
Ringankan Beban Umat, Yayasan Sastra Yoni Dewata Gelar Sapuh Leger Gratis bagi 60 Peserta
Badung-kabarbalihits
Komitmen melestarikan tradisi sekaligus memberikan pelayanan spiritual kepada umat Hindu diwujudkan Yayasan Sastra Yoni Dewata melalui pelaksanaan upacara Sapuh Leger secara gratis bagi 60 peserta. Kegiatan yang berlangsung di sekretariat yayasan, Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Sabtu (10/10/2026), ini menjadi upaya nyata untuk mendekatkan pelaksanaan upacara keagamaan kepada masyarakat tanpa terbebani biaya.
Upacara Sapuh Leger merupakan salah satu ritual ruwatan dalam tradisi Hindu Bali yang berkaitan dengan penyucian diri, khususnya bagi umat yang lahir pada Wuku Wayang. Pelaksanaan ritual ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sekaligus memahami makna filosofis yang terkandung dalam tradisi leluhur.
Menariknya, seluruh peserta mengikuti upacara tanpa dipungut biaya sepeser pun. Antusiasme masyarakat pun terbilang tinggi. Meski belum dipublikasikan secara luas melalui media sosial, jumlah peserta telah mencapai 60 orang, yang berasal dari lingkungan sekitar yayasan, banjar, hingga wilayah Desa Ungasan.
Ketua Yayasan Sastra Yoni Dewata, I Made Sudana, S.Ag., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen yayasan untuk memberikan pelayanan kepada umat, terutama dalam membantu masyarakat yang selama ini menganggap pelaksanaan upacara keagamaan membutuhkan biaya besar. “Tujuan kami mengadakan upacara Sapuh Leger ini adalah memberikan pelayanan kepada umat dalam berupacara yang selama ini dianggap susah dan mahal. Kami ingin memberikan solusi bahwa upacara sebenarnya bisa dijangkau, tergantung bagaimana kita memulai dan memahami upacara itu sendiri,” ungkapnya.
Menurut Sudana, pelaksanaan upacara secara gratis ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk kepedulian yayasan dalam membangkitkan kesadaran spiritual masyarakat. Pihaknya ingin agar umat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menjalankan tradisi keagamaan tanpa harus terbebani persoalan biaya.
Ke depan, Yayasan Sastra Yoni Dewata berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan serupa dengan jumlah peserta yang lebih banyak. Dengan demikian, semakin banyak umat yang dapat memperoleh pelayanan keagamaan sekaligus memahami nilai-nilai spiritual dan budaya Bali.
“Kami dari Yayasan Sastra Yoni Dewata berkomitmen untuk membangun dan membangkitkan nilai-nilai spiritual umat dalam berupacara. Harapan kami, ke depan kegiatan ini bisa menjangkau lebih banyak peserta dan memberikan keringanan bagi umat yang membutuhkan,” tambahnya.
Pelaksanaan Sapuh Leger tersebut juga dirangkaikan dengan upacara Pewintenan Dasa Guna Ganapati kepada sepasang pemangku. Kegiatan ini disaksikan Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung, Ir. I Wayan Sukarya, M.Ag, Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, S.E serta Dekan Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, M.A. Turut hadir para kelihan banjar se-Desa Ungasan.
Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Sastra Yoni Dewata dalam menyelenggarakan upacara keagamaan yang dapat diakses masyarakat secara cuma-cuma.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena tidak hanya membantu umat menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan tradisi dan praktik spiritual Hindu Bali.
Ia berharap Yayasan Sastra Yoni Dewata dapat terus berkembang dan memperluas kontribusinya kepada masyarakat. Pelayanan yang diberikan diharapkan tidak terbatas pada upacara Sapuh Leger dan pewintenan, tetapi juga mencakup berbagai bentuk pelayanan umat lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara keagamaan.
Sementara itu, Sekretaris PHDI Kabupaten Badung, I Wayan Sukarya, menjelaskan bahwa Sapuh Leger memiliki makna khusus bagi umat Hindu yang lahir pada Wuku Wayang. Dalam tradisi Bali, kelahiran pada wuku tersebut kerap dikaitkan dengan istilah melik, yang memiliki pemaknaan spiritual tersendiri.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Sapuh Leger dipahami sebagai bagian dari upaya mengarahkan potensi spiritual yang diyakini melekat pada kelahiran tersebut ke arah yang positif. “Vibrasi yang dimiliki umat yang lahir pada Wuku Wayang, yang sering kita sebut dengan melik, sangat luar biasa. Melalui pelaksanaan upacara ini, kekuatan dan vibrasi yang ada sebagai konsekuensi kelahiran tersebut diharapkan bisa diarahkan kepada hal-hal yang positif,” jelas Sukarya.
Dari perspektif akademis, Dekan Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, M.A., turut memberikan penjelasan mengenai makna filosofis Wuku Wayang dan keterkaitannya dengan pertunjukan wayang dalam tradisi Hindu Bali. Menurut Wastawa, pertunjukan wayang merepresentasikan dua sisi kehidupan, yakni karakter yang menggambarkan kebaikan dan karakter yang menggambarkan keburukan. Gambaran tersebut menjadi sarana refleksi bagi manusia untuk memahami konsekuensi dari setiap tindakan.
Melalui filosofi tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengambil hikmah dari setiap kisah yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pedoman untuk membedakan perbuatan baik dan buruk sekaligus memperkuat kesadaran dalam menjalani kehidupan. “Bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari pementasan wayang itu sendiri, sehingga nantinya menjadi bahan introspeksi dan mulat sarira untuk kehidupan yang akan datang,” ujarnya.
Pelaksanaan Sapuh Leger oleh Yayasan Sastra Yoni Dewata pun menjadi contoh upaya menghidupkan tradisi keagamaan melalui pelayanan yang berpihak kepada masyarakat. Di tengah anggapan bahwa upacara adat dan keagamaan membutuhkan biaya besar, kegiatan ini menghadirkan alternatif pelayanan yang lebih terjangkau, sekaligus menjaga agar nilai-nilai spiritual dan warisan budaya Bali tetap hidup di tengah masyarakat.(kbh2)


