
Artefak dan Karya Digital, Supadma Rudana Sebut Ada Kedalaman Pengalaman Pada Karya Fisik
Denpasar – kabarbalihits
President of The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana mengatakan, di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebutuhan akan koleksi dengan media yang beragam menjadi semakin nyata. Karya digital kini hadir sebagai kekuatan baru yang menawarkan kemudahan akses, reproduksi tanpa batas, serta fleksibilitas dalam penyajian. Namun, di balik segala keunggulan tersebut, artefak dan karya seni otentik tetap memiliki posisi yang tidak tergantikan.
Karya digital memang mampu memperluas jangkauan apresiasi seni, tetapi ia tidak sepenuhnya mampu menghadirkan pengalaman batin yang sama seperti ketika seseorang berhadapan langsung dengan artefak asli. Pertemuan fisik dengan sebuah karya seni menghadirkan dimensi yang lebih dalam bukan sekadar visual, melainkan pengalaman menyeluruh yang melibatkan rasa dan kepekaan.
“Dalam kehadiran langsung itu, terdapat “getaran rupa” yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebuah mahakarya tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan hingga merasuk ke dalam jiwa. Seolah-olah ada pesan tersembunyi yang tidak terdengar, namun dapat ditangkap melalui keheningan dan perhatian. Goresan, tekstur, hingga jejak tangan seorang maestro menyampaikan watak, emosi, dan perjalanan batin sang pencipta,’ ungkap Supadma Rudana saat dialog bersama sejulah media di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat (27/3/2026).
Lebih dari itu tutur Supadma Rudana yang juga Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI), karya artefak mengandung lapisan pengalaman yang melibatkan seluruh pancaindra. Ada rasa yang tertuang dalam bentuk, bahkan aroma khas yang muncul dari material dan usia karya tersebut. Semua ini menciptakan dialog intim antara karya dan penikmatnya—sebuah percakapan tanpa kata yang hanya bisa terjadi dalam kehadiran langsung.
Hal inilah yang membedakan artefak dari karya digital. Karya digital memiliki ruangnya sendiri dalam dunia seni modern, terutama dalam hal inovasi dan distribusi. Namun, ia tidak dapat sepenuhnya menggantikan kedalaman pengalaman yang ditawarkan oleh karya fisik. Artefak tetap menjadi medium yang hidup, yang mengundang manusia untuk benar-benar hadir, merasakan, dan berdialog.
“Pada akhirnya, jika kita membuka diri dan menggunakan seluruh pancaindra, kita akan menyadari bahwa seni bukan sekadar objek untuk dilihat. Ia adalah pengalaman untuk dirasakan sebuah perjalanan batin yang hanya dapat terjadi ketika kita benar-benar hadir bersama karya itu sendiri,” tukas Supadma Rudana yang dikenal sejak lama aktif dalam diplomasi seni budaya. (kbh6)


