November 2, 2026
Daerah Pariwisata

BASCOMM Gelar Workshop Strategis “Pulse and Trendline” untuk Perkuat Pasar Wisata Eropa

Badung-kabarbalihits

Seiring menguatnya posisi Eropa sebagai salah satu pasar sumber utama pariwisata Indonesia, Bali Sales and Marketing Community (BASCOMM) menyelenggarakan workshop bertajuk “Europe Market: Pulse and Trendline”, Rabu (21/1/2026).

Bertempat di Bali Sunset Road Convention Centre (BSCC), kegiatan ini diikuti lebih dari 450 profesional pariwisata dan perhotelan. Workshop ini menjadi tonggak penting dalam upaya kolektif pelaku industri pariwisata Bali untuk mengoptimalkan tingkat kunjungan serta pemesanan akomodasi dari pasar Eropa.

Di tengah dinamika pola perjalanan global yang terus berubah, workshop ini menjadi wadah diskusi sekaligus peningkatan kapasitas bagi pelaku industri, khususnya profesional di bidang penjualan (sales), pemasaran (marketing), dan revenue, agar strategi bisnis yang diterapkan selaras dengan karakter dan kebutuhan wisatawan Eropa.

Berbagai sesi diskusi difokuskan pada tiga pilar utama, yakni visibilitas (visibility), distribusi (distribution), dan konversi (conversion). Pada kesempatan tersebut, BASCOMM juga menyampaikan apresiasi kepada para mitra pendukung, antara lain DERTOUR Group, Discova, Control Union Indonesia, serta Bali Sunset Road Convention Centre, yang turut menyukseskan penyelenggaraan acara.

BASCOMM menegaskan komitmennya untuk terus menggelar workshop serupa ke depan, guna membekali para profesional industri perhotelan dengan wawasan strategis agar tetap kompetitif di tengah perubahan lanskap pariwisata global.

Managing Director Alpha Hotel Management (AHM) sekaligus Penasihat BASCOMM, Gufron, CHA, menegaskan bahwa pasar Eropa memiliki peran strategis bagi pariwisata Bali. Menurutnya, wisatawan Eropa tidak hanya penting dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas, seperti lama tinggal, daya beli, serta kecenderungan berwisata yang lebih berkelanjutan.

Selain kontribusi tersebut, pasar Eropa dinilai berperan besar dalam menjaga stabilitas pariwisata Bali, khususnya di tengah tantangan global dan lokal menjelang 2026.

Baca Juga :  Tanggulangi TBC dengan Penguatan Tim District Based Public-Private Mix

“Dalam kondisi pariwisata global maupun lokal di Bali saat ini, kita perlu mendapatkan insight yang lebih dalam mengenai kondisi pasar Eropa. Tantangan-tantangan menuju 2026 harus benar-benar dipahami,” ujar Gufron, didampingi Ketua BASCOMM Putu Arisudhiana.

Untuk memastikan akurasi informasi, BASCOMM menghadirkan narasumber kompeten langsung dari Eropa, khususnya Jerman, serta pakar dari dalam negeri. Langkah ini dilakukan agar para anggota BASCOMM memperoleh gambaran pasar berbasis data dan kondisi lapangan, bukan sekadar asumsi.

“Ini memberikan konfirmasi tentang kondisi yang sebenarnya, bukan sekadar kabar burung tanpa data dan fakta,” pungkasnya.

Salah satu narasumber, Erkan Tuncaakar (Product Manager Asia, DERTOUR Group), mewakili salah satu grup perjalanan terbesar di Eropa, memaparkan analisis mendalam terkait pasar Eropa. Ia menyoroti meningkatnya minat terhadap wisata berkelanjutan (sustainable travel) serta ekspektasi spesifik wisatawan Eropa, yang tetap menjadi demografi loyal dengan tingkat pengeluaran tinggi di Bali.

Namun demikian, ia menilai ketidakpastian politik dan kondisi global menjadi tantangan utama sektor pariwisata karena berpengaruh langsung terhadap keputusan perjalanan. Banyak calon wisatawan cenderung menunda pemesanan, sehingga target okupansi tinggi tidak selalu mudah dicapai.

“Itu menjadi tantangan terbesar, karena banyak orang memilih menunggu lebih lama sebelum memutuskan untuk berlibur, sambil melihat perkembangan situasi global,” ujarnya.

Sementara itu, Nicoline Dolman (Group Contracting Leader, Discova), berbagi wawasan berbasis data mengenai strategi menarik pasar Eropa. Ia menekankan pentingnya adaptasi terhadap perilaku pemesanan wisatawan Eropa yang terus berkembang serta upaya memperluas jangkauan global perhotelan Bali.

Dolman juga menyoroti sensitivitas pasar internasional, khususnya Eropa dan Australia, terhadap isu lingkungan dan infrastruktur, seperti pengelolaan sampah dan banjir.

Menurutnya, bagi pasar Australia, Bali merupakan kompetitor wisata domestik, sehingga pemberitaan negatif justru berpotensi menguntungkan pariwisata dalam negeri Australia. Sebaliknya, wisatawan Eropa cenderung lebih serius menyikapi persoalan lingkungan, yang mendorong mereka menghindari kawasan padat di Bali Selatan dan memilih destinasi yang lebih sepi serta alami.

Baca Juga :  BPN Badung Serahkan 160 Sertifikat Tanah Aset Pemkab Badung, Wabup Suiasa Sebut Keberhasilan Sinergitas Pemkab Dengan Instansi Vertikal

Ia menambahkan, wisatawan Australia umumnya datang untuk kunjungan singkat, sementara wisatawan Eropa lebih mencari pengalaman budaya dan nilai tradisional. Oleh karena itu, pelestarian budaya Bali dinilai penting agar tidak tergerus oleh pembangunan berlebihan.

“Overdevelopment masih menjadi persoalan lama. Kawasan seperti Ubud sudah dianggap padat, sehingga pergerakan wisata kini bergeser ke daerah lain seperti Sidemen, Tabanan, hingga wilayah yang lebih jauh,” jelasnya.

Narasumber lainnya, Muhamad Rifki (Senior Business Development Executive, Control Union Indonesia), yang mewakili sponsor utama acara, menekankan pentingnya sertifikasi dan standar keberlanjutan dalam sektor perhotelan. Menurutnya, aspek tersebut menjadi faktor kunci bagi wisatawan Eropa dalam memilih akomodasi.

Workshop ini ditutup dengan diskusi panel interaktif yang membahas tantangan fluktuasi musiman serta transformasi lanskap perjalanan Eropa, guna menjaga keunggulan kompetitif pariwisata Bali.

Sebagai informasi, Bali Sales and Marketing Community (BASCOMM) merupakan komunitas profesional yang berfokus pada pengembangan kapasitas penjualan dan pemasaran di industri perhotelan Bali. Melalui edukasi, jejaring, dan kegiatan strategis, BASCOMM berupaya memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. (kbh1)

Related Posts