Seni Budaya

Klungkung-kabarbalihits

Bali tidak hanya dikenal sebagai pulau eksotis dengan panorama alam menakjubkan, tetapi juga sebagai tanah peradaban tua yang menyimpan kekayaan nilai-nilai luhur. Di balik gemerlap pariwisata dan modernitas yang kian pesat, terdapat sebuah warisan sosial-spiritual yang menjadi penopang identitas masyarakat Hindu Bali selama berabad-abad, yakni “Pasemetonan”.

Pasemetonan merupakan ikatan kekeluargaan, persaudaraan, dan kebersamaan berdasarkan garis leluhur (purusa). Namun, lebih dari sekadar pengelompokan geneologis, pasemetonan adalah pondasi sosial, spiritual, dan budaya yang memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat Bali. Dalam sistem ini, setiap warga yang berasal dari satu leluhur membentuk jaringan solidaritas, bergotong royong, dan menjaga keharmonisan bersama.

“Secara antropologis, pasemetonan mirip konsep clan dalam ilmu sosial, namun memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih kuat karena menyatu dengan sistem adat, agama, dan tradisi Bali,” terang Tokoh Penglingsir I Gusti Ler Prenawa dari Jero Sampalan Keramas yang membidangi Babad Lan Purana, yakni I Gusti Made Puja Armaya

Dalam kacamata sosiologi, pasemetonan dapat disebut sebagai wujud nyata fungsi sosial religius agama dan tradisi. Nilai yang terkandung di dalamnya mampu menjadi perekat antarwarga. Ia tidak hanya menyatukan keluarga besar berdasarkan darah, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan sosial dan spiritual.

Pasemetonan secara alami mendukung konsep Tri Hita Karana, yakni tiga hubungan harmonis antara manusia dengan sesama (pawongan), manusia dengan lingkungan (palemahan), dan manusia dengan Tuhan (parhyangan). Nilai ini mewujud dalam sikap saling menolong antaranggota pasemetonan, dalam kegiatan upacara keagamaan, serta dalam kepedulian menjaga kelestarian alam.

Para leluhur dalam pasemetonan bukan hanya figur historis, tetapi juga simbol-simbol etika, moralitas, dan karakter yang diwariskan turun-temurun. Mereka menjadi bintang penuntun dalam kehidupan spiritual sekaligus sosial masyarakat Bali.

Beberapa tokoh leluhur yang dikenal luas antara lain, Pasek Gelgel, yang melambangkan kebijaksanaan dan akar budaya rakyat. Arya Wangbang Pinatih, simbol kepemimpinan bijak dan pemersatu. Semeton Pande, melambangkan kreativitas, keterampilan, kerja keras, dan inovasi. Shri Nararya Kresna Kepakisan, simbol ketertiban, kebangsawanan, dan legitimasi politik. Shri Arya Gajah Para dan Shri Arya Getas, yang mempersatukan kekuatan dan strategi menjaga Dharma. Pasek Kayu Selem, melambangkan keberanian menghadapi kegelapan. Dalem Tarukan, dikenal sebagai tokoh karismatik dan spiritual. Arya Sentong (Arya Kenceng), simbol keperwiraan menjaga keseimbangan masyarakat. Bujangga Waisnawa, pusat spiritual dan penjaga tradisi Waisnawa. Arya Jelantik, pemimpin elegan, cerdas, dan berani. Sira Arya Kanuruhan, lambang kewibawaan dan legitimasi tradisional dan Bendesa Manikmas, simbol pemersatu desa dan figur demokratis dalam struktur sosial.

“Para leluhur ini adalah bintang-bintang Dharma yang cahayanya masih membimbing umat Hindu Bali hingga kini,” ujar Puja Armaya.

Pasemetonan bukanlah warisan statis yang hanya menjadi nostalgia masa lalu, melainkan inspirasi untuk membangun masa depan. Dalam era globalisasi yang cenderung individualistis, nilai-nilai gotong royong, solidaritas, dan keharmonisan yang diwariskan leluhur melalui pasemetonan justru menjadi modal sosial yang sangat kuat.

Konsep pasemetonan bahkan dapat diterapkan di berbagai bidang kekinian. Diantaranya adalah Pendidikan, yakni menumbuhkan budaya belajar kolaboratif yang penuh rasa kekeluargaan. Selain itu ada Organisasi, yaitu membentuk kepemimpinan kolektif yang berlandaskan rasa saling percaya, dan terakhir adalah Era digital, adalah melahirkan komunitas daring (digital clan) yang menjunjung etika, solidaritas, dan rasa memiliki bersama.

Kitab suci Hindu telah lama menekankan pentingnya kebersamaan dalam kebenaran (satyam), kebajikan (dharma), dan kasih sayang (prema). Pasemetonan menjadi perwujudan nyata dari nilai-nilai itu.

Salah satu pasemetonan besar yang memiliki sejarah panjang adalah Pasemetonan Shri Nararya Kresna Kepakisan (PSNKK). Akar sejarahnya menembus masa kejayaan kerajaan Gelgel pada abad ke-15 hingga ke-16, saat Bali diperintah oleh Dalem Sri Aji Waturenggong pada (1460–1558 M). Kala itu, kehidupan masyarakat makmur dan tertata, dipandu oleh Dang Hyang Nirartha selaku Begawanta Kerajaan Gelgel.

Pada masa tersebut, masyarakat berlomba menunjukkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur dengan membangun tempat pemujaan. Setiap pasemetonan membangun pura dalem kawitan sebagai pusat pemujaan leluhur sekaligus pemersatu pratisentana (keturunan).

Salah satu tokoh penting kala itu adalah Ki Agung Petandakan, ia adalah Patih Agung yang memimpin pasemetonan keturunan Shri Nararya Kresna Kepakisan. Beliau membangun Pura Dalem Dukuh yang kini disebut  Pura Dalem Agung Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan bertempat di Banjar Dukuh, Desa Gelgel, Klungkung, yang sampai sekarang menjadi pusat spiritual utama bagi pasemetonan ini.

Upacara piodalan pertama pura ini ditetapkan setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, yang hingga kini masih rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali.

Sejarah pasemetonan ini panjang dan kaya. Kiai Agung Petandakan sendiri merupakan putra tertua dari Kiai Agung Nyuh Aya, yang memiliki tujuh adik, di antaranya Kiai Satra, Kiai Pelanggan, Kiai Kaloping, Kiai Akah, Kiai Cacaran, Kiai Anggan, dan satu putri bernama Kiai Istri Ayu Adi.

Sekitar tahun 1383 M, Kiai Agung Nyuh Aya pindah ke Gelgel menyusul perpindahan ibu kota ke sana di bawah pemerintahan Dewa Ketut Ngelesir (Dalem Ketut Shri Semara Kepakisan).

Saudara kandung Kiai Agung Nyuh Aya yakni Pangeran Madya Asak. ia memilih menetap di Desa Kapal, Badung, dan dari garis keturunannya lahirlah Kiai Agung Manginte, tokoh penting yang berhasil memadamkan pemberontakan I Gusti Batan Jeruk dan kemudian diangkat menjadi Patih. Dari garis ini lahir Kyai Agung Widia, Patih Agung pertama yang menurunkan beberapa tokoh penting seperti Kyai Kedung, Kyai Kalanganyar, Kyai Batulepang, Kyai Basang Tamiang, dan Kyai Karang Amla.

Sementara itu, adiknya Kyai Ler Pranawa menjabat sebagai Demung di Gelgel dan menurunkan sembilan putra seperti Kyai Penida, Kyai Kamasan, Kyai Tembesi, Kyai Sibetan, Kyai Teges, Kyai Ubud, dan Kyai Basangkasa.

Ada yang juga menyebutkan bahwa Kiai Agung Manginte juga memiliki putra bernama Jro Mekel Desa Asak Karangasem. Diceritakan Jro Mekel Desa Asak Karangasem memiliki 2 putra yakni Jro Mekel Gede Asak dan Jro Mekel Gede Pasek

I Gusti Made Puja Armaya, menegaskan bahwa Pura Dalem Agung Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan merupakan pura kawitan utama yang menjadi simbol persatuan seluruh pratisentana Nararya Kresna Kepakisan.

Pangeran Nyuh Aya dan Pangeran Madya Asak dipercaya lahir di Kediri, Jawa Timur, dan datang ke Bali atas penugasan Patih Gajah Mada untuk mendampingi Adipati Bali. Ayah mereka, Shri Nararya Kresna Kepakisan, merupakan bangsawan Kediri yang setelah kekalahan Kediri dari Majapahit pada 1293 M, diangkat sebagai Arya (dari kata “Ari” yang berarti adik).

Bersama pengikut setianya, ia bermukim di Desa Pakis, Kediri, yang kemudian menurunkan wangsa Kepakisan di Bali. Nama asli beliau tak pernah tercatat dalam prasasti, hanya disebut sebagai Arya Kepakisan dalam naskah-naskah babad yang ditulis menurut kehendak raja saat itu.

Dalam Seminar Babad Lelitihan PSNKK yang digelar di Denpasar tahun 2001, diputuskan bahwa nama resmi beliau yang dipuja sebagai Betara Kawitan adalah Shri Nararya Kresna Kepakisan. Gelar “Shri” bukan diberikan di Bali, melainkan berasal dari tanah kelahirannya di Kediri, sebagai bentuk penghormatan atas martabat leluhur Kediri yang masih satu garis dengan Raja-Raja Majapahit.

Kini, generasi demi generasi keturunan beliau tetap meneguhkan bhakti dengan merawat pasemetonan dan Pura Dalem Agung Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan.

Suasana penuh khidmat tampak menyelimuti Banjar Dukuh, Desa Gelgel, Klungkung pada Minggu (7/9/2025). Ratusan warga PSNKK berkumpul dalam upacara mejaya-jaya sekaligus pengukuhan prajuru Pura Dalem Agung Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan untuk masa bakti 2025–2030.

Dalam prosesi ini, I Gusti Agung Bagus Artha Wijaya kembali dipercaya menjabat sebagai Kelian Agung. Acara turut dihadiri Bendesa Adat, Perbekel Desa Gelgel, Kelian Dusun, serta aparat Babinsa dan Bhabinkamtibmas, yang semakin menegaskan sakralitas kegiatan tersebut.

Seusai pengukuhan, Artha Wijaya menegaskan bahwa Ida Bhatara Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan tetap bersthana di Banjar Dukuh, Desa Nyuhaya, Klungkung. Ia menekankan bahwa kepengurusan periode ini tidak hanya bertugas menjaga pelaksanaan yadnya, tetapi juga membawa misi besar, yakni perluasan areal pura ke bagian timur seluas 29,1 are.

“Pura sekarang sudah terlalu sempit. Dengan perluasan ini, umat akan lebih nyaman saat sembahyang bersama. Ini juga bentuk penghormatan pada leluhur kita yang telah mewariskan pura ini sejak awal berdirinya di Gelgel,” ujar Artha Wijaya.

Pasemetonan adalah akar yang menegakkan pohon peradaban Bali, menahan badai perubahan zaman tanpa tercerabut dari nilai luhur. Ia adalah jejaring sosial-struktural yang memperkuat hubungan antarwarga sekaligus memperkokoh ikatan manusia dengan Sang Pencipta.

Di tengah derasnya arus globalisasi, pasemetonan membuktikan bahwa kekuatan masa lalu bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dijadikan cahaya menuntun masa depan. Ia adalah pelangi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menjaga Bali tetap tangguh, harmonis, dan penuh taksu.(kbh2)

Seni Budaya Sosial

Bekasi-kabarbalihits

Setelah lama dinanti, akhirnya pembangunan Krematorium di Kota Bekasi terkabulkan. Bahkan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bekasi I Gusti Made Rudhita mengaku telah mengajukan pembangunan krematorium sejak 2018 lalu.

Ditemui di Jalan Raya Perjuangan, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Senin (13/10), Rudhita mengatakan, selama ini umat Hindu di Kota Bekasi kerap kesulitan ketika mengalami kedukaan atau ada keluarga yang meninggal.

” Selama ini jika ada umat kami yang meninggal biasanya kami mengadakan kremasi ke Cibinong atau yang ke dua di Cilincing, dan cukup panjang dari 2018 kami sudah mengajukan kepada beliau (Wali Kota Bekasi) bahwa umat Hindu yang ada di kota Bekasi ini sudah berjumlah 30.000,” ujar Rudhita

Selain lokasi yang cukup jauh untuk melakukan kremasi, ia juga mengatakan bahwa dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk proses kremasi tersebut. “Selama ini kami paling sedikit menghabisi biaya untuk satu jenazah Rp 35 juta untuk sekali kremasi, itu pun belum perjalanan kami cukup jauh disamping macet, jauh, transportasinya dan segalanya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menyediakan 3.000 meter persegi lahan guna bangun krematorium pertama di wilayahnya yang terletak di Jalan Raya Perjuangan, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara. “Kita siapkan lahan seluas 3.150 meter persegi untuk membangun krematorium 2 lantai,” ujar Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Rahmat mengatakan, pihaknya membangun krematorium tersebut bertujuan untuk mempermudah umat Hindu dan agama lainnya yang membutuhkan tempat kremasi.

“Kita ambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan warga, kita sediakan fasilitasnya. Pemerintah kan fasilitator terhadap warganya baik dari persoalan perkembangan ekonomi maupun kebutuhan sosial,” ujarnya.

[irp]

Kelak krematorium ini bakal menyediakan dua oven untuk kremasi jenazah. Rahmat memperkirakan krematorium tersebut mampu mengkremasi enam jenazah dalam sehari. “Dua unit oven, kremasinya 2,5 jam. Jadi kalau umpamanya proses kremasi itu dari jam 8 sampai jam 4 atau 8 jam itu bisa 3 shift, berarti 6 jenazah apalagi kalau 24 jam jadi 2,5 jam itu selesai proses kremasi,” ungkapnya.

Dalam pembangunan ini sendiri, Pemkot Bekasi menyiapkan anggaran sebesar Rp 15 miliar untuk bangun krematorium pertama di wilayahnya. (kbh2)

Nasional

Denpasar-kabarbalihits

Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia ( DPN PERADAH Indonesia ) menjaring opini umat Hindu di Indonesia melalui jajak poling Online yang berlangsung 15-20 Mei 2020. Ada 6.376 responden yang merepresentasikan umat Hindu di Indonesia yang mengikuti poling tersebut. 

Ketua Umum Peradah Indonesia I Gede Ariawan memaparkam polling tersebut bertujuan untuk menginventarisir dan menggalang aspirasi umat Hindu terhadap kriteria calon dirjen bimas Hindu. Menurutnya penting, melibatkan partisipasi umat atas pimpinan baru di lingkungan Ditjen Bimas Hindu tersebut. 

” Polling ini penting untuk memberi kan gambaran pada umat,  harapan dan kriteria yang dibutuhkan umat. Sehingga siapapun terpilih mampu dan bisa untuk memperjuangkan aspirasi umat. Terutama masalah klasik yakni anggaran,”kata Ariawan saat pemaparan dan 

Diskusi Publik tentang Hasil Poling Online Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia 2020, Sabtu (30/5) pukul 18.00-20.00 WIB melalui media zoom meeting. 

Kegiatan diskusi ini menampilkan 3 (tiga) orang narasumber/ penanggap diantaranya Gede Pasek Suardika,SH,MH; Prof. dr. LK Suryani dan Dewa Budjana.  Lebih lanjut, Alumni IVLP Amerika Serikat ini juga menyebutkan bahwa kriteria calon dirjen yang diharapkan oleh 6.376 umat yang ikut serta dalam polling, mengharapkan sebanyak 47 % umat berharap Dirjen yang terpilih nanti mampu berjuang untuk meningkatkan anggaran pembinaan umat. Sementara 21 % berharap Dirjen dipimpin oleh sosok yang memiliki kemampuan leadership mampuni, mampu mengkomunikasikan berbagai permasalahan dengan baik, dengan semua komponen terkait, dengan ormas-ormas Hindu yang ada.

Ada juga yang menyampaikan harapannya dalam pelayanan keumatan, baik pendirian tempat ibadah (Pura dan lainnya), pelayanan adminitrasi kependudukan mencapai 13%.  Dirjen Bimas Hindu kedepan memiliki integritas yang kuat, mampu berdiri diatas semua kelompok dan golongan hanya 10% dan 9 % berharap Dirjen bisa meningkat SDM Umat Hindu. 

Pemuda kelahiran Lampung tersebut tidak membantah bahwasanya Peradah mengintervensi proses pemilihan calon Dirjen Bimas Hindu tersebut dengan Polling tersebut. karena merupakan aspirasi dari umat. Pihaknya juga menegaskan bahwa polling tersebut adalah bentuk nyata/kongkrit Peradah Indonesia untuk menyerap aspirasi umat Hindu nusantara. 

Sementara itu narasumber/penanggap diskusi, Gede Pasek Suardika menyampaikan bahwa masalah anggaran merupakan masalah yang masih ada hingga sekarang. Jika dikatakan anggaran Dirjen masih sedikit tetapi banyak anggaran yang dikembalikan/Silva, sehingga bisa dikatakan Dirjen Bimas Hindu tidak kekurangan anggaran. “Nah disini yang perlu dibicarakan adalah masalah penyerapan anggaran dan mau dibawa kemana anggaran tersebut,”katanya.

GPS sapaan akrab tokoh hindu nasional yang juga merupakan mantan anggota DPR/DPD-RI tersebut menyatakan misalnya banyak organisasi pemuda yang tidak mendapatkan anggaran yang cukup padahal organisasi ini mampu untuk meningkatkan SDM Pemuda/I Hindu. Selain itu perlu ada kebijakan mengenai anggaran tentang pasraman. Mengapa demikian? pasalnya Pasraman ini perlu diperkuat sehingga nantinya banyak melahirkan pasraman-pasraman di Indonesia dan secara otomatis banyak penyerapan SDM-SDM lulusan agama Hindu atau guru-guru agama Hindu di Indonesia. 

Sedangkan Prof. dr. LK Suryani Pensiunan Guru Besar Universitas Udayana menyampaikan pelayanan umat hindu nusantara bahwa sangat penting untuk melihat Hindu itu tidak hanya Hindu Bali ( Bali sentris) tetapi masih banyak ada umat Hindu Indonesia lainnya, bukan hanya dari Bali saja seperti Hindu Tolotang, Hindu Sidrap, Hindu Keharingan, Hindu Kejawen dan masih banyak lainnya. Menurut Founder Suryani Institute ini sebaiknya pelayanan keumatan tidak hanya dilihat pada Hindu Bali saja ataupun hanya bertolak ukur pada ritualnya tetapi justru harus meningkatkan spiritualnya. 

“Pelayanan umat tidak hanya melihat bagaimana Hindu berkembangan dan lainnya tetapi melihat pada nilainya. Misalnya kita melihat entitas agama dari keluarga dan peran seorang ibu. Ini merupakan PR besar bagi Calon Dirjen Bimas Hindu mendatang, setidaknya bisa melihat bahwa pelayanan umat itu sangat luas dari mulai lingkup yang terkecil adalah keluarga, peran seorang ibu atau orang tua dan persolaan umat yang lebih besar, “kata Psikiater ini. 

Sedangkan tokoh muda dan musisi Dewa Budjana menyampaikan bahwa peran anak muda seperti leadership dan juga peningkatan kreativitas SDM sangatlah penting. Menurutnya sosialisasi yang telah dilakukan selama ini masih berkutat pada hal yang sama dan belum mampu menarik minat anak muda untuk menonton. 

Menurut musisi Hindu murah senyum ini mengungkapkan bahwa elit Hindu harus bisa melihat bahwa penguatan SDM tidak hanya pada Pendidikan formal saja tetap juga pada Pendidikan informasi seperti misalnya memperbaikan sosialisasi baik dalam bentuk, cara dan penyampaiannya. “Mengikuti perkembangan jaman dan teknologi tentulah penting. Seorang pemimpin tidak hanya berpaku pada aturan tetapi juga bagaimana peran anak muda didalamnya untuk turut serta meningkatkan SDM, “harapnya.

Sementara itu Sekjen Peradah Indonesia A.A. Ayu Ari Widhyasari menyatakan bahwa diskusi hasil polling kriteria sosok yang diharapkan sebagai Dirjen Bimas Hindu mendatang akan di sampaikan ke Tim Seleksi Calon dirjen Bimas Hindu Kemenag RI dan Presiden Republik Indonesia melalui surat resmi Peradah Indonesia. Menurut Ari yang juga Tenaga Ahli Anggota DPR RI ini menyebutkan Diskusi Hasil Polling ini akan lebih menitikberatkan pada bagaimana keinginan masyarakat akan perubahan dalam kinerja Dirjen Bimas Hindu terpilih kedepan serta mampu mengayomi semua kelompok Hindu Nusantara. (kbh1)