July 19, 2024
Daerah Seni Budaya

Jalani Diksa Pariksa, Sosok Seniman Multi Talenta Mantapkan Diri Jadi Sulinggih

Denpasar-kabarbalihits

Ida Bhawati I Gusti Agung Made Wisnawa bersama Ida Bhawati Istri Anak Agung Ketut Ayuningsasi melakukan proses Diksa Pariksa (Ujian Lisan) oleh PHDI Kota Denpasar di kediamannya, Jalan Buana Kubu Gang Asam XIV, Desa Tegal Harum, Denpasar Barat, pada Rabu (27/10). 

Ida Bhawati I Gusti Agung Made Wisnawa yang sebelumnya adalah sosok seniman multi talenta ini, memantapkan diri menjadi Sulinggih dalam pengabdiannya kepada umat dibidang kerohanian. 

Ketua PHDI Kota Denpasar I Nyoman Kenak menyampaikan, pelaksanaan Diksa Pariksa merupakan rangkaian dari kegiatan Upacara Mediksa. Kegiatan ini wajib dilaksanakan sebelum upacara Mediksa. 

Seorang welaka yang didiksa akan mengalami tingkatan menjadi Mangku, Pemangku, Pinandhita, Bhawati, dilanjutkan menjadi Pandita atau Sulinggih.

Disebutkan, Ida Bhawati I Gusti Agung Made Wisnawa bersama istri telah melalui proses yang panjang menuju menjadi Sulinggih dengan berbagai tahapan. 

“Sudah 80 persen dilalui, tahapan akan mediksa menjadi seorang Sulinggih. Pertama dari sisya, artinya yang bersangkutan mencari seorang Nabe. Kemudian Siksa, digembleng oleh Nabe diberikan disiplin ilmu. Setelah itu Pariksa, dalam hal ini PHDI yang datang untuk melaksanakan kesiapan beliau,” Bebernya. 

Tugas setelah menjadi seorang Pandita yang utama adalah belajar menjadi seorang Sista yang ahli dibidangnya. 

“Ahli dibidangnya baru disebut dengan Ciwa, dengan tujuan akhir yaitu moksa, kebahagian yang kekal. Disanalah tujuan dari umat Hindu,” Jelasnya. 

 

Dalam hal ini, pihaknya berharap kepada Ida Bhawati I Gusti Agung Made Wisnawa yang juga mempunyai latar belakang akademisi agar dimanfaatkan menjadi Mewarahana, yakni memberikan pencerahan kepada umat Hindu di Bali khususnya. 

“Itu tugas yang ketiga disamping Mengajia, Meyadnya, Aglama Atita, Awarahana, itu kewajiban beliau,” Pungkasnya.

Ditambahkan, tatanan PHDI tidak memiliki kewenangan untuk meneruskan seorang welaka menjadi seorang Sulinggih, sesuai dengan acuan Bhisama Nomor 3 Tahun 2002, dan Bhisama Nomor 4 Tahun 2005. 

“Kewenangan untuk meneruskan ini adalah Nabe, tapi PHDI secara legalitas formal hanya bisa menunda. Kewajiban atau hak seorang pelaksanaan acara mediksa itu hak mereka sendiri, kita hanya bisa melegalisir. Kewenangan semua itu ada pada Nabe,” Tegasnya. 

Dalam pandangannya, kemampuan yang dimiliki Ida Bhawati I Gusti Agung Made Wisnawa bersama Ida Bhawati Istri Anak Agung Ketut Ayuningsasi pada pelaksanaan Diksa Pariksa sudah sangat baik. 

“Dari sisiologi, administrasi, sampai Argapati, puja-puja sudah dikuasai sekali. Itu artinya beliau sudah siap sekali,” Imbuhnya. 

Nantinya setelah didiksa, akan diberikan SK oleh PHDI. Nama kedua Bhawati kemudian diganti (abhiseka) dengan nama kesulinggihan yang diberikan oleh sang Nabe. 

Diketahui sebagai Nabe Tapak Ida Bhawati adalah Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acarya Nanda. 

Sementara, Ida Bhawati I Gusti Agung Made Wisnawa didampingi Istri mengaku keteguhan melakukan perjalanan menuju Padiksan, murni bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dalam kualitas hidup. 

Tidak hanya sebatas muput yadnya, nantinya setelah melakukan Padiksan Ida Bhawati akan memberikan penerangan kepada umat Hindu yang sesuai diajarkan Sang Nabe. 

“Memberikan penerangan sebagai Sang Penadahan Upadesa, Ngeloka Pala Sraya, Sang Petirtan sebagai penyucian, melakukan Surya sewana untuk ngastiti jagat, mahkluk hidup alam semesta,” Ujar Ida Bhawati.

Dengan melihat situasi saat ini, kedepannya Ida Bhawati berharap dapat menyeimbangkan tiga kerangka dasar Agama Hindu, Tatwa, Susila, Upakara menuju keharmonisan. 

“Tidak hanya sekedar di Upakara, jadi sesana harus seimbang dengan Tatwanya. Dengan keseimbangan itu sehingga terjadi keharmonisan diantara kehidupan manusia,” Jelasnya. 

Nantinya sebagai seorang Sulinggih, pihaknya mengaku akan mengatur dan membagi waktu dengan baik kepada ketiga anaknya, terlebih saat ini masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang lebih dari orang tua.

“Seorang Sulinggih pun tetap manusia yang membutuhkan untuk makan, secara sosial untuk mengasuh anak dan menyekolahkan anak, salah satunya Ida Istri yang masih aktif sebagai dosen ekonomi. Sehingga tugas dari seorang Sulinggih tidak hanya muput, mengajar pun termasuk tugas daripada Sulinggih,” Papar Ida. 

Baca Juga :  Hari Anti Narkotika Internasional, Wabup Suiasa : Perkuat Komitmen dan Memperteguh Integritas Secara Personal

Pada Diksa Pariksa dihadiri juga oleh Wakil Ketua Dharma Upapati Ida Pandita Mpu Jaya Asita Santi Yoga, dan Sekretaris Dharma Upapati PHDI Kota Denpasar, Ida Pedanda Gede Kompyang Beji. 

Selanjutnya Upacara Diksa / Dwijati akan dilakukan pada tanggal 19 November 2021. (kbh1) 

Related Posts