
Sambut Hari Ibu dan Tahun Baru 2026, Desa Adat Pecatu Gelar Dharma Wacana “Sutreptining Desa Adat”
Badung – kabarbalihits
Komitmen pelestarian agama, adat, seni dan budaya kembali diwujudkan Desa Adat Pecatu Kuta selatan Badung. Minggu 21 Desember 2025, desa adat yang dikenal sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang mendunia, menggelar berbagai kegiatan adat, seni, budaya hingga sosial kemanusian di Wantilan Murdha Ulangun desa adat setempat. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan tersebut, merupakan hasil kolaborasi dengan WHDI dan Pasikian Yowana Desa Adat Pecatu serangkaian menyambut Hari Ibu dan tahun Baru 2026.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan Desa Adat Pecatu yakni Dharma Wacana dengan narasumber Ida Pandita Nabe Mpu Jaya Acharya Nanda, pembinaan dan pelatihan busana adat ke pura dan udeng, pembinaan dan pelatihan Bahasa Bali, mc pengenter pemuspan dan safari kesehatan berupa donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis. Tampak hadir para pemangku lanang istri, yowana hingga anak -anak sekolah dasar yang ada di Desa Pecatu.
Kelian Desa Adat Pecatu, I Made Sumerta, SH menjelaskan berbagai kegiatan ini dirancang Baga Pawongan berkolaborasi dengan WHDI dan Pasikian Yowana serta pasraman Desa Adat Pecatu. “Adapun salah satu kegiatannya adalah dharma wacana oleh Ida Pandita Nabe Mpu Jaya Acharya Nanda dari Geriya Srongga Gianyar dengan materi Nangun Sutreptining desa adat medasar antuk pengajah Tri Hita Karana,”ungkap Made Sumerta didampingi sejumlah pengurus WHDI Desa Adat Pecatu.
Terkait tujuan kegiatan, Made Sumerta yang juga menjabat Anggota DPRD Badung mengatakan, bagaimana nantinya krama desa adat ngajegang dan melestarikan tradisi dan Budaya Bali yang adiluhung. Salah satunya pakem busana adat ke pura, termasuk pembuatan udeng lembaran yang diikuti oleh yowana, sehingga generasi penerus ini mengetahui dan mengerti makna dari pakaian ke pura. “Generasi muda tidak hanya tergantung pada udeng jadi, namun mampu membuat udeng lembaran,”beber Made Sumerta.
Dalam kegiatan ini anggota WHDI Desa Adat Pecatu lanjut Made Sumerta, juga diberikan kesempatan menunjukkan kebolehannya dengan peragaan busana adat ke pura sekaligus sebagai sosialisasi kepada masyarakat.
“Kedepan tidak hanya ibu -ibu yang tampil, bapak – bapaknya juga akan kami ikut sertakan dalam kegiatan seperti ini sebagai ajang pelestarian adat tradisi, khususnya di Desa Adat Pecatu,”imbuh Made Sumerta.

Kegiatan ini menjadi penting dan sangat tepat kata Made Sumerta, seperti diketahui di Desa Adat Pecatu untuk ayah -ayahan sangat luar biasa dengan adanya Pura Swagina, Pura Kahyangan Tiga, Dangkahyangan dan Sad Kahyangan, sehingga sangatlah lengkap.
“Sehingga tepatlah kiranya melaksanakan kegiatan ini, dalam rangka ngaturang srada bakti kehadapan Ida Betara,” papar Made Sumerta sembari berharap pakem -pakem yang telah disampaikan dalam kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Adapun safari kesehatan berupa donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis Desa Adat Pecatu bekerjasama Rotary Club Bali Jimbaran dan Rotary Club Bali Kusuma Bangsa.
Hal senada ditegaskan Kelian Baga Pawongan Desa Adat Pecatu, Nyoman Taka, kegiatan ini merupakan program lanjutan baga pawongan di penghujung tahun 2025. “Desa Adat Pecatu senantiasa membutuhkan edukasi pembinan dan pelatihan. Melalui dharma wacana, pelaksanaan pelatihan busana adat ke pura serta pelatihan MC pemuspan merupakan hal yang sesuai dengan kondisi yang ada di Desa Adat Pecatu,” ungkapnya.
Nyoman Taka yang didampingi perwakilan Paikaten Yowana Desa Pecatu Gede Pradnya Suryadipta juga menyebutkan, kegiatan ini akan menjadi agenda rutin. Suksesnya acara ini dilandasi semangat gotong royong dengan semua komponen, milai WHDI, Yowana hingga PKK Desa Pecatu.
Sementara Ida Pandita Nabe Mpu Jaya Acharya Nanda menyampaikan tantangan berat sedang dihadapi dalam membangun desa adat di Bali. Sebab Pawongan (manusia) sebagai pemegang titik sentral sesuai Konsep Tri Hita Karana yang semestinya mampu memetakan Tri Hita Karana dalam dirinya. Namun tidak sedikit yang tidak mampu mengendalikan Indria (keinginan). Kbh6


