
Peringati 10 Tahun Berpulangnya Ida Pedanda Gede Made Gunung, Pasraman Yogādhiparamaguhya Luncurkan Mahakarya Geguritan Spiritual Sang Guru Suci
Gianyar-kabarbalihits
Suasana khidmat dan penuh spiritualitas menyelimuti Yayasan Pasraman Yogādhiparamaguhya Bali di Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar, Minggu (17/5), saat ratusan peserta memadati areal pasraman untuk mengikuti acara “Patinget Lepas Ida Bhatara Lingga (Pedanda Gede Made Gunung) ke-10 Tahun.” Lantunan Kidung Pengulem Siwa yang menggema sejak awal acara menghadirkan nuansa sakral, membawa seluruh hadirin larut dalam penghormatan mendalam kepada sosok suci yang telah meninggalkan warisan besar bagi spiritualitas dan sastra Hindu Bali.
Peringatan satu dekade kepergian Ida Bhatara Lingga ini bukan sekadar mengenang secara fisik, melainkan menjadi momentum meneguhkan kembali jejak pemikiran, ajaran, serta karya agung Almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung yang hingga kini tetap hidup di tengah masyarakat. Acara tersebut dihadiri para sulinggih, Camat Blahbatuh, bendesa adat se-Kecamatan Blahbatuh, penyuluh Bahasa Bali, serta berbagai tokoh masyarakat dan budaya.
Momen paling istimewa dalam kegiatan ini adalah bedah buku tembang geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung, sebuah manuskrip monumental yang selama ini menjadi peninggalan spiritual berharga. Karya tersebut akhirnya diperkenalkan secara resmi kepada publik melalui proses bedah buku yang dipandu oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada dari Griya Pidada Klungkung.

Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogādhiparamaguhya, Ida Bagus Made Purwita Suamem, S.S., M.Si., yang juga putra Almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk bakti generasi penerus dalam menjaga api ajaran yang diwariskan sang guru suci. “Sepuluh tahun lalu, Ida Bhatara Lingga meninggalkan kita secara sekala, namun sesungguhnya beliau hanya meninggalkan raga. Pemikiran, ajaran, dan mahakarya beliau tetap hidup dan menjadi tuntunan. Salah satunya melalui geguritan luar biasa ini,” ungkapnya.
Ia menegaskan, karya sastra tersebut memuat ajaran agama Hindu Bali yang sangat mendalam, terutama menyangkut perilaku sosial, etika, dan perjalanan dharma dalam kehidupan beragama. Geguritan itu menjadi cerminan pemikiran luhur seorang sulinggih yang tak hanya menuntun secara ritual, namun juga membangun kesadaran moral umat.
Dalam kesempatan penuh makna tersebut, keluarga besar pasraman juga memohon kepada Ida Pedanda yang hadir untuk memberikan judul resmi pada buku yang semasa hidup belum sempat diberi nama oleh penulisnya. Setelah melalui pertimbangan spiritual dan sastra, karya agung itu akhirnya resmi diberi judul “Peparikan Dharma Yatra Ida Betara Sakti Wawu Rauh.” Judul tersebut menjadi simbol perjalanan dharma dan pengabdian suci Ida Pedanda Gede Made Gunung, sekaligus penegasan bahwa karya ini adalah warisan besar yang layak diteruskan lintas generasi.
Buku tersebut berisi 508 pupuh, sebuah jumlah yang menunjukkan kedalaman pemikiran sekaligus dedikasi luar biasa penulisnya dalam merangkai ajaran melalui sastra tradisional Bali. Dalam bedah buku, Ida Pedanda Gde Putra Pidada menilai isi geguritan tersebut sebagai mahakarya besar yang sarat nilai tattwa, susila, dan bhakti.
Kegiatan ini pun menjadi lebih dari sekadar peringatan, melainkan tonggak peluncuran kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan Ida Bhatara Lingga kepada masyarakat Bali, khususnya generasi muda Hindu. Pasraman Yogādhiparamaguhya Bali menegaskan komitmennya untuk terus menjaga, menghidupkan, dan menyebarluaskan warisan spiritual tersebut agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.(kbh2)


