November 2, 2026
Kesehatan Lifestyle

Dari Rumah ke Pasar Dunia, Utama Spice Usung Skincare Alami Bali dan Gandeng Petani Lokal

Gianyar-kabarbalihits

Brand skincare dan aromaterapi alami asal Bali, Utama Spice, terus memperkuat komitmennya menghadirkan produk ramah lingkungan sekaligus memberdayakan petani lokal. Perusahaan yang berdiri sejak 1989 ini bahkan berhasil menembus pasar internasional seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia hingga Singapura.

Direktur sekaligus Co-Founder PT Supa Dupa Spice, Ria Templer mengatakan, Utama Spice kini memiliki hampir 200 varian produk perawatan kulit dan aromaterapi yang diproduksi di pabrik mereka di kawasan Babakan, Gianyar.

Dalam kunjungan awak media ke pabrik tersebut, Ria menjelaskan bahwa perusahaan sangat menekankan kualitas produksi dengan fasilitas yang modern.

“Di sini kami memproduksi skincare alami dan aromaterapi dengan standar kualitas tinggi. Kami juga langsung mengambil bahan baku dari petani lokal untuk mengangkat komunitas,” ujar Ria Templer, Jumat (13/3/2026).

Dari ratusan produk yang dimiliki, beberapa di antaranya menjadi produk unggulan, seperti minyak esensial, serum wajah, serta insect repellent berbahan alami yang banyak diminati konsumen.

Ria mengungkapkan perjalanan Utama Spice berawal dari kisah sederhana sang ibu, Dayu Suci, yang meracik produk alami untuk merawat anak-anaknya sekitar tiga dekade lalu.

Seiring waktu, racikan tersebut semakin dikenal dan banyak orang datang untuk memesan produk perawatan kulit dan rambut. Bahkan sejumlah hotel mewah di Bali mulai menggunakan racikan tersebut untuk kebutuhan spa.

“awalnya orang datang ke rumah untuk meminta produk alami. Lama-lama hotel seperti Four Seasons dan Banyan Tree juga memesan untuk spa mereka,” jelasnya.

Pada tahun 2000, usaha keluarga tersebut kemudian resmi menjadi perusahaan dan terus berkembang hingga memiliki pabrik produksi modern seperti saat ini.

Selain fokus pada kualitas produk, Utama Spice juga menjalin kemitraan dengan petani lokal untuk memenuhi bahan baku alami seperti patchouli (nilam), lemongrass, citronella, hingga cengkeh yang kemudian disuling menjadi minyak atsiri.

Baca Juga :  Fasilitasi Pecinta Layang-Layang, Gubernur Koster Siapkan Lahan 2 Hektar Untuk ‘Melayangan’

Menurut Ria, langkah ini sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

“Kami ingin memberi nilai tambah bagi petani. Mereka tidak hanya menanam padi, tetapi juga tanaman yang bisa disuling menjadi minyak atsiri seperti citronella atau lemongrass yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” katanya.

Namun, ia mengakui pasokan bahan baku dari Bali belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan produksi sehingga beberapa bahan masih harus didatangkan dari luar daerah.

Saat ini pabrik Utama Spice mempekerjakan sekitar 84 tenaga kerja lokal, dan jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah seiring perkembangan perusahaan.

Untuk kapasitas produksi, Utama Spice mampu menghasilkan hingga 10.000 liter produk per hari, tergantung permintaan pasar.

Ria menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap lingkungan menjadi salah satu pembeda dengan produk sejenis. Utama Spice bahkan berani menolak penggunaan bahan yang dinilai berpotensi merusak ekosistem.

“Misalnya kami tidak menggunakan minyak sandalwood karena berdampak pada hutan, dan kami juga menghindari bahan berbasis kelapa sawit,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, Utama Spice berharap produk lokal Bali tidak hanya dikenal karena kualitasnya, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap lingkungan dan pemberdayaan komunitas.

“Kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal juga bisa bersaing di pasar dunia, sekaligus membawa manfaat bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya. (kbh1)

Related Posts