
Dari Limbah ke Inovasi: Dosen Unwar Putri Setianingsih Raih Doktor Lewat Riset Minyak Atsiri Jeruk Kintamani
Denpasar-kabarbalihits
Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa kembali menorehkan capaian membanggakan. Salah satu dosennya, Dr. Ni Luh Putu Putri Setianingsih, S.Si., M.Si., resmi menyandang gelar Doktor (S3) Ilmu Pertanian usai menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor di Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Rabu (18/2).
Sidang terbuka yang digelar di Gedung Program Pascasarjana Unud tersebut menjadi puncak perjalanan akademik yang ditempuh selama kurang lebih tiga tahun enam bulan. Dalam sidang itu, Dr. Putri dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, sekaligus menegaskan kapasitas akademiknya di bidang teknologi pangan dan hasil pertanian.
Dalam disertasinya yang berjudul “Formulasi dan Karakterisasi Senyawa Bioaktif Emulsi Minyak Atsiri Kulit Jeruk Siam Kintamani”, Dr. Putri mengangkat potensi limbah kulit buah menjadi produk bernilai tambah. Ia meneliti bagaimana kulit Jeruk Siam Kintamani yang selama ini tergolong food waste dapat diolah menjadi minyak atsiri dengan kandungan senyawa bioaktif yang bermanfaat.
“Untuk disertasi saya, saya mengangkat tentang formulasi dan karakterisasi senyawa bioaktif emulsi minyak atsiri kulit Jeruk Siam Kintamani. Nantinya akan ada produk hasil olahan kulit jeruk buah Siam Kintamani,” ujarnya usai sidang.
Menurutnya, minyak atsiri dari limbah kulit jeruk tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai antiseptik alami sekaligus bahan tambahan guna meningkatkan daya simpan produk pangan. Dengan formulasi yang tepat, hasil penelitian ini diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk inovatif yang siap dipasarkan.
Ia mengakui bahwa tantangan utama dalam penelitian ini terletak pada ketersediaan serta pengolahan bahan baku. Sebagai limbah pangan, kulit jeruk memerlukan proses seleksi, ekstraksi, hingga formulasi yang cermat agar menghasilkan produk yang efisien dan berkualitas tinggi.
“Karena ini merupakan limbah food waste, kita perlu mencari bahan dalam jumlah banyak dan mengolahnya dengan tepat agar hasil produknya lebih efisien dan berkualitas,” jelasnya.
Keberhasilan Dr. Putri disambut hangat oleh pimpinan FPST Unwar. Dekan FPST Unwar, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas capaian tersebut. Ia menilai kehadiran doktor baru sangat strategis dalam mendukung penguatan akreditasi program studi, sekaligus memperkaya kepakaran di bidang teknologi pangan dan hasil pertanian.
Menurutnya, riset yang dilakukan Dr. Putri juga sejalan dengan kebutuhan pengembangan produk berbasis sumber daya lokal Bali yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Kami berharap hasil penelitian ini dapat dihilirisasi menjadi produk siap komersialisasi, sehingga memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP., turut menyampaikan rasa bangga atas lahirnya doktor baru di lingkungan Unwar. Menurutnya, capaian tersebut menjadi energi positif bagi institusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperkuat posisi akademik perguruan tinggi.
“Kelahiran seorang doktor amat penting bagi sebuah perguruan tinggi. Ini pertanda baik bagi Warmadewa dan menjadi motivasi bagi dosen lain untuk terus meningkatkan kompetensi akademiknya,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa peningkatan jumlah doktor akan berdampak signifikan terhadap proses akreditasi program studi, penguatan riset, hingga percepatan jabatan akademik menuju Guru Besar. Komitmen Unwar untuk terus mendorong dosen melanjutkan studi ke jenjang strata tiga pun akan semakin diperkuat.
Dengan lahirnya doktor baru di bidang Ilmu Pertanian ini, FPST Unwar tidak hanya menambah deretan sumber daya akademik berkualitas, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi-inovasi berbasis potensi lokal. Dari limbah kulit jeruk menjadi produk bernilai ekonomi, riset ini membuktikan bahwa inovasi dapat tumbuh dari hal sederhana, asal dikelola dengan ilmu, ketekunan, dan visi keberlanjutan. (kbh2)


