
Tekan Hama Tikus Tanpa Racun, Bambu Indah Lepas 8 Burung Hantu Tyto Alba di Bongkasa
Badung-kabarbalihits
Upaya menekan serangan hama tikus tanpa bergantung pada pestisida kimia mulai digencarkan di Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal. Melalui kolaborasi antara pihak desa, Bambu Indah Resort, dan Yayasan Owl Tower Bali, sebanyak delapan ekor burung hantu jenis Tyto alba dilepasliarkan di area persawahan pada Senin (6/4/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian hama berbasis ekologi, sekaligus mendorong pengurangan penggunaan bahan kimia di sektor pertanian. Burung hantu yang dikenal sebagai predator alami tikus dinilai efektif menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Pemilik Bambu Indah, John Hardy, menilai penggunaan racun tikus selama ini tidak selalu efektif, bahkan berdampak buruk terhadap lingkungan.
“Racun seringkali tidak dimakan tikus, sementara dampaknya justru meluas ke organisme lain dan merusak tanah,” ujarnya.
Sebagai alternatif, pihaknya memilih pendekatan alami dengan menghadirkan kembali predator seperti Tyto alba. Dalam kondisi ideal, seekor burung hantu mampu memangsa hingga belasan tikus dalam satu malam, sehingga populasi hama dapat ditekan secara signifikan.
Putra John Hardy, Orin Hardy, menjelaskan bahwa program pelepasan burung hantu ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi bagian dari upaya besar menjaga keberlanjutan ekologi dan budaya Bali.
Ia menyebut, sekitar 40 hektare sawah di Desa Bongkasa menjadi fokus awal program, setelah dalam 2–3 tahun terakhir banyak petani mengalami gagal panen akibat serangan tikus.
Orin juga menyoroti pentingnya cara pandang terhadap sawah di Bali. Menurutnya, sawah bukan hanya pemandangan indah bagi wisatawan, melainkan bagian dari sistem ekologi dan ekspresi adat yang telah dijaga turun-temurun.
“Sebagai pelaku pariwisata, kita sangat bergantung pada keunikan Bali, termasuk sistem subak yang luar biasa. Ini bukan sekadar aset wisata, tapi juga pelajaran tentang hubungan manusia dengan alam yang sudah berjalan ribuan tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini masyarakat dihadapkan pada arus modernisasi yang mendorong penggunaan bahan kimia dan orientasi hasil jangka pendek. Namun, ia mempertanyakan dampaknya dalam jangka panjang.
“Kita harus berpikir, 50 tahun ke depan seperti apa hasilnya? Apakah sawah, kunang-kunang, burung hantu, dan ekologi Bali masih ada atau tidak,” ujarnya.
Karena itu, melalui program ini, pihaknya ingin mendorong transisi bertahap dari pertanian konvensional menuju sistem yang lebih organik, dengan melibatkan petani, subak, dan berbagai pihak.
“Sebagai investor dan pelaku usaha di Bali, kami ingin ikut bertanggung jawab menjaga alam. Pariwisata yang baik adalah yang mendukung kelestarian, bukan merusaknya,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Abiansemal, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, menegaskan bahwa kehadiran burung hantu sangat potensial dalam menekan populasi tikus yang selama ini menjadi salah satu penyebab turunnya produksi pertanian.
Ia menjelaskan, program pelepasan ini merupakan yang pertama kali dilakukan secara khusus di wilayah tersebut, meskipun secara alami burung hantu sudah lama hidup dan berkembang di beberapa desa seperti Belahkiuh. Bahkan, keberadaan burung hantu di wilayahnya kerap dijaga karena memiliki nilai kearifan lokal dan spiritual, sehingga masyarakat enggan untuk mengganggu atau memburunya.
“Yang kita harapkan, burung hantu ini bisa berkembang biak dengan baik, karena memang sudah dilatih untuk makan tikus. Seiring waktu, ini akan membantu mengurangi hama yang mengganggu tanaman padi,” jelasnya.
Ia juga mengakui, serangan hama tikus di wilayah Abiansemal tergolong cukup masif dalam beberapa waktu terakhir, bahkan hingga memengaruhi pola tanam petani. Dengan adanya pelepasan Tyto alba, diharapkan kondisi tersebut dapat berangsur membaik.
Namun demikian, ia menyoroti adanya tantangan dalam menjaga populasi burung hantu, seperti gangguan suara bising saat perayaan, hingga risiko dari aktivitas layang-layang yang dapat membahayakan burung saat terbang di malam hari.
“Ini perlu perhatian bersama, agar burung hantu bisa tetap hidup dan berkembang dengan baik di alam,” tegasnya.
Dari sisi teknis, perwakilan Yayasan Owl Tower Bali, Marbel, menjelaskan satu pasang Tyto alba mampu mengawasi area hingga 25 hektare sawah. Selain itu, burung ini hidup berkoloni dan dikenal sebagai pemburu senyap yang sangat efektif.
“Inilah predator tikus paling efektif di sawah. Terbang tanpa suara dan langsung menyerang,” ujarnya.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat. Warga diimbau untuk tidak memburu, menembak, atau membunuh burung hantu yang dilepasliarkan, karena perannya sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi hasil panen petani.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan menjaga habitat burung hantu dari gangguan seperti suara bising berlebihan, penggunaan racun, hingga aktivitas yang berpotensi membahayakan keberlangsungan hidupnya.
Dengan menjaga predator alami seperti Tyto alba, upaya pertanian berkelanjutan di Bali dapat terus berjalan, tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga melestarikan alam dan warisan budaya untuk generasi mendatang. (kbh1)


