
Bunga Kenanga Naik Kelas, KKN Alternatif Fakultas Farmasi Unmas Denpasar Dorong Ibu PKK Sibang Gede Olah Jadi Teh Herbal
Badung-kabarbalihits
Bunga kenanga (Cananga odorata) yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman pekarangan, bahan keperluan upacara keagamaan, maupun dijual dalam bentuk bunga segar, kini mulai dilirik sebagai produk herbal bernilai tambah. Hal tersebut diwujudkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Alternatif Fakultas Farmasi Unmas Denpasar di Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.
Melalui program bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Bunga Kenanga (Cananga odorata) melalui Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Berbasis Potensi Lokal di Desa Sibang Gede”, tim pelaksana memberikan edukasi sekaligus pelatihan kepada kelompok Ibu PKK Desa Sibang Gede mengenai pengolahan bunga kenanga menjadi teh herbal.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai salah satu upaya meningkatkan pemanfaatan potensi lokal sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat. Program ini dibimbing oleh dosen pembimbing lapangan Luh Santhi Utami Wiryani, S.Farm., M.Farm., dengan tim pelaksana yang terdiri dari I Kadek Andhyka Rama Putra dan I Made Raditya Ferdinan.
Selama ini, keberadaan bunga kenanga di lingkungan masyarakat Desa Sibang Gede cukup mudah ditemukan. Namun, pemanfaatannya masih relatif terbatas. Melalui kegiatan tersebut, bunga kenanga diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk teh herbal sederhana sehingga memiliki manfaat dan nilai tambah yang lebih luas.

Dalam sesi edukasi, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pengenalan tanaman kenanga, kandungan senyawa aktif, manfaatnya, serta alasan pemanfaatan bunga kenanga sebagai salah satu bahan baku teh herbal.
Tidak hanya teori, peserta juga diberikan materi mengenai pemilihan bahan yang tepat, proses pengolahan dan pengeringan simplisia, teknik penyimpanan, cara penyeduhan hingga pengemasan sederhana. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif dan interaktif dengan memanfaatkan media presentasi serta poster edukasi berukuran A3.
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika peserta diberikan kesempatan berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan seputar pemanfaatan bunga kenanga dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi langsung pembuatan teh herbal bunga kenanga. Demonstrasi tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai tahapan pengolahan bunga kenanga secara sederhana dan higienis hingga siap digunakan sebagai minuman herbal.

Peserta tidak hanya menyaksikan proses demonstrasi, tetapi juga terlibat dalam pengamatan dan diskusi selama kegiatan berlangsung. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi dapat diterapkan secara langsung di lingkungan rumah tangga.
Selain aspek pengolahan, peserta juga diperkenalkan pada peluang pengembangan produk secara sederhana. Mulai dari pemilihan kemasan yang lebih menarik hingga peluang pemasaran dalam skala lokal menjadi bagian dari materi kegiatan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat bahwa potensi tanaman yang tersedia di lingkungan sekitar tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, tim pelaksana melakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta sebelum dan setelah mengikuti rangkaian edukasi serta demonstrasi.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan. Selain itu, tingginya keterlibatan peserta dalam sesi pemaparan materi, diskusi, dan demonstrasi menunjukkan adanya partisipasi aktif selama proses pembelajaran.
Melalui program ini, tim KKN Alternatif Fakultas Farmasi Unmas Denpasar berharap masyarakat, khususnya kelompok Ibu PKK Desa Sibang Gede, semakin memahami potensi bunga kenanga sebagai bahan herbal dan mampu mengembangkan produk sederhana berbasis potensi lokal.
Lebih jauh, pemanfaatan bunga kenanga menjadi teh herbal diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong inovasi produk lokal, pemberdayaan masyarakat, serta peluang peningkatan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari tanaman yang tumbuh dan mudah dijumpai di lingkungan sekitar, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan baru, menciptakan inovasi, sekaligus membuka peluang usaha berbasis kearifan dan potensi lokal.


