November 4, 2026
Daerah Olahraga

Atlet dan Orangtua Kecewa SK THB PBSI Bali, Jangan Matikan ‘Golden Age’ Atlet Bulutangkis Bali

Badung – kabarbalihits

Sejumlah orangtua dan atlet Bulutangkis dibawah naungan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Badung mengaku kecewa dengan keputusan dari Pengurus Provinsi PBSI Bali dalam penetapan batas usia atlet (SK THB) maksimal umur 18 tahun atau kelahiran 2007, yang akan berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali September mendatang. Keputusan itu dinilai sebagai bentuk pembangkangan atas aturan turunan dari Pengurus Besar PBSI yang mengizinkan usia 23 tahun atau kelahiran 2005, dan juga mematikan “Golden Age Atlet Bulutangkis Bali”

“Kami disini butuh kesempatan bukan batasan yang diakukan oleh PBSI Bali,”tegas Lusiana Dwi Lestari, atlet Bulutangkis Badung, usai mengikuti Musyawarah PBSI Badung bersama klub dan atlet, di Dalung, Jumat (23/5/2025).

Lusiana yang didampingi sejumlah atlet juga mengatakan bahwa pihaknya sebagai atlet sangat kecewa dengan PBSI Bali maupun KONI Bali.

“Kami disini hanya menuntut kesempatan kami untuk bisa bermain di ajang Porprov tidak lebih dari itu,” tegasnya lagi.

Hal senada disampaikan atlet lainnya, Putri Naratna Pratiwi yang mengatakan sangat kecewa dengan keputusan PBSI Bali. Putri Naratna berharap masih bisa mendapatkan keadilan sehingga bisa berlaga di Porprov Bali September mendatang.

“Kami sangat kecewa, sebagai atlet yang usianya melebihi dari SK THB yang dikeluarkan PBSI Bali. Kami disini  berharap masih bisa mendapat keadilan dari pemerintah, semoga SK THB ini nisa berubah,”harapnya sembari mengatakan tidak sedikit atlet bulutangkis yang ikut berjuang untuk agar SK THB bisa berubah. Atlet -atlet  yanh tidak bisa berlaga pada Porprov itu tersebar di beberapa kabupaten /kota di Bali diantaranya, Badung, Gianyar dan Kota Denpasar.

Sementara, Wayan Sutama selaku orangtua atlet selain menyampaikan kekecewaannya juga menyebut PBSI Bali dengan berkedok dibawah KONi Bali seharusnya PBSI Bali bercermin pada SK THB PBSI Pusat, bukan malah dilanggar.

Baca Juga :  Cegah Data Tercecer, Pemkab Buleleng Bentuk Relawan Pendataan Kemiskinan

“Dengan keputusan ini PBSI Bali telah memutus atlet -atlet potensial untuk berlaga di Porprov. Kenapa umur masimal 18 tahun? Sedangak  ke kancah nasional misalnya PON anak- anak yang beratung kan sudah dewasa, masa nati lawannya anak kecil. Harapan kami sebagai orangtua, semoga nanti ada pihak yang bisa menjembatani,”harapnya.

Orangtua atlet lainnya Made Darma, secara tegas mengatakan,  jika maksimal umur 18 tahun untuk bertanding untuk apa diadakan Porprov, akan lebih tepat Porjar saja yang dilaksanakan.

“Artinya, disini saya tahu, Ketum PBSI Bali punya kepentingan  tertentu. Bukannya dia (Ketum PBSI Bali) membantu, nah ini malah mematikan prestasi atlet yang sudah berlatih mati-matian. Kami akan terus berjuang, jika disini mentok, jalan terakhir kami akan melakukan tuntutan hukum secara perdata,”tegasnya. (Kbh6)

Related Posts