June 27, 2022
Opini

Nak Mula Keto

Saya masih ingat ketika dahulu saat masa kanak-kanak kami di Bali, jika kami dilihat oleh orang tua duduk di atas bantal, maka kami segera ditegur dan dilarang. Ketika kami tanyakan mengapa, maka jawabannya adalah “Nak mula keto” (Memang demikian). Hingga kini pun ungkapan itu masih ada, terutama ketika seorang anak atau seseorang bertanya kepada orang awam tentang sesuatu (misalnya terkait ritual atau tradisi), maka jawaban yang didapat adalah “Nak mula keto”. Tentu jawaban seperti ini tidak memuaskan si penanya karena tidak ada penjelasan apalagi bagi orang yang selalu berfikir memakai logika.

Namun, belakangan ini saya menemukan ada makna yang terkandung dalam jawaban itu. Apalagi setelah saya temukan, ternyata dalam konsep Barat dikenal istilah ‘isness’, yakni ‘keadaan memang demikian’. Intinya dalam ungkapan “Nak mula keto” (isness), ada makna ‘penerimaan’(acceptance), yakni sikap menerima peristiwa apapun yang terjadi di luar kemampuan kita terutama yang menimbulkan kepedihan maupun penderitaan. Lalu mengapa kita cenderung menolak segala sesuatunya terutama yang cenderung membuat kita sedih atau menderita (kehilangan, kegagalan, perpisahan, dsb)?

Pikiran

Pikiran adalah komponen penting dalam diri manusia yang menentukan arah hidup seseorang. Pikiran sekaligus merupakan tempat bercokolnya ego. Ego adalah sumber perilaku manusia yang cenderung negatif dan mendapat asupan dari emosi-emosi negatif pula, semacam kemarahan, kesedihan, keserakahan, dendam, dengki, iri hati. Contoh kecil misalnya, tetangga kita membeli mobil baru, lalu kita merasa iri. Lalu ego akan memperkuat rasa iri itu dengan menciptakan asumsi asumsi sendiri semacam; “Paling uangnya minjam di bank”, “Paling belinya nyicil”. Begitu pula saat ada kita mendengar ada orang yang membicarakan (kekurangan/kelemahan) kita di belakang, maka kita akan bereaksi tidak terima atau marah.

Pikiran cenderung menolak atau melakukan resistensi ketika itu menyangkut hal-hal atau peristiwa yang membuat kita mengalami emosi negatif. Seperti saat kita tahu ada orang yang membicarakan kita di belakang, maka pikiran akan menciptakan realitas untuk memuaskan ego, bahwa orang yang selama ini kita anggap baik ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Padahal bisa jadi sebenarnya tidak seperti itu. Bisa saja informasi tentang kita yang kita dengar biasa-biasa saja (tidak bersifat menjelekkan), namun karena disampaikan secara salah atau diplintir oleh orang yang memberitahu kita, jadinya informasi yang kita terima mengalami bias.

Maraknya media sosial juga dalam banyak hal memperkeruh situasi pikiran. Sudah banyak terjadi apa yang disebut sebagai cancel culture, yakni orang beramai-ramai menghakimi seseorang yang dianggap melakukan kesalahan atau berbeda dari orang kebanyakan, seperti kasus seorang anak muda yang memperlihatkan kondom di tempat suci, atau sekelompok ibu yang membawakan tari yang bukan tarian tradisi. Begitu pula ketika ada artis yang video mesumnya tersebar atau selebgram yang menunjukkan bagian-bagian terlarang tubuhnya, tidak sedikit yang mengecam tidak bermoral. Anehnya, mereka dikecam, tapi videonya ditonton.

Dengan demikian tidak jarang konsep baik-buruk, benar-salah menjadi ambigu. Pertanyaannya, dimana konsep “Nak mula keto” bisa berperan dalam hal ini?

Tidak Menghakimi

Dengan menerapkan konsep “Nak mula keto” membuat kita tidak buru-buru menghakimi sesuatu atau seseorang atau peristiwa yang kita temukan dalam panggung kehidupan ini. Mengacu kepada kasus video mesum artis, ya sudah jelas hal itu merupakan sesuatu yang lumrah terjadi dalam dunia keartisan. Begitu pula ketika kita menyaksikan para politikus melakukan manuver saling berebut kekuasaan, ya mesti dimaklumi karena memang dunia mereka adalah seperti itu. Kita boleh saja tidak setuju, tetapi tidak ada hal yang bisa kita lakukan terkait hal tersebut. Karena ketika kita melibatkan pikiran terhadap hal-hal semacam itu, maka pikiran melakukan penolakan. Dan penolakan akan menguras energi pikiran yang sebenarnya bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Perlu diingat bahwa kecendrungan untuk menghakimi adalah karena kita tidak mengenal secara baik obyek atau orang yang kita hakimi.

Lebih Menerima

Seperti apa reaksi kita ketika kita mau berangkat ke kantor, lalu tiba-tiba turun hujan lebat. Tidak sedikit yang ngedumel, “Sialan, kok hujan ya?”, Bisa-bisa terlambat sampai kantor nih”,  “Padahal tadi terang benderang”. Ini adalah semacam resistensi yang dilakukan oleh pikiran. Kita menolak apa yang memang sudah seharusnya terjadi. Panas dan hujan adalah siklus alam yang datangnya memang diluar kuasa manusia. Dari pada ngedumel, mungkin ada baiknya kita langsung ambil jas hujan (kalau memang berangkat pake motor), sehingga pikiran lebih ringan dan sampai di kantor kita merasa lebih plong karena tidak membawa emosi negatif dari hasil ngedumel tadi.

Kemelekatan

Sudah menjadi dorongan bahwa kita berbuat sesuatu untuk memperoleh penghargaaan diri dari faktor-faktor eksternal semacam kesuksesan, kemegahan, kemajuan, kemasyuran. Lalu, ketika dihadapkan pada kegagalan, keterpurukan, kita lalu tidak bisa terima. Ini karena kemelekatan terhadap hal-hal semacam itu dan kita mengidentikkan pikiran dengan hal-hal semacam itu. Kurang apa Siemens, Nokia, Blackberry mempertahankan diri agar bisa bertahan dalam persaingan tehnologi informasi. Toh mereka akhirnya ambruk, tergerus para pesaingnya. Tergerusnya mereka tentu saja menyenangkan pesaing-pesaing baru yang bermunculan dan lebih canggih. Jadi pada dasarnya kesuksesan selalu berdampingan dengan kegagalan. Nah, dengan konsep, “Nak mula keto”, kita diajak untuk lebih menerima hal-hal semacam itu.

Dengan demikian ada baiknya kita mulai menerapkan kearifan lokal semacam “Nak mula keto”, meskipun tidak mesti dalam semua aspek kehidupan. Caranya mungkin dengan melakukan hal-hal atau mengakses informasi yang perlu-perlu saja, seperti pernyataan seorang rekan.

“Sejak saya kurangi bermain di media sosial pikiran menjadi lebih tenang.
“Mengapa begitu?” tanya saya
Nak mula keto”, jawabnya kalem.

Riwayat Penulis :

Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1990), sempat lama bekerja sebagai penerjemah di sebuah kantor perencanaan lanskap dan ‘nyambi’ sebagai pramuwisata paruh waktu. Saat ini mengelola sebuah Sekolah Bahasa Inggris. Sudah menulis 3 buah buku bertema ‘self-help’  ‘Lagasan Bayune’, Tegtegan Bayune’ dan ‘, ‘Lemesin Bayune’.

Related Posts