November 3, 2026
Daerah

Yadnya Sampah di Badung: Sampah Plastik Disulap Jadi Dana Puluhan Juta untuk Upacara Adat

Badung-kabarbalihits

Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai kini justru menjadi sumber pendanaan baru bagi kegiatan adat dan keagamaan di Kabupaten Badung. Melalui program Yadnya Sampah, Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) mendorong hasil penjualan sampah plastik tidak lagi masuk ke kantong pribadi, melainkan dikumpulkan sebagai dana bersama untuk membantu pembiayaan berbagai kegiatan yadnya di tingkat banjar.

Program ini akan dijalankan melalui kerja sama dengan bank sampah yang membeli plastik bekas hasil pemilahan masyarakat. Dana yang terkumpul kemudian diarahkan untuk mendukung pelaksanaan upacara adat dan keagamaan, sehingga mampu meringankan beban biaya yang selama ini ditanggung warga.

Kepala DLHK Badung, Made Rai Warastuthi, mengatakan bahwa sistem bank sampah sebenarnya telah berjalan di sejumlah banjar di Kabupaten Badung. Namun, ke depan pemanfaatan hasil penjualan sampah akan lebih dioptimalkan dengan mengubah mekanisme penerima manfaatnya.

“Selama ini hasil penjualan sampah biasanya langsung masuk ke kas perorangan. Sekarang kami mengajak agar dana tersebut dimasukkan ke kas banjar. Nantinya bisa digunakan untuk kebutuhan piodalan atau kegiatan adat lainnya yang rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali,” ujarnya saat ditemui, Kamis (4/6).

Menurut Rai Warastuthi, potensi ekonomi dari sampah plastik ternyata cukup besar. Berdasarkan pengalaman sejumlah kelompok masyarakat yang telah menjalankan program serupa, dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan, satu orang dapat mengumpulkan hasil penjualan sampah hingga sekitar Rp.1,7 juta. Jika dikalkulasikan dalam skala banjar, nilai yang terkumpul bahkan mampu mencapai puluhan juta rupiah.

Besarnya potensi tersebut menjadi alasan utama DLHK Badung menggagas program Yadnya Sampah. Dengan pengelolaan yang baik, dana hasil penjualan sampah dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif yang berkelanjutan bagi berbagai kegiatan adat.

Baca Juga :  Gelar Yudisium ke-33, FIKOM B Universitas Dwijendra Gaungkan Gerakan Nasional Literasi Digital 

“Kalau dana itu dikumpulkan bersama dan digunakan untuk yadnya yang dilaksanakan enam bulan sekali, tentu akan sangat membantu dan meringankan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat,” jelasnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Rai Warastuthi menegaskan bahwa inti dari program ini bukan semata-mata pada nilai uang yang diperoleh, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah.

Ia menjelaskan, sampah organik dapat diselesaikan langsung di rumah melalui pengolahan mandiri, sementara sampah anorganik seperti plastik dapat dikumpulkan dan dibawa ke banjar untuk selanjutnya disetorkan ke bank sampah. Di sejumlah wilayah, kegiatan pengumpulan dilakukan saat pertemuan PKK, sementara di tempat lain dilakukan secara rutin setiap minggu.

Untuk memperkuat implementasi program tersebut, DLHK Badung akan terus melakukan sosialisasi, komunikasi, dan edukasi kepada masyarakat. Bahkan, pihaknya juga berencana menggelar lomba antarbank sampah guna mendorong partisipasi warga sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di tingkat banjar.

Perkembangan bank sampah di Kabupaten Badung juga menunjukkan tren yang positif. Jika pada tahun 2025 terdapat 98 banjar yang aktif menjalankan bank sampah, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 120 banjar.

Meski demikian, DLHK masih memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk menentukan mekanisme pengelolaan hasil penjualan sampah. Warga dapat memilih apakah dana tetap masuk ke kas pribadi atau dialihkan ke kas banjar melalui skema Yadnya Sampah.

“Kami masih memberikan pilihan. Namun yang paling penting adalah masyarakat sudah melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Itu yang menjadi tujuan utama,” katanya.

Melalui program ini, Pemkab Badung berharap paradigma masyarakat terhadap sampah dapat berubah. Sampah tidak lagi dipandang sebagai barang buangan semata, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial.

Baca Juga :  Wabup. Suiasa Hadiri Grand Final Pemilihan Duta GenRe Badung 2024

“Daripada dibuang begitu saja, padahal masih memiliki nilai ekonomis yang dapat membantu pembiayaan yadnya, tentu lebih baik dikumpulkan dan ditukarkan melalui bank sampah. Hasilnya bisa menjadi dukungan nyata bagi pelaksanaan kegiatan adat dan keagamaan,” pungkas Rai Warastuthi.

Dengan potensi pendapatan yang mampu menembus puluhan juta rupiah di tingkat banjar, Yadnya Sampah tidak hanya menjadi solusi pengurangan sampah, tetapi juga menghadirkan semangat gotong royong baru, di mana setiap botol dan plastik bekas yang dikumpulkan warga dapat bertransformasi menjadi dana suci penopang keberlangsungan tradisi dan budaya Bali.(kbh2)

Related Posts