
Mengejar Kebahagian
Gianyar-kabarbalihits
Dalam tulisan ini saya mencoba menggambarkan bahwa hidup ini seperti mengejar bayangan kalau dikaitkan dengan keinginan manusia untuk ‘mengejar’ kebahagian. Namanya juga mengejar bayangan, pasti kita tidak akan pernah meraihnya secara utuh. Kalau kita ukur dengan skala 1 – 10, jika tingkat kebahagian seseorang, mencapai angka 10 sebagai skor tertinggi, pada akhirnya akan mentok di angka 7, bahkan bisa melorot dibawah angka 7.
Persepsi saya tentu bukan masalah benar atau salah ataupun baik buruk. Saya hanya mencoba menggambarkannya berdasarkan persepsi yang didasari sebuah konsep dari seorang ahli yang saya coba refleksikan terhadap pengamatan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa tahun yang lalu, salah seorang teman SMA saya berhasil mewujudkan cita-citanya memiliki mobil idaman yang sudah lama diimpikan yang kisaran harganya sangat lumayan. Dia senang bukan alang kepalang. Namun belum selang sebulan memilikinya dia merasa biasa-biasa saja, kalau tidak bisa dibilang bosan.. Tidak berapa lama kemudian dia bilang mau mengganti ban mobilnya dengan yang lebih besar supaya kelihatan lebih gagah. Begitu pula dia juga mengganti audionya mobilnya dengan yang lebih canggih. Dan dia juga merasa bosan setelah selang beberapa saat.
Hingga tibalah saatnya dia mesti men-SAMSAT mobilnya. Dan dia pun mengeluh, “Aduh, pengeluaran lagi.” Dan kebetulan pada saat itu dia memang lagi banyak pengeluaran. Keluhan yang sama terlontar juga saat dia harus menservis mobilnya.
Dari cerita teman saya tadi tampaknya dia tidak bisa mengelola rasa bosannya. ‘Rasa bosan’ dalam konteks tulisan ini saya anggap sebuah ‘penderitaan’, karena rasa bosan itu jelas kebalikan dari suasana hati yang senang/bahagia.Ini menggambarkan skala seperti yang disampaikan di awal. Itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sehari seseorang bisa mengalami peristiwa dua atau tiga peristiwa berbeda. Misalnya, seseorang paginya mendapat promosi naik jabatan di tempat kerja dengan gaji yang jauh lebih besar atau mendapat bonus besar. Tentu dia akan merasa bahagia sekali. Namun sorenya dalam perjalanan pulang dari kantornya dompetnya yang berisi uang banyak dan surat-surat penting hilang jatuh dijalan atau orang tuanya mendadak sakit. Tentu bisa dibayangkan tingkat kebahagiannya akan terjun bebas menuju angka tiga bahkan dua, lalu pelan-pelan akan kembali ke angka tujuh (tercermin dari aktifitas-aktifitas yang bersifat rutinitas).
Teman saya seorang konsultan bisnis sekaligus motivator tinggal di Jakarta secara sengaja tidak memiliki akun media sosial. Dia hanya menggunakan email dan WA saja. Bahkan kalau kemana-mana cenderung menggunakan kendaraan umum, meskipun dia memiliki kendaraan pribadi. Dua anaknya sekolah di luar negeri (Jerman dan Kanada). Rumah yang sekaligus menjadi kantornya cukup besar. Maksud saya adalah dengan keadaan sosial ekonominya dia bisa menggunakan ‘privilese’nya untuk mendapatkan yang lebih banyak.
Ini adalah salah satu contoh ‘pembatasan-diri’ (self-limitation), meminjam konsepnya Mark Manson, yakni bukan kebebasan untuk memilih segala hal yang anda inginkan, melainkan bebas memilih segala hal yang hendak dilepaskan dalam hidup.
Jadi melihat contoh teman saya di atas tadi, dia secara sengaja ‘membatasi’ pilihannya agar menjadi lebih bebas atau ‘merdeka’ karena tentu saja dengan pilihannya itu dia punya lebih banyak waktu dan energi untuk mengerjakan hal-hal yang memang membuat dia senang atau bahagia.
Seorang warga di kampung saya, sebut saja namanya Mudalara. Kesehariannya sangat sederhana. Bagi kebanyakan orang, terutama yang menjadikan materi sebagai standar sukses, maka keseharian Mudalara dianggap aneh. Pekerjaannya tidak jelas dan kesehariannya sangat sederhana. Banyak orang dikampung mencemohnya, hebatnya Mudalara tidak pernah marah atau dendam. Namun bagi yang mengenalnya secara lebih mendalam maka Mudalara dianggap sebagai seorang ‘guru spiritual’ karena ketika berbicara masalah spiritual sangat dalam dan mengena tanpa kesan menggurui.
Menariknya juga, Mudalara tidak pernah mengeluh tentang hidupnya, misalnya mengatakan, “Keweh san alian-alian”, “Gae ape dik jemak” (“Hidup saya kok susah ya”, “Kerjaan apa yang mesti saya ambil ya”), padahal sejatinya dia memang tidak mempunyai pekerjaan jelas, hanya membantu istrinya yang berjualan makanan ringan dan sekali waktu mengandalkan uluran tangan teman-temannya. Dia juga tidak pernah mengeluh, ketika misalnya menderita sakit. Ini jelas sebuah fakta yang bertolak belakang ketika kita bercermin pada keadaan secara umum, dimana seseorang yang memiliki usaha misalnya, langsung mengeluh ketika suatu ketika ada sedikit penurunan omset atau kunjungan konsumen.
Hingga saat menghembuskan nafas terakhir akibat sesak nafas, Mudalara tidak pernah mengeluhkan sakitnya dan berpesan kepada anak-anaknya agar tidak pernah bersedih seperti halnya yang bersangkutan tetap tenang dan tidak panik menghadapi sakitnya.
Kesimpulan
Ada beberapa premis yang bisa dikemukakan dalam hal ini. Sebuah kesenangan atau kebahagian, seberapa tinggipun, beberapa waktu kemudian akan turun, misalnya kalau kita pakai rentang angka; dari angka 10 kemudian akan turun ke angka 7, bahkan bisa saja melorot ke bawah angka 7. Dan begitu seterusnya berulang-ulang sejalan dengan setiap hal atau pengalaman yang dirasakan. Artinya kalau kenikmatan itu dikejar tidak akan ada habisnya. Ibarat rasa haus yang tidak akan pernah terpuaskan, sehingga kalau sudah begini, maka tanpa malu-malu akhirnya melakukan tindak korupsi.
Kebahagian menyangkut kekuatan emosi alias emosi yang tidak rapuh. Misalnya tidak langsung ‘ngomel’ atau marah-marah, ketika makanan yang dipesan di sebuah rumah makan atau restoran agak keasinan, dan begitu pula tidak langsung merasa diri terbang di atas awan (merasa diri penting) hanya ketika menjadi pelopor dalam gerakan kebersihan memungut sampah plastik. Dan tentu saja tidak banyak mengeluh.
Kebahagian adalah justru ketika kita mampu memilih untuk lebih ‘melepas’ apa yang diinginkan, dan bukan memilih untuk meraih segala yang diinginkan. Dengan kata lain, semakin sedikit pilihan, maka semakin ‘merdeka’ kita sebagai manusia. Jadi, masih mau mengejar kebahagian?
Riwayat penulis :
Putu Semiada
Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1990), sempat lama bekerja sebagai penerjemah di sebuah kantor perencanaan lanskap dan ‘nyambi’ sebagai pramuwisata paruh waktu. Saat ini mengelola sebuah sekolah bahasa Inggris. Sudah menulis 3 buah buku bertema ‘self-help’ ‘Lagasan Bayune’, Tegtegan Bayune’ dan ‘, ‘Lemesin Bayune’.


