S.Ag., M.Fil.H, serta Patengen I Gusti Putu Tama Wijaya.
Prosesi pengukuhan turut disaksikan oleh berbagai unsur adat dan pemerintahan, termasuk Bendesa Alitan MDA Kecamatan Denpasar Timur, Plt. Lurah Penatih, serta para bendesa adat dari desa-desa sekitar seperti Penatih Puri, Tambawu, Anggabaya, Lap-Lap, Bekul, Taman Poh Manis, Jenah, Cengkilung, hingga Peninjoan.
Selain itu, hadir pula unsur lembaga adat lainnya seperti Kertha Desa, Sabha Desa, para Kelian Banjar, Serati, serta Pecalang yang ikut menyemarakkan jalannya upacara mejaya-jaya dan pengukuhan. Dalam pernyataannya, Bendesa Adat Penatih terpilih, I Wayan Ekayana menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan, sekaligus memperkuat keharmonisan kehidupan adat.
“Kami bersama prajuru akan terus mengharmonisasikan keseimbangan antara palemahan, parhyangan, dan pawongan demi kebahagiaan serta kesejahteraan krama Desa Adat Penatih,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan pengukuhan pada Rahina Buda Wage, Sasih Kasanga, Wuku Kelawu memiliki makna tersendiri karena telah menjadi bagian dari awig-awig yang diwariskan secara turun-temurun dan wajib dilaksanakan.
Momentum ini tidak hanya menjadi simbol keberlanjutan kepemimpinan adat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan masyarakat dalam menyambut Hari Raya Nyepi sebagai waktu refleksi dan penyucian diri.(kbh2)


