February 21, 2026
Seni Budaya

“Sang Bhuta Kala Dasa Bumi”, Karya Ogoh-Ogoh Organik ST Catur Abadi Banjar Dualang Desa Sibang Gede yang Siap Bersinar

Badung-kabarbalihits

Semangat gotong royong yang hangat terasa begitu kuat di Banjar Dualang, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung. Generasi muda yang tergabung dalam Sekaa Teruna (ST) Catur Abadi menunjukkan bahwa kreativitas dan tradisi bisa berjalan beriringan. Lewat tangan-tangan terampil mereka, lahirlah sebuah ogoh-ogoh megah bertajuk “Sang Bhuta Kala Dasa Bumi”, yakni karya yang bukan hanya memukau secara visual, tetapi juga sarat makna filosofis.

Pada Jumat (20/2), ogoh-ogoh dengan konsep utama “tabuh rah” ini telah dinilai oleh tim juri dalam lomba ogoh-ogoh yang digelar Pemerintah Kabupaten Badung. Ajang tersebut menjadi wadah seleksi bagi karya-karya terbaik untuk tampil di Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung dan bersaing meraih predikat juara.

Ketua ST Catur Abadi,  Banjar Dualang, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Dewa Gede Dewandi Putra Pratama, menuturkan bahwa dalam menentukan tema dan judul, para pemuda tidak berjalan sendiri. Mereka sengaja melibatkan para penglingsir atau tokoh yang dituakan di banjar setempat agar makna yang diangkat benar-benar sesuai dengan pakem dan nilai adat. “Kami perlu wawasan yang tepat terkait tema, judul, dan makna ogoh-ogoh. Karena itu, kami memohon petunjuk dari penglingsir,” ungkapnya.

Proses pengerjaan ogoh-ogoh ini memakan waktu sekitar dua bulan. Selama itu pula, bale banjar menjadi saksi semangat kebersamaan para pemuda yang hampir setiap hari bergotong royong. Menariknya, mereka berkomitmen menggunakan bahan-bahan organik tanpa sterofoam. Struktur ogoh-ogoh sepenuhnya dibuat dari ulat-ulatan dan anyaman bambu. Hampir seluruh material dan pengerjaan, mulai dari ukiran hingga proses pewarnaan, memanfaatkan potensi dan perajin lokal Desa Sibang Gede.

Tak hanya soal teknis, semangat kolektif menjadi jiwa utama pengerjaan karya ini. Semua pemuda turun langsung, berbagi tugas, saling membantu, dan belajar bersama. Dana sekitar Rp. 40 juta yang digunakan untuk pembuatan ogoh-ogoh ini berasal dari bantuan Pemerintah Kabupaten Badung. Pihak ST Catur Abadi pun menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Badung atas dukungan tersebut. Dengan penuh optimisme, mereka berharap karya “Sang Bhuta Kala Dasa Bumi” dapat tampil di Puspem Badung dan meraih hasil terbaik.

Baca Juga :  Disdikpora Buka MPLS Kabupaten Badung 2024

Sementara itu, Penglingsir sekaligus pembina pembuatan ogoh-ogoh, Dewa Ketut Sujana, menjelaskan bahwa “Sang Bhuta Kala Dasa Bumi” merepresentasikan kekuatan alam semesta dan waktu yang tak terukur, yang bersemayam di sepuluh penjuru mata angin. Kekuatan ini digambarkan dalam wujud raksasa yang menyeramkan, yakni simbol energi alam yang apabila tidak dinetralisir dapat mengganggu kehidupan manusia.

Dalam tradisi Bali, kekuatan tersebut disomia atau dinetralisir melalui upacara Bhuta Yadnya atau mecaru. Prosesi ini lazim disertai tabuh rah, yakni ritual memerciki bumi dengan darah ayam jago sebagai bentuk persembahan kepada Sang Bhuta Kala Dasa Bumi.
Momentum ini biasanya dilaksanakan saat pengerupukan yang jatuh pada Tilem Kesanga, sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Di berbagai perempatan wilayah desa adat, dilaksanakan tawur atau mecaru yang disertai tabuh rah sebagai upaya menetralisir energi negatif agar berubah menjadi kekuatan positif yang memberi keseimbangan bagi kehidupan manusia.

Dalam lomba ogoh-ogoh tahun ini, terdapat tiga kriteria utama penilaian. Pertama, dari sisi narasi atau sinopsis cerita yang diangkat. Kedua, aspek aksesoris seperti pepayasan dan busana. Ketiga, anatomi yang mencakup kreativitas, inovasi, serta konstruksi. Salah satu juri, I Gusti Ngurah Artawan, mengapresiasi peningkatan kreativitas generasi muda Badung. Menurutnya, tahun ini terlihat adanya kolaborasi antara tradisi dan kemajuan teknologi. Unsur teknologi yang diterapkan mampu memperkaya gerak ogoh-ogoh sehingga memberi nilai tambah, selama tetap mendukung esensi gerak itu sendiri.

Juri lainnya, I Putu Bayu Ambara Putra, juga melihat banyak inovasi dan referensi baru dalam karya para sekaa teruna. Kreativitas generasi muda dinilai semakin berkembang, baik dari segi bentuk, bobot karya, maupun eksplorasi teknis. Sementara itu, I Made Musna menekankan pentingnya anatomi, penguatan karakter, dan pewarnaan. Tim juri dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung tidak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan sebagai bekal peningkatan kualitas karya ke depan.

Baca Juga :  Ida Rsi Putra Manuaba sebagai pembicara di Shree Laxmi Chandi Maha Hawana -2024 di tepi Sungai Sarayu Ram Janmabhoomi Ayodhya

Di balik kompetisi dan penilaian, yang paling terasa dari Banjar Dualang adalah kebanggaan kolektif. “Sang Bhuta Kala Dasa Bumi” bukan sekadar ogoh-ogoh, melainkan simbol persatuan, penghormatan terhadap tradisi, dan bukti bahwa generasi muda mampu menjaga warisan budaya dengan cara yang kreatif dan bertanggung jawab.

Di tengah gemerlap kreativitas menjelang Nyepi, ST Catur Abadi telah menunjukkan bahwa kekuatan terbesar bukan hanya pada wujud raksasa yang mereka ciptakan, tetapi pada semangat kebersamaan yang menghidupkannya. (kbh2)

Related Posts