Denpasar-kabarbalihits
Matahari sore perlahan merendah di ufuk, sementara semilir angin laut menyentuh lembut Pantai Karang, Sanur, Senin (10/8/2026). Di antara suara ombak dan hamparan pasir, kanvas-kanvas mulai terbentang. Kuas bergerak perlahan, menangkap warna langit, laut, pepohonan, hingga suasana pesisir Sanur.
Sore itu, Pantai Karang bukan sekadar menjadi ruang bagi para seniman untuk berkarya. Tempat tersebut menjadi ruang perjumpaan, penghormatan, sekaligus upaya untuk kembali menyalakan semangat seorang perempuan yang pernah memberikan ruang bagi perempuan-perempuan lain untuk berkarya.
Puluhan pelukis perempuan lintas generasi bersama mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berkumpul dalam kegiatan melukis bersama yang digelar komunitas seniwati di Bali. Kegiatan ini secara khusus dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan kepada Mary Northmore (1949–2025), pendiri The Seniwati Gallery of Art by Women, sebuah ruang seni yang pada era 1990-an hingga awal 2010-an menjadi rumah bagi karya dan suara para perupa perempuan di Bali.
Bagi para penyelenggara, kepergian Mary bukan berarti berakhirnya semangat yang pernah ia bangun. Justru melalui kegiatan melukis bersama inilah semangat tersebut ingin kembali dihidupkan, semangat untuk berkarya, saling mendukung, dan memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan dalam dunia seni.
Panitia kegiatan, Putu Eni Astiarini, mengatakan kegiatan melukis bersama tersebut mempertemukan para seniwati dari berbagai generasi, mulai dari seniwati muda hingga senior, serta mahasiswa dan mahasiswi ISI Bali. “Ini kegiatan melukis bersama yang diselenggarakan oleh komunitas seniwati yang ada di Bali. Kami melukis bersama di Pantai Karang, Sanur. Pesertanya dari komunitas seniwati, seniwati muda dan senior, kemudian mahasiswa dan mahasiswi ISI Bali,” ujarnya.
Para peserta tidak ditempatkan dalam satu ruang tertutup. Mereka menyebar di sekitar Pantai Karang dan menjadikan lingkungan pesisir sebagai objek yang dituangkan ke dalam kanvas. Laut, pepohonan, perahu, cahaya sore, hingga aktivitas di sekitar pantai menjadi bagian dari proses kreatif masing-masing seniman.
Namun, lebih dari sekadar aktivitas melukis, kegiatan tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih dalam. Para seniwati ingin mengenang Mary Northmore, perempuan asal Inggris yang pernah membuka pintu rumah dan ruang seninya bagi para perupa perempuan di Bali ketika keberadaan ruang khusus untuk mengembangkan dan mempromosikan karya perempuan masih sangat terbatas.
Mary Northmore, yang merupakan mantan guru dan istri pelukis Indonesia terkemuka Abdul Aziz (1928–2002), pada masa itu tinggal di kawasan Ubud. Melihat minimnya ruang yang secara berkelanjutan memberikan tempat bagi seniman perempuan, Mary kemudian mengubah bekas kediaman dan studio A. Aziz menjadi The Seniwati Gallery of Art by Women di Jalan Sriwedari No. 2B, Banjar Taman, Ubud.
Pada Desember 1991, Seniwati telah berkembang dengan sekitar 20 seniman yang berasal dari beragam latar belakang, baik pelukis yang mendapatkan pendidikan akademis maupun seniman yang tumbuh dari lingkungan desa. Tidak lama setelah berdiri, galeri tersebut bahkan menggelar pameran eksternal pertamanya di Bali Art Center, Denpasar.
Seniwati kemudian berkembang jauh melampaui sebuah galeri. Dalam waktu beberapa tahun, ruang tersebut tumbuh menjadi pusat kegiatan seni yang menyediakan ruang lokakarya, galeri, toko cendera mata, hingga studio yang dapat digunakan seniman perempuan.
Melalui Seniwati Sanggar Muda, Mary dan komunitasnya juga memberikan ruang belajar seni bagi anak-anak perempuan dari desa-desa sekitar. Mereka tidak hanya belajar melukis, tetapi juga diajak mengunjungi studio seniman, pameran, dan berbagai ruang kreatif untuk memperluas pengalaman serta menumbuhkan keberanian dalam berkarya.
Seniwati pada akhirnya menjadi ruang yang inklusif. Beragam usia, latar belakang, gaya artistik, dan kebangsaan bertemu di dalamnya. Seniwati memberikan kesempatan kepada perempuan yang tinggal di Bali untuk keluar dari keterbatasan ruang dan menyampaikan gagasan artistik mereka dengan suara sendiri.
Warisan itulah yang kini coba disentuh kembali oleh komunitas seniwati melalui kegiatan melukis bersama di Pantai Karang. “Dengan kegiatan ini kami berharap timbul lagi semangat melukis bagi kaum wanita, khususnya para seniwati. Untuk mahasiswa dan mahasiswi juga bisa bergabung sehingga menambah semangat untuk terus berkarya dan seni di Bali semakin berkembang,” kata Putu Eni.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan generasi seni yang berbeda. Para seniman perempuan yang telah lebih dahulu berkarya dapat berbagi pengalaman, sementara generasi muda mendapatkan kesempatan untuk belajar, berinteraksi, dan menemukan jejaring kreatif baru.
“Tujuan kami untuk menambah semangat, khususnya kaum wanita, agar terus berkreativitas di bidang seni, baik seni lukis, seni patung dan sebagainya. Kami juga ingin mengajak anak-anak muda untuk saling berbaur dan saling mendukung bagi perkembangan seni,” tambahnya.
Kini, ruang fisik Seniwati Gallery yang pernah menjadi tempat bernaung dan berkarya itu telah menjadi bagian dari sejarah. Setelah Mary Northmore wafat pada 2025, ruang tersebut tidak lagi hadir sebagaimana dahulu. Namun, bagi para seniwati, apa yang pernah dibangun Mary tidak seharusnya ikut berakhir bersamanya.
Semangat itu dapat tumbuh kembali melalui kanvas-kanvas baru, melalui pertemuan antargenerasi, dan melalui keberanian perempuan untuk terus menciptakan karya.
Di Pantai Karang sore itu, kuas-kuas bergerak bukan hanya untuk menangkap keindahan Sanur. Setiap goresan seolah menjadi cara sederhana untuk mengatakan bahwa gagasan Mary masih hidup.
Bahwa ruang yang pernah ia berikan mungkin telah berakhir, tetapi semangat untuk menciptakan ruang bagi perempuan dalam seni dapat terus dilanjutkan.
Dan di bawah cahaya matahari Sanur yang perlahan tenggelam, para seniwati seakan kembali menemukan satu pesan penting dari perjalanan Seniwati: sebuah ruang boleh berakhir, tetapi semangat berkarya dan saling menguatkan tidak harus ikut berhenti. (kbh2)