January 26, 2026
Seni Budaya

Pameran “la pHiye”: Pertanyaan yang Menyadarkan, Daniel Kho Ajak Publik Bercermin Lewat Warna dan Humor

Gianyar-kabarbalihits

Seniman lukis kawakan Daniel Kho kembali menyapa publik seni rupa Bali melalui pameran bertajuk “la pHiye”: Pertanyaan yang Menyadarkan, yang digelar di Bali Moon Art and Space, Jalan Ir. Sutami, Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Pameran ini resmi dibuka pada Sabtu (13/12) malam dan langsung menarik perhatian pengunjung karena keunikan visual, pesan reflektif, serta pengalaman artistik yang berbeda dari pameran lukisan pada umumnya.

Mengusung tema yang sederhana namun menggugah, “la pHiye” diambil dari ungkapan bahasa Jawa yang berarti “bagaimana” atau “apa kabar”, sebuah pertanyaan yang menurut Daniel tidak pernah selesai ditanyakan manusia kepada dirinya sendiri. Melalui karya-karyanya, Daniel menghadirkan refleksi tentang kebingungan, kegelisahan, sekaligus harapan manusia dalam menjalani kehidupan. “Manusia itu makhluk bingung. Pertanyaan ‘pHiye?’ selalu muncul dalam percakapan, dalam hidup sehari-hari. Pameran ini saya gelar sebagai pesan akhir tahun, sekaligus bekal untuk awal tahun 2026,” ujar Daniel Kho saat pembukaan pameran.

Keunikan pameran ini tidak hanya terletak pada narasi filosofisnya, tetapi juga pada pilihan medium dan teknik visual. Daniel menggunakan warna-warna fluorescent yang mengandung fosfor, sehingga mampu menyerap cahaya dan memancarkannya kembali saat ruangan gelap. Efek pendar (glow) tersebut menciptakan pengalaman visual yang hidup tanpa memerlukan listrik tambahan, membuat lukisan seolah “bernapas” di malam hari.

Menurut Daniel, pilihan warna-warna cerah dan menyala ini juga merupakan sikap artistik terhadap kondisi dunia yang sarat konflik. “Hidup itu lebih berwarna kalau kita mau berhenti dari perang yang tidak ada habisnya. Perang sudah cukup. Akhir tahun ini saya ingin memberi sesuatu yang berwarna-warni,” ungkapnya.

Spirit punakawan pun terasa hidup dalam karakter-karakter kosmik yang nakal, jujur, sekaligus bijak. Karya-karya ini menjadi laku visual yang menertawakan hal-hal berat dan mempertajam yang remeh. “Masalah itu selalu ada, seperti makan sehari-hari. Lha pHiye?” ujar Daniel, mengajak pengunjung bercermin sambil tersenyum kecil.

Baca Juga :  Wujudkan Kabupaten Badung Bebas Korupsi Dengan Penerapan Sistem Cashless, Pj. Sekda Resmikan Operasional Sistem Parkir Non Tunai di Areal Parkir Pantai Kuta

Kurator pameran, Aricadia, menilai kehadiran Daniel Kho dalam pameran ini seperti “kraker”: renyah, jenaka, namun sarat makna. Ia menyebut tutur visual Daniel sangat “Njawani”, etis, lembut, dan lihai mengemas persoalan berat menjadi terasa ringan. Hal itu tercermin dalam tema-tema pamerannya yang menggunakan ungkapan sehari-hari seperti “mboooooh”, “owalah”, “yobHen”, hingga “la pHiye”.

“Meski berarti ‘apa kabar?’ atau ‘bagaimana solusinya?’, Daniel menjadikannya pertanyaan yang menuntun kita kembali ke diri sendiri. Humor menjadi cara mencerahkan, membuat kita berpikir sambil tersenyum. Kewarasan justru lahir dari kejenakaan,” jelas Aricadia.

Secara visual, karya-karya Daniel menampilkan figur alien-etnik dengan warna cerah yang berdialog dengan tradisi seni global, mulai dari Joan Miró, Jean Dubuffet, Takashi Murakami, hingga Yayoi Kusama. Namun, identitas lokal tetap kuat. Daniel meramu nilai Jawa, Tao, serta pengalamannya di Eropa menjadi sebuah estetika yang ia sebut Neo-Extraterrestrial-Pop—alien yang sopan, Njawani, dan menjadi cermin manusia yang kerap merasa asing terhadap dirinya sendiri.

Pemilik Bali Moon Art and Space, I Wayan Adi Mataram, menyampaikan bahwa pihaknya merasa bangga dapat menjadi ruang bagi Daniel Kho untuk memamerkan karya-karyanya. Ia menilai pengunjung tampak terkesima, terutama saat lampu dipadamkan dan lukisan-lukisan tersebut “hidup” melalui permainan cahaya. “Di situ ada pesan bahwa karya seni punya roh. Selain pameran, malam ini kami juga memperkenalkan kreasi menu lokal di restoran Bali Moon Art and Space, memadukan menu western dengan kuliner tradisional seperti lawar kambing, lawar empas, atau labi-labi,” jelasnya.

Melalui pameran “la pHiye”, Bali Moon Art and Space tidak hanya menghadirkan pengalaman seni visual, tetapi juga ruang dialog, refleksi, dan perayaan kehidupan, mengajak publik seni dan penikmat kuliner untuk datang, menikmati, dan bertanya kembali pada diri sendiri: la pHiye?. (kbh2)

Related Posts